Ilmu Sharf dan I’rab

Dua ilmu ini sering diistilahkan dengan “ilmu nahwu”. Secara umum, kata dalam bahasa Arab dibagi menjadi dua: kata tunggal (satu kata), misalnya: pintu, masjid, dan kunci, dan kata murakkab (frasa), misalnya: kunci pintu, pintu masjid, dan lain-lain.

Pembahasan tentang kata tunggal, menyangkut asal katanya, pola pembentukannya, dan identitas kata lainnya, diulas dalam ilmu sharf. Misalnya: kata “مذهب”; kata ini diambil dari kata “ذهاب”, sementara kata kerjanya adalah “ذهب – يذهب – اذهب”. Ilmu sharf menjadi salah satu cabang ilmu terpenting dalam bahasa Arab. Dengan ilmu sharf, seseorang bisa memahami asal suatu kata dan perubahannya, kaidah mengubah kata, kaidah membalik huruf suatu kata, dan seterusnya.

Adapun kajian tentang cara pembentukan kalimat, posisi kata, kedudukannya dalam kalimat, harakat akhirnya, dan segala hal yang terkait dengan aturan tata bahasa, dibahas dalam ilmu i’rab. Karena itu, ilmu i’rab hanya membahas tentang isim mu’rab dan fi’il mutasharrif. Sementara, isim mabni dan fi’il jamid tidak dipelajari dalam ilmu i’rab.

Pada zaman dahulu, ilmu i’rab adalah salah satu bagian ilmu nahwu, karena nahwu membahas ilmu i’rab dan sharf. Sehingga, para ahli bahasa masa silam mendefinisikan “ilmu nahwu” dengan ‘ilmu yang digunakan untuk memahami keadaan kata dalam bahasa Arab, baik kata tunggal maupun kata murakkab (frasa)’. Namun, pada perkembangannya, ilmu i’rab ini lebih dikenal dengan “ilmu nahwu”. Sehingga, pemahaman dan cakupan ilmu nahwu pada masa terakhir tidak meliputi ilmu nahwu (yang dikenal pada zaman dahulu). (Jami’ Ad-Durus Al-’Arabiyah, hlm. 2)

Artikel www.Yufidia.com