Search
Thursday 2 October 2014
  • :
  • :

Wahabi

Wahabi

Kata “Wahabi” diambil dari nama seorang ulama besar yang berjuang menegakkan tauhid di Jazirah Arab, Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab. Sedangkan, secara bahasa, istilah “Wahabi terdiri dari dua suku kata: “Wahab”, artinya ‘Dzat Yang Maha Pemberi’; kata ini merupakan salah satu asma`ul husna, dan “i” (huruf ya’ nisbah), yaitu huruf ya’ yang menandakan golongan.

Gelar “wahabi” sering digunakan oleh ahli bidah dan para tokoh kesyirikan untuk menyebut orang yang berusaha mendakwahkan tauhid, membasmi kesyirikan, serta menegakkan sunah dan mematikan bidah. Mereka mengatakan bahwa tindakan di atas merupakan tema gerakan yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Di samping itu, mereka juga menambahi dengan berbagai tuduhan kepada Wahabi, di antaranya: membenci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, memusuhi para wali, mengingkari karamah, dan melarang orang untuk berziarah kubur.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gelar “Wahabi” berasal dari orang yang membenci dakwah Muhammad bin Abdul Wahab, dan bukan nama resmi yang ditetapkan oleh pengikut Muhammad bin Abdul Wahab sendiri. Ini menunjukkan bahwa asal gerakan ini tidak memiliki nama, karena gerakan yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab ini, pada hakikatnya, hanyalah bertujuan mengajak masyarakat untuk kembali pada Islam yang murni (the pure Islam) berdasarkan Alquran dan Sunah.

Tujuan utama rival dakwah Muhammad bin Abdul Wahab menggunakan gelar ini adalah untuk menakut-nakuti agar masyarakat tidak terpengaruh dengan ajakan dakwah tauhid dan sunah. Dengan diberi gelar yang menakutkan dan terkesan aneh, orang akan semakin waspada dan berhati-hati. Dengan gelar ini pula, para tokoh kebidahan bisa semakin mudah memojokkan para dai yang mengajak umat kepada tauhid dan sunah.

Satu hal yang perlu kita pertanyakan adalah: benarkah gelar dan tuduhan yang diberikan oleh lawan dakwah Muhammad bin Abdul Wahab? Karena itu, penting bagi kita untuk memahami sejarah perjalanan dakwah beliau, untuk mengetahui kesalahan dan kedustaan pernyataan di atas, secara lebih detail.

Sisi kesalahan pemberian gelar “Wahabi”

Ada beberapa catatan yang menunjukkan kesalahan penggunaan gelar ini untuk menyebut dakwah yang dipelopori Muhammad bin Abdul Wahab:

Pertama: Ditinjau dari sisi bahasa.

Jika tujuannya adalah untuk menyatakan “kelompok Muhammad bin Abdul Wahab” maka, seharusnya, gelarnya bukan “Wahabi” tetapi “Muhammadi”, karena nama beliau bukan “Wahab” tapi “Muhammad”. Menggunakan gelar “Wahabi” berarti salah sasaran, karena tidak sesuai dengan nama pelopornya.

Kedua: Ditinjau dari sisi makna “Wahabi”.

Istilah “Wahabi” diambil dari kata “Al-Wahab”, yang artinya ‘Dzat Yang Maha Pemberi’. Kata “Al-Wahab” merupakan salah satu nama Allah (asma`ul husna). Sedangkan tambahan huruf “i” pada akhir kata ini memberikan makna tambahan “golongan”. Sehingga, istilah “Wahabi” secara bahasa artinya ‘golongan Al-Wahab‘, atau ‘golongan Allah taala.

Jika orang sufi menisbahkan dirinya kepada jemaah yang memakai pakaian suf (wol), maka “Wahabi” dinisbahkan kepada Al-Wahab, yaitu Allah, yang telah memberikan anugerah tauhid dan memberikan kemenangan dengan tauhid.

Ketiga: Ditinjau dari tujuan.

Setelah memahami makna istilah “Wahabi”, maka pada hakikatnya, istilah ini justru akan menjadi pujian kepada orang yang mendapat gelar “Wahabi”, karena dengan gelar ini, berarti dia telah dinyatakan sebagai pengikut Allah. Dengan demikian, gelar ini adalah sebuah pujian, bukan celaan. Sedangkan, tujuan utama para musuh dakwah tauhid dan sunah adalah untuk mencela dan menyudutkan para dai tauhid dan sunah.

Oleh karena itu, sebagian ulama sunah merasa bangga dengan gelar ini. Bahkan, ada sebagian dari ulama tersebut yang menyatakan,

إنْ كان تابعُ أحمدٍ مُتوهِّبا

فأنا المقِرُّ بأنني وهّابي

“Jika yang menjadi pengikut Ahmad (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)

hanyalah Wahabi,

maka aku akui bahwa aku adalah Wahabi.”

Keempat: Ditinjau dari syariat.

Memberikan gelar kepada sesama muslim, hukumnya terlarang. Allah berfirman,

وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ

Jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.” (QS. Al-Hujurat:11)

(Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah, Muhammad bin Jamil Zainu)

Pencetus pertama istilah “Wahabi

Suatu hal yang jelas, bahwa Inggris merupakan negara barat pertama yang cukup tertarik untuk menggelari dakwah tauhid ini dengan gelar “Wahabisme”. Alasannya, karena dakwah ini telah mencapai wilayah koloni Inggris yang paling berharga, yaitu India. Banyak ulama di India yang memeluk dan menyokong dakwah Imam Ibnu Abdil Wahab. Inggris juga menyaksikan tumbuh subur dan berkembangnya dakwah ini, yang para pengikutnya telah mempengaruhi sekelompok ulama ternama di penjuru dunia Islam.

Selama masa itu, Inggris juga mengasuh sekte Qadiyani dalam rangka mengganti arus utama ideologi Islam. (Tashih Khatha’ Haula Al-Wahabiyah, hlm. 47)

Mereka berhasrat untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka di India, dengan mengandalkan sebuah sekte ciptaan mereka sendiri, Qadiyani, yaitu sekte yang diciptakan, diasuh, dan dilindungi oleh Inggris. Sekte ini tidak menyeru jihad untuk mengusir pasukan kolonial Inggris yang berdiam di India.

Oleh karena itulah, ketika dakwah Imam Ibnu Abdil Wahab mulai menyebar di India, dan dengannya datanglah slogan “jihad melawan penjajah asing”, Inggris menjadi semakin resah. Mereka pun menggelari dakwah ini dan para pengikutnya sebagai “Wahabi”, dalam rangka mengecilkan hati kaum muslimin di India yang ingin turut bergabung dengannya, dengan harapan, perlawanan terhadap penjajah Inggris tidak akan menguat kembali. Banyak ulama, yang mendukung dakwah ini, ditindas. Bahkan, beberapa ulama dibunuh, dan yang lainnya dipenjara.

W. Wilson Hunter, dalam bukunya yang berjudul The Indian Musalmans, mencatat bahwa selama pemberontakan orang India pada tahun 1867, Inggris paling menakuti kebangkitan muslim “Wahabi” yang tengah bangkit menentang Inggris. Hunter menyatakan di dalam bukunya,

There is no fear to the British in India except from the Wahabis, for they are causing disturbances againts them, and agitating the people under the name of jihad to throw away the yoke of disobedience to the British and their authority.

 

Terjemahannya, “Tidak ada ketakutan bagi Inggris di India melainkan terhadap kaum Wahabi, karena merekalah yang menyebabkan kerusuhan dalam rangka menentang Inggris dan mengagitasi (membangkitkan semangat) umat atas nama jihad untuk memusnahkan penindasan akibat ketidaktundukan kepada Inggris dan kekuasaan mereka.”

Silakan lihat:

W.W. Hunter. The Indian Musalmans (Cetakan 1). 1871. London: Trűbner and Co.

W.W. Hunter. The Indian Musalmans (Second Edition). 1945. Calcuta: Comrade Publishers.

W.W. Hunter. The Indian Musalmans (Reprint). 2002. New Delhi: Rupa & Co.

Artikel selengkapnya bisa dibuka di:

http://abusalma.wordpress.com/2007/11/07/siapa-pencetus-pertama-istilah-wahhabi/

Artikel www.yufidia.com




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *