Search
Friday 28 November 2014
  • :
  • :

Hadits Qudsi

Hadits Qudsi

Pengertian Hadis Qudsi

Istilah “hadis qudsi” terdiri dari dua kata: “hadis” dan “qudsi”. “Hadis” artinya ‘perkataan, perbuatan, atau persetujuan seseorang’, sedangkan “qudsi”, secara bahasa, artinya ‘suci’, yang selanjutnya digunakan untuk menyebut istilah yang dinisbahkan kepada Allah ta’ala.

Secara istilah, hadis qudsi adalah hadis yang diriwayatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Rabbnya (Allah).

Hadis qudsi juga sering diistilahkan dengan “hadis rabani” atau “hadis ilahi”. (Mushthalah Hadits Ibnu Al-Utsaimin, hlm. 11). Sedangkan hadis yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bukan dalam bentuk riwayat dari Allah, disebut “hadis nabawi”.

Contoh hadis qudsi

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang beliau riwayatkan dari Rabbnya, bahwa Allah berfirman,

أَناَ عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَ أَناَ مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنيِ، فَإِن ذَكَرَني فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي،

وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأِ خَيرٍ مِنهُمْ

Aku sesuai anggapan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku sendiri maka Aku akan mengingatnya pada diri-Ku, namun jika dia mengingat-Ku di sekelompok orang maka Aku akan menyebut-nyebut namanya di kelompok makhluk yang lebih baik.” (HR. Al-Bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)

Antara Alquran, hadis qudsi, dan hadis nabawi

Alquran: lafal dan maknanya dinisbahkan kepada Allah.

Hadis nabawi: lafal dan maknanya dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadis qudsi: maknanya dinisbahkan kepada Allah sedangkan lafalnya dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perbedaan Alquran dan hadis qudsi

Perbedaan Alquran dan hadis qudsi adalah sebagaimana tabel berikut (Mushthalah Hadits Ibnu Al-Utsaimin, hlm. 11–12):

No. Alquran Hadis Qudsi
1 Lafal dan maknanya dinisbahkan kepada Allah Maknanya dinisbahkan kepada Allah, sedangkan lafalnya dinisbahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
2 Telah bernilai ibadah meski semata-mata dibaca Tidak bernilai ibadah jika semata-mata dibaca. Membaca hadis qudsi bernilai ibadah jika bertujuan untuk mempelajarinya
3 Disyariatkan untuk dibaca ketika salat Tidak boleh dibaca ketika salat
4 Menjadi mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, tidak ada seorang pun yang bisa membuat kitab seperti Alquran Tidak termasuk mukjizat. Karena itu, banyak orang yang membuat hadis qudsi palsu
5 Dinukil secara mutawatir Ada yang dinukil dengan tidak mutawatir
6 Pasti sahih dan benar Ada yang sahih dan ada yang lemah

 

Referensi :

  • Al-Jami Ash-Shahih Al-Mukhtashar. Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Dar Ibnu Katsir. Beirut. 1407 H.
  • Shahih Muslim. Imam Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi. Dar Ihya At-Turats. Beirut. 1374 H.
  • Mushthalah Hadits. Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin. Dar Al-Haramain. Mesir. 1422 H.

Artike www.Yufidia.com



Ustadz Ammi Nur Baits Beliau adalah Mahasiswa Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Saat ini, beliau aktif sebagai Dewan Pembina website PengusahaMuslim.com, KonsultasiSyariah.com, dan Yufid.TV, serta mengasuh pengajian di beberapa masjid di sekitar kampus UGM.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *