Search
Wednesday 22 October 2014
  • :
  • :

Adab Masuk Masjid (Bag. 1)

Adab Masuk Masjid (Bag. 1)

Adab Di Masjid (bag. 1)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ أَوْ شَابًّا فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا أَوْ عَنْهُ فَقَالُوا مَاتَ قَالَ أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا أَوْ أَمْرَهُ فَقَالَ دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ

Dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang wanita berkulit hitam atau seorang pemuda yang biasa menyapu Masjid. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kehilangan orang itu, sehingga beliau pun menanyakannya. Para sahabat menjawab, “Orang itu telah meninggal.” Beliau bersabda, “Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?” Sepertinya mereka menganggap remeh urusan kematiannya. Beliau pun bersabda, “Tunjukkanlah kepadaku di mana letak kuburannya.” Maka para sahabat pun menunjukkan kuburannya, dan akhirnya Beliau menshalatkannya. Setelah itu, Beliau bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini telah dipenuhi kegelapan bagi penghuninya. Dan Allah benar-benar akan memberikan mereka cahaya karena shalatku atas mereka.” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ لَا رَدَّهَا اللَّهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendengar seseorang mencari barang hilang di masjid, hendaklah dia mendoakan, “Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu, karena masjid bukan dibangun untuk ini’.” (HR. Muslim)

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلًا نَشَدَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَنْ دَعَا إِلَى الْجَمَلِ الْأَحْمَرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا وَجَدْتَ إِنَّمَا بُنِيَتْ الْمَسَاجِدُ لِمَا بُنِيَتْ لَهُ

Dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya “Bahwa seorang laki-laki mencari (barang hilang) di masjid, dia berkata, ‘Siapa yang bisa menunjukkan kepada onta merah (yang hilang)?” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga kamu tidak mendapatkannya, karena masjid hanya dibangun untuk manfaat yang khusus diperuntukkan baginya.” (HR. Muslim)

Keutamaan Pergi ke Masjid Untuk Beribadah

Masjid adalah tempat ibadah kaum muslimin, mereka melakukan shalat lima waktu berjamaah di sana karena pahala yang besar yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau bersabda, “Barangsiapa berangkat pagi atau sore hari ke masjid, maka Allah akan mempersiapkan hidangan baginya di surga, setiapkali ia berangkat pagi atau sore hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan satunya lagi meninggikan derajat.” (HR. Muslim)

Bahkan barangsiapa yang rutin memakmurkan masjid dan shalat di sana, hatinya pun terikat dengannya, maka ia termasuk tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

Adab-adab di Masjid

  • Berada di masjid dalam keadaan suci dari hadats besar, seperti junub, haidh dan nifas, kecuali jika sekedar lewat (lihat surat An Nisaa’: 43).
  • Memakai wewangian (bagi laki-laki) dan memakai baju yang bagus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid.” (QS. Al A’raaf: 31)

  • Tidak memakan makanan yang membuat mulut berbau tidak sedap, seperti bawang, jengkol, pete, dsb. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ

Barangsiapa yang memakan bawang putih atau bawang merah, maka hendaklah dia memisahkan diri dari kami atau memisahkan diri dari masjid kami dan duduk di rumahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Sering-sering pergi ke masjid dan beribadah di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat tidak disukai (seperti keadaan yang sangat dingin), banyak melangkahkan kaki ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Itulah ribath.” (HR. Muslim)

  • Berdoa ketika menuju masjid, yaitu dengan doa berikut:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا

Artinya: “Ya Allah, berilah cahaya dalam hatiku, cahaya di lisanku, berilah cahaya dalam pendengaranku, berilah cahaya dalam penglihatanku, berilah aku cahaya dari belakangku, dari arah depanku, dan berikanlah cahaya dari atasku, dan arah bawahku. Ya Allah, berilah aku cahaya.” (HR. Muslim)

  • Berangkat ke masjid dengan tenang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Jika kalian mendengar iqamat dikumandangkan, maka berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang berwibawa dan jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang tertinggal maka sempurnakanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Masuk dengan kaki kanan sambil berdoa. Doa masuk masjid adalah:

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، [بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ][وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ] اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.

Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk[1]. Dengan nama Allah dan semoga shalawat[2] dan salam tercurahkan kepada Rasulullah[3]. Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku[4].”

  • Keluar masjid dengan kaki kiri sambil berdoa. Doa keluar masjid adalah:

بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ، اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

Artinya: “Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dari karunia-Mu. Ya Allah, peliharalah aku dari godaan setan yang terkutuk”. (Lihat takhrij sebelumnya, adapun tambahan: Allaahumma’shimni minasy syai-thaanir rajim, adalah riwayat Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah 129.)

  • Shalat tahiyyatul masjid sebelum duduk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

Jika seorang dari kalian masuk ke dalam masjid, maka janganlah dia duduk sebelum shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Tidak keluar dari masjid setelah azan dikumandangkan sampai shalat ditunaikan kecuali jika uzur atau terpaksa harus keluar.

عَنْ أَبِي الشَّعْثَاءِ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْمَسْجِدِ يَمْشِي فَأَتْبَعَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ بَصَرَهُ حَتَّى خَرَجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abu Sya’tsa’, ia berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di masjid bersama Abu Hurairah, dan ketika seorang muazin telah mengumandangkan azan, seseorang berdiri meninggalkan masjid sambil berjalan. Abu Hurairah terus melihatnya hingga laki-laki itu keluar dari masjid. Abu Hurairah lalu berkata, “Orang ini telah durhaka kepada Abul Qasim (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Muslim)

  • Mengisi waktu di masjid dengan beribadah, seperti berdzikr, membaca Alquran, berdoa, shalat sunat, dsb. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

Sesungguhnya ia hanya untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Alquran.” (HR. Muslim)

  • Tidak lewat di depan orang yang shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيْ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

Kalau orang yang lewat di hadapan orang yang sedang shalat mengetahui dosa yang ditanggungnya, niscaya dia berdiri selama empat puluh adalah lebih baik baginya daripada melewati orang yang sedang shalat.” (HR. Muslim)

Jika dalam shalat berjamaah, maka sutrah (pembatas) makmum adalah imam, adapun jika seseorang shalat sendiri dimana ia telah memakai sutrah, maka tidak boleh lewat di depannya kecuali di atas sutrah.

Bersambung…

Oleh: Marwan bin Musa

Maraaji’:

  • Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
  • Al Maktabatusy Syamilah
  • Kitab 9 imam (Lidwa Pusaka)
  • Hishnul Muslim
  • dll.

[1] HR. Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’ no.4591
[2] HR. Ibnu As-Sunni no.88, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani.
[3] HR. Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’ 1/528.
[4] HR. Muslim 1/494. Dalam Sunan Ibnu Majah, dari hadits Fathimah disebutkan, “Allahummagh fir li dzunubi waftahli abwaba rahmatik”, Syaikh Al Albani menshahihkannya karena beberapa syahid. Lihat Shahih Ibnu Majah 1/128-129.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *