Search
Sunday 5 April 2020
  • :
  • :

Doa Agar Dapat Teguh di Atas Petunjuk Allah Ta’ala

Doa Agar Dapat Teguh di Atas Petunjuk Allah Ta’ala

Doa Agar Dapat Teguh di Atas Petunjuk Allah Ta’ala

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. [QS. Ali Imran: 8]

Doa yang ada pada surat Ali Imran ayat kedelapan ini merupakan lanjutan dari doa para Rasikhun (orang-orang yang mendalam ilmunya) yang disebutkan dalam ayat sebelumnya. Doa ini mereka panjatkan setelah mereka menyatakan keimanan kepada seluruh ayat-ayat yang ada dalam al-Qur’an, baik itu yang berupa ayat-ayat muhkamat maupun ayat-ayat mutasyabihat.

 

1. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami)

Yakni janganlah Engkau jauhkan hati kami dari petunjuk yang telah Engkau karuniakan kepada kami, setelah Engkau memuliakan kami dengan Islam. 

 

2. وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً (dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau)

Yakni dan karuniakanlah kepada kami taufik dan keteguhan dalam agama-Mu dengan rahmat-Mu.

 

3. إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi [karunia])

Yakni sebab hanya Engkau-lah yang dapat memberikan taufik dan keteguhan dalam agama-Mu dan dalam membenarkan kitab dan para Rasul-Mu.

 

Hati manusia yang merupakan tempat keimanan berada merupakan makhluk Allah Ta’ala yang sangat mudah berubah-ubah, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menggambarkannya dengan sangat jelas sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau:

إنما سمي القلب من تقلبه، إنما مثل القلب كمثل ريشة في أصل شجرة يقلبها الريح ظهراً لبطن (رواه أحمد)

“Sesungguhnya hati disebut dengan ‘qalbu’ karena begitu mudahnya terbolak-balik; ia bagaikan sehelai bulu burung yang berada di ujung pohon yang diombang-ambingkan oleh hembusan angin.” [HR. Ahmad]

juga sabda beliau:

إن قلوب بني آدم كلها بين أصبعين من أصابع الرحمن كقلب واحد يصرفه حيث يشاء. (رواه مسلم) 

“Sesungguhnya hati anak Adam (manusia), semuanya berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah, laksana hati yang satu, Dia arahkan ke mana saja yang Dia kehendaki.” [HR. Muslim]

 

Kedua hadits tersebut menjelaskan betapa pentingnya bagi kita untuk senantiasa memohon keteguhan hati di atas keimanan kita kepada Allah Ta’ala, karena hati sangat mudah terbolak-balik, disamping itu tidak ada yang dapat meneguhkannya kecuali Allah Ta’ala semata. Oleh sebab inilah salah satu doa yang sering sekali dipanjatkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah doa meminta keteguhan di atas keimanan dengan mengucapkan:

 

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك. [رواه الترمذي]

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku  di atas agama-Mu.” [HR. Tirmidzi].

Tidak ada seorangpun yang dapat merasa aman terhadap keimanan yang ia miliki, sebesar apapun iman yang telah ia miliki dan sebanyak apapun jasa dan pengorbanan yang telah ia berikan kepada Islam. 

 

Terdapat sebuah kisah tentang seorang ulama besar yang lahir pada awal abad ke-20 Masehi tepatnya pada tahun 1907 Masehi yang bernama Abdullah bin Ali al-Qashimi. 

Pada awal perjalanan keilmuannya dia banyak sekali melakukan pembelaan terhadap manhaj Ahlu as-Sunnah wa al-Jamaah, dan mengarang banyak kitab untuk membantah kesalahan dan kesesatan orang-orang yang menyerang Islam, dan puncaknya ketika dia menulis kitab yang berjudul “ash-Shira’ baina al-Islam wa al-Watsaniyah” (Pententangan antara Islam dengan Paganisme), kitab ini merupakan bantahan terhadap seorang ulama Syi’ah yang bernama Muhsin al-’Amili. Kitab ini mendapat sambutan yang sangat positif di kalangan para ulama Ahlu as-Sunnah yang lain, bahkan sebagian mereka mengatakan “Abdullah al-Qashimi telah membayar mahar surga dengan kitabnya ini.”

Abdullah al-Qashimi sangat senang dengan tanggapan positif dari kitab yang ditulisnya namun sayang ini menjadikannya angkuh dan jumawa. Dan seiring dengan berjalannya waktu sanjungan tidak lagi dia dapatkan yang akhirnya membuat dia berubah haluan secara drastis; puncaknya ketika ia menulis kitab yang berjudul “Hadzi Hiya al-Aghlal” (Inilah belenggu-belenggu itu), kitab ini berisikan kedustaan dan penghinaannya terhadap ajaran-ajaran agama Islam serta keingkaran terhadap wujud Allah Ta’ala Sang Pencipta.

Dengan berbagai pernyataan yang ditulisnya dalam kitab ini, para ulama menyatakan kemurtadannya dari agama Islam, dan beberapa ulama telah menulis kitab bantahan terhadap kitab yang ditulis oleh Abdullah al-Qashimi ini.

Dia meninggal dunia pada tahun 1996, namun terdapat dua pernyataan tentang akhir hidupnya; sebagian orang menyatakan bahwa dia masih tetap di atas pemikiran-pemikirannya yang sesat, dan sebagian lain menyatakan bahwa dia telah bertaubat dan kembali kepada agama Islam.

 

Dari kisah di atas kita dapat memetik pelajaran bahwa hati manusia memang benar-benar di bawah kekuasaan Allah Ta’ala tanpa memandang apakah itu hati seorang ulama maupun yang lainnya; jika Allah Ta’ala telah berkehendak untuk menjadikannya sesat maka Dia akan menyesatkannya, dan jika Dia berkehendak untuk meneguhkannya maka Dia akan tetap meneguhkannya di atas petunjuk. 

Oleh sebab itu hendaklah kita senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala keteguhan di atas petunjuk-Nya, baik itu dengan doa yang terdapat dalam surat Ali Imran ayat kedelapan ini maupun dengan doa-doa lainnya yang berasal dari al-Qur’an dan as-Sunnah. di samping itu kita juga harus tetap berusaha beritiqamah dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, sehingga dengan ikhtiar dan doa yang beriringan ini semoga Allah Ta’ala memberikan keteguhan kepada kita di atas petunjuk-Nya, dan dengan keteguhan itu kita termasuk hamba-hamba Allah Ta’ala yang dimaksud dalam firman-Nya:

 

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” [Fusshilat: 30-31].