Search
Tuesday 2 September 2014
  • :
  • :

Imam Ahmad bin Hanbal (164–241 H)

Imam Ahmad bin Hanbal (164–241 H)

Nama lengkap beliau adalah “Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Asy-Syaibani”. Kun-yah beliau adalah “Abu Abdillah”, karena salah satu anak laki-laki beliau bernama Abdullah. Beliau berasal dari Bani Dzuhli bin Syaiban, suatu keturunan yang menisbahkan dirinya kepada Kabilah Bakr bin Wail. Beliau dilahirkan di Baghdad pada tahun 164 H. Di usia kecilnya, beliau menjalani hari-hari dalam keadaan yatim karena bapak beliau telah meninggal di usia muda, ketika beliau masih kecil. Bapak beliau termasuk salah satu aktivis di dunia dakwah. Dengan penuh kesabaran, ibunya mendidik beliau dan mengarahkan beliau untuk senantiasa menuntut ilmu agama. Peran ibunya telah mengantarkan beliau pada kedudukan yang tinggi disebabkan ilmu. (Tarikh Tasyri` Al-Islami, Master Text Book of Mediu, hlm. 181)

Guru dan murid Imam Ahmad

Beliau mendapatkan hadis dari Imam Asy-Syafi`i, Husyaim, Ibrahim bin Sa`ad, Sufyan bin Uyainah, Abbad bin Abbad, Yahya bin Abi Zaidah, dan masih banyak ulama lainnya yang sezaman dengan mereka. Untuk guru beliau yang dicantumkan dalam kitab Al-Musnad saja, jumlahnya, lebih dari 280 orang. Sementara, murid senior beliau, antara lain: Bukhari, Muslim, Abu Daud, Abu Zur`ah, Mathin, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Abul Qasim Al-Baghawi, dan masih banyak lagi.

Pujian untuk Imam Ahmad bin Hanbal

Jika kita mengumpulkan pujian ulama untuk Imam Ahmad maka pujian-pujian itu bisa dijadikan sebagai satu buku tersendiri. Saking banyaknya keutamaan dan keistimewaan Imam Ahmad, sampai-sampai Imam Adz-Dzahabi membawakan biografi beliau dalam kitabnya, Siyar A`lam An-Nubala’, dari halaman 177 sampai halaman 358. Selain itu, banyak ulama telah menulis biografi Imam Ahmad dalam buku tersendiri, seperti: Imam Al-Baihaqi dan Ibnul Jauzi menulis biografi beliau dalam satu jilid tebal buku khusus, sementara Syekhul Islam Al-Anshari menulis biografi beliau dalam buku yang berjilid agak tipis.

Ini menunjukkan keutamaan beliau dan ketinggian kedudukan beliau. Berikut beberapa pujian ulama terhadap beliau:

  1. Dari Abdillah, bahwa beliau mendengar Abu Zur`ah mengatakan, “Bapakmu (Ahmad) menghafal satu juta hadis.”
  2. Dari Hanbal, bahwa beliau mendengar Imam Ahmad mengatakan, “Saya menghafal segala hal yang saya dengar dari guruku, Husyaim, di masa hidupnya.”
  3. Ibrahim Al-Harbi mengatakan, “Saya melihat Imam Ahmad. Allah telah mengumpulkan–pada diri beliau–ilmu orang terdahulu dan ilmu orang sekarang.”
  4. Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Ketika saya meninggalkan Baghdad, tidaklah saya tinggalkan seseorang yang lebih mulia, lebih berilmu, dan lebih fakih melebihi Ahmad bin Hanbal.”
  5. Ali Al-Madini mengatakan, “Sesungguhnya, Allah menguatkan agama ini dengan Abu Bakr Ash-Shidiq di hari riddah (orang murtad) dan Allah kuatkan agama ini dengan Ahmad bin Hanbal di hari mihnah (paksaan untuk mengatakan bahwa Alquran adalah makhluk).”
  6. Abu Ubaid mengatakan, “Puncak ilmu ada pada empat orang; yang paling berilmu adalah Ahmad.”
  7. Ibnu Ma`in mengatakan, “Mereka menginginkan agar saya menjadi seperti Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, saya tidak akan pernah menjadi seperti dia, selamanya!”
  8. Abu Hammam As-Sukuni mengatakan, “Imam Ahmad belum pernah melihat orang seperti beliau.”
  9. Abu Tsaur mengatakan, “Ahmad lebih berilmu daripada Sufyan Ats-Tsauri.” (Tadzkirah Al-Huffazh, no. urut 438)

Ujian untuk Imam Ahmad

Di masa Khalifah Al-Makmun, kaum muslimin diuji dengan pemikiran Mu’tazilah. Mereka dipaksa untuk mengatakan bahwa “Alquran adalah makhluk”. Siapa saja di antara tokoh masyarakat yang tidak mau mengatakan bahwa “Alquran adalah makhluk” maka dia dibunuh atau dipenjara. Saleh, putra Imam Ahmad, mengatakan, “Semua ulama mengakui bahwa Alquran adalah makhluk kecuali empat orang: bapakku, Muhammad bin Nuh, Al-Qawariry, dan Al-Hasan bin Hammad. Akhirnya, Al-Qawariry dan Al-Hasan bin Hammad bersedia mengakui bahwa Alquran adalah makhluk. Tinggallah bapakku dan Muhammad bin Nuh di penjara selama beberapa hari.” (Siyar A`lam An-Nubala’, hlm. 238)

Imam Ahmad selalu tegar untuk mempertahankan akidah ahlus sunnah wal jamaah, bahwa Alquran adalah firman Allah dan bukan makhluk. Setelah Al-Mutawakkil menjadi khalifah, Imam Ahmad dimuliakan oleh kerajaan. Sampai-sampai, tidak ada seorang pun hakim dan pejabat negara yang akan diangkat, kecuali telah dikonsultasikan terlebih dahulu kepada Imam Ahmad.

Karya Imam Ahmad

Imam Ahmad memiliki karya tulis yang banyak. Di antara karya beliau:

  1. Al-Musnad. Dalam kitab ini, beliau mengumpulkan hadis-hadis berdasarkan urutan nama perawi dari sahabat. Kitab ini memuat 30.000 hadis.
  2. Risalah Shalat. Kitab kecil ini ditulis oleh beliau sebagai bagian dari nasihat beliau terhadap kesalahan-kesalahan ketika salat berjemaah yang dilakukan di masjid dekat tempat tinggal beliau.
  3. Al-Masail. Kitab ini merupakan kumpulan fatwa-fatwa Imam Ahmad yang ditanyakan oleh putra dan murid-murid beliau. Karena itu, kitab Al-Masail banyak sekali, sesuai dengan nama penanyanya. Misalnya: Masail Abdullah, memuat tanya-jawab antara Imam Ahmad dengan putranya, Abdullah; Masail Abu Daud, memuat tanya-jawab antara Abu Daud dengan Imam Ahmad.
  4. Al-Asyribah. Buku ini memuat penjelasan beliau tentang khamar dan batasan-batasan minuman yang diharamkan.
  5. Fadhail Ash-Shahabah. Buku ini menyebutkan dalil-dalil tentang keutamaan sahabat. Pada hakikatnya, buku ini merupakan bantahan untuk kaum Rafidhah yang mengafirkan para sahabat.

Imam Ahmad wafat

Beliau meninggal di hari Jumat, tanggal 12 Rabi`ul Awwal, tahun 241 H, di usia beliau yang ke-77 tahun. Ketika beliau meninggal, banyak orang yang menyalati jenazah beliau. Diceritakan oleh Adz-Dzahabi dari Bunan bin Ahmad Al-Qashbani bahwa beliau menghadiri salat jenazah untuk Imam Ahmad, sementara yang ikut menyalati jenazah Imam Ahmad adalah sekitar 800.000 orang dari kalangan lelaki dan sekitar 60.000 orang dari kalangan wanita. Dalam riwayat yang lain dari Abu Zur`ah, beliau mendapat kabar bahwa Khalifah Al-Mutawakil memerintahkan seseorang untuk menghitung jejak kaki manusia yang menyalati jenazah Imam Ahmad. Dikabarkan bahwa dari jumlah telapak kaki tersebut diketahui bahwa ada lebih dari 2.500.000 orang yang menyalati jenazah Imam Ahmad. Semoga Allah merahmati Imam Ahmad bin Hanbal. (Siyar A`lam An-Nubala’, hlm. 339–340)

Referensi:
- Adz-Dzahabi, Siyar A`lam An-Nubala’, volume 11, Muassasah Ar-Risalah, 1405 H.
- Adz-Dzahabi, Tadzkirah Al-Huffazh, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tarikh Tasyri` Al-Islami, Master Text Book of Mediu

Artikel www.yufidia.com




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *