Search
Tuesday 16 September 2014
  • :
  • :

Iman Menurut Sekte-sekte Sesat dan Bantahannya

Iman Menurut Sekte-sekte Sesat dan Bantahannya

Berikut ini adalah beberapa definisi iman menurut kelompok sesat dan hasil ijtihad ulama yang lemah, yang dicantumkan dalam kitab As`ilah wa Ajwibah fi Al-Iman wa Al-Kufr, hlm. 10–12, dan pada sebuah kitab karya Abdurrazaq Al-Badr, yaitu Tadzkirah Al-Mu’tasi, hlm. 300, terbitan Gharas, tahun 1424 H.

Pertama: Iman adalah semata-mata mengenal Allah. Artinya, jika seorang makhluk telah mengenal Allah maka dia sudah dianggap mukmin, yang berhak mendapatkan surga, meskipun dia tidak beramal apa pun atau dia melakukan perbuatan dosa, apa pun bentuknya. Seseorang baru dikatakan kafir jika dia tidak mengenal adanya Allah ta’ala. Ini adalah pendapat Sekte Jahmiyah dan Sekte Murji’ah tulen.

Bantahan:

Jika sebatas mengenal Allah bisa disebut beriman maka iblis adalah seorang mukmin, yang berhak mendapat surga, karena iblis mengenal Allah dan bahkan pernah bertemu dan berdialog dengan Allah. Dalilnya, firman Allah,

قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Iblis mengatakan, ‘Wahai Rabku (Allah), tunggulah aku sampai hari mereka dibangkitkan.’” (QS. Al-Hijr:36)

Demikian pula, orang musyrikin Quraisy mengenal Allah dan meyakini keberadaan Allah. Buktinya, banyak orang musyrik yang bernama “Abdullah”, di antaranya adalah nama ayah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukti lainnya adalah firman Allah,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّه فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Jika kamu bertanya kepada mereka (orang musyrik Quraisy), ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi, mengatur matahari dan bulan,’ niscaya mereka mengatakan, ‘Allah.’ Lalu, mengapa mereka berpaling dari tauhid?” (QS. Al-Ankabut:61)

Kedua: Iman adalah ucapan syahadat secara lisan saja. Barang siapa yang mengucapkan kalimat syahadat dengan lisannya maka dia dianggap beriman, meskipun hatinya menolak dan mendustakan isi syahadatnya. Ini adalah pemahaman Sekte Karramiyah.

Bantahan:

Jika iman hanya sebatas ucapan lisan maka orang-orang munafik termasuk beriman, karena orang munafik menyatakan dirinya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, namun hatinya menolak dan mengingkarinya. Allah berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman.’ Padahal, mereka bukanlah orang yang beriman.’” (QS. Al-Baqarah:8)

Manusia yang Allah maksud di ayat ini adalah orang-orang munafik. Mereka mengaku beriman, namun Allah menyatakan bahwa mereka bukan orang yang beriman.

Ketiga: Iman hanyalah sebatas membenarkan adanya Allah dan syariat-Nya. Selama seseorang itu meyakini kebenaran adanya Allah dan kebenaran isi syahadat maka dia disebut mukmin, meskipun dia tidak mengucapkan syahadat, tidak melaksanakan perintah agama, atau bahkan menentang keyakinannya. Ini adalah pemahaman Sekte Maturidiyah dan Sekte Asy’ariyah, serta dogma ahli filsafat dalam memahami Islam. Pendapat ini juga yang dipilih salah satu ulama ahlus sunnah: Abu Hanifah dan gurunya, Hammad bin Sulaiman.

Bantahan:

Dengan pemahaman iman semacam ini maka konsekuensinya adalah orang musyrikin Quraisy termasuk orang beriman, karena mereka meyakini kebenaran dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka berusaha menentangnya. Allah berfirman,

فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُون

Sesungguhnya, mereka tidak mendustakanmu, namun orang-orang zalimlah

yang menentang ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am:33)

Ayat ini menunjukkan bahwa mereka, secara keyakinan, membenarkan dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka tidak mau menerimannya.

Di antara bukti lain yang menunjukkan bahwa musyrikin Quraisy meyakini kebenaran dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkataan paman beliau, Abu Thalib, yang meninggal dalam keadaan kafir. Abu Thalib mengungkapkan pengakuannya yang dituangkan dalam sebuah syairnya,

وَلقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ دِينَ مُحَمَّدٍ … مِنْ خَيرِ أَدْياَنِ البَرِيَّـةِ دِيناً

لَوْ لَا المَلاَمَةَ أَوْ حَذَارَ مَسَبَّةٍ … لَوَجَدْتَنِي سَمْحًا بِذَاكَ مُبِيناً

Sungguh, aku yakin bahwa agama Muhammad

Adalah agama terbaik di muka bumi ini

Andaikan bukan karena celaan dan khawatir adanya ejekan,

Engkau akan mengetahui diriku menerima secara terang-terangan.

(Syarah Aqidah Thahawiyah, Ibn Abil ‘Iz Al-Hanafi, 2:277, Kementerian Urusan Wakaf dan Dakwah Kerajaan Saudi, 1418 H)

Keempat: Iman adalah keyakinan dan ucapan. Jika seseorang telah yakin terhadap kebenaran syahadat dan mengucapkan dua kalimat syahadat maka dia beriman. Sementara, amal yang lain, seperti salat, zakat, puasa, dan kewajiban lainnya tidak tercakup dalam iman, namun sebatas kewajiban amal. Mereka beralasan bahwa kewajiban ada dua: kewajiban iman dan kewajiban amal. Satu sama lain saling berbeda. Ini termasuk diantara pendapat Imam Abu Hanifah dalam salah satu riwayat dan beberapa ulama Kufah.

Bantahan:

Banyak dalil yang menegaskan bahwa amal perbuatan termasuk iman. Oleh karena itu, para ulama ahlus sunnah memberikan pengertian “iman” dengan: ‘sikap membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan konsekuensinya dengan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang’. Semua ini menunjukkan bahwa mereka sepakat, amal perbuatan termasuk dalam cakupan iman. Di antara dalil dari Alquran dan As-Sunnah tentang iman adalah:

A. Firman Allah:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُم

Sesungguhnya, Allah tidak menyia-nyiakan iman kalian (salat).” (QS. Al-Baqarah:143)

Ayat ini memiliki “sebab nuzul”, sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwa ketika kiblat diubah, yang awalnya menghadap Baitul Maqdis kemudian diganti menghadap Ka’bah, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang-orang yang telah meninggal, sementara dulu mereka salat menghadap Baitul Maqdis? (Apakah salatnya diterima?)” Kemudian, Allah menurunkan ayat di atas. (HR. Abu Daud, no. 4682; At-Turmudzi, no. 2964; dinyatakan sahih oleh Al-Albani)

B. Hadis

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa amal termasuk dalam lingkup iman. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu memiliki tujuh puluh sekian cabang, yang paling tinggi adalah ‘la ilaha illallah‘, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu termasuk cabang iman.” (HR. Muslim, no. 57; An-Nasa’i, no. 5005; Abu Daud, no. 4678; dan dinilai sahih oleh Al-Albani)

Imam Az-Zamakhsari mengatakan, “Hadis ini merupakan dalil tegas bahwa amal perbuatan tercakup dalam istilah iman secara syar’i.” (Faidh Al-Qadir, 3:185, Al-Munawi, Maktabah At-Tijariyah Al-Kubra, Mesir, 1356 H)

Artikel www.Yufidia.com




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *