Search
Sunday 27 September 2020
  • :
  • :

Doa Mohon Keturunan yang Saleh

Doa Mohon Keturunan yang Saleh

Doa Mohon Keturunan yang Saleh

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ 

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. [QS. Ali Imran : 38]

 

Pendahuluan

Ini merupakan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Zakariya alaihissalam setelah lama sekali menjalani kehidupan rumah tangga namun belum juga dikaruniai Allah Ta’ala seorang anak sebagai penghibur hatinya dan penerusnya dalam memperjuangkan agama Allah Ta’ala

Ketika itu Nabi Zakariya alaihissalam telah mencapai usia lanjut, begitu pula dengan istrinya dan terlebih lagi ia merupakan wanita yang mandul. Dan setiap kali Nabi Zakariya alaihissalam memasuki mihrab tempat Maryam—yang merupakan keponakan dari istrinya— beribadah, beliau mendapati di sisi Maryam rezeki dari Allah Ta’ala berupa berbagai jenis buah-buahan. Melihat hal tersebut Nabi Zakariya alaihissalam kemudian berdoa kepada Allah Ta’ala untuk memohon kepada-Nya keturunan yang saleh, sebab beliau yakin Dzat yang mampu memberi rezeki kepada Maryam meski tanpa perantara dan campur tangan manusia,  mampu pula memberinya anak yang saleh meski beliau dan istrinya telah lanjut usia.

 

Makna Doa

1. رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ (Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau)

Yakni karuniakanlah kepadaku dengan rahmat dan kemurahan-Mu.

 

2. ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً (seorang anak yang baik)

Yakni anak yang diberkahi, saleh, bertakwa, dan diridhai.

 

3. إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ (Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa)

Yakni Engkaulah Dzat yang mendengar doa dan yang dapat mengabulkannya.

 

Keutamaan Anak Saleh

Anak yang saleh merupakan karunia yang amat besar bagi seorang muslim, sebab ia dapat menjadi penerus yang tidak hanya bermanfaat di dunia namun juga di akhirat. Di dunia, anak yang saleh akan menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tua. Sedangkan di akhirat, anak yang saleh akan menjadi ‘penerus amal’ bagi kedua orang tua; ketika keduanya telah meninggal dunia dan tidak mampu lagi menambah bekal kebaikan untuk kehidupan di akhirat dengan kedua tangan mereka sendiri, Allah Ta’ala dengan kemurahan-Nya menjadikan doa dan amalan anak keturunan sebagai penambah amal kebaikan bagi keduanya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له. [رواه مسلم]

“Apabila manusia meninggal dunia maka semua amal perbuatannya terputus kecuali tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.” [HR. Muslim]

 

Dan disebutkan pula dalam sabda beliau:

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” إنَّ الرجل لتُرفع درجتُه في الجنَّة فيقول : أنَّى هذا فيقال : باستغفار ولدك لك ” . [رواه ابن ماجه وصححه الألباني].

Dari Abu Hurairah  bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya: Bagaimana (aku bisa mencapai) derajat ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) berkatkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.” [HR Ibnu Majah dan dishahihkan oleh syaikh al-Albani].

 

Dengan dua hadits di atas, kita sebagai orang yang beriman kepada hari akhir tidak sepatutnya hanya meminta anak keturunan semata tanpa memperhatikan kesalehannya, sebab hanya anak keturunan yang saleh yang akan peduli dengan orang tuanya, adapun anak keturunan yang durhaka hanya akan membawa keburukan bagi kedua orang tua. Dalam hal ini Allah Ta’ala telah menyiratkannya pada kisah Khidir yang membunuh seorang anak, ia mengemukakan alasan dari perbuatannya itu kepada Nabi Musa alaihissalam yang Allah Ta’ala kisahkan pada surat al-Kahfi ayat 80 dan 81:

 

وَأَمَّا الْغُلامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا. فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا.

“Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anaknya itu dan lebih besar kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” [QS. Al-Kahfi: 80-81].

 

Penutup

Doa ini merupakan senjata yang diberikan kepada orang beriman yang rindu kehadiran anak yang saleh sebagai penerusnya yang dapat memberi manfaat baginya di dunia dan di akhirat; maka barang siapa yang menghendaki anak yang saleh dari Allah hendaklah ia bermunajat dengan doa ini, dengan disertai keyakinan yang kuat kepada kuasa Allah untuk mengabulkannya niscaya ia akan mendapat hasil dari doa tersebut. Sebagaimana Nabi Zakariya alaihissalam yang senantiasa yakin bahwa doanya akan dikabulkan Allah —meski dalam pandangan manusia beliau sudah tidak mungkin untuk mendapatkan keturunan— sehingga pada akhirnya doa beliau dikabulkan Allah dengan kelahiran seorang anak yang saleh bernama Yahya yang kemudian diangkat Allah sebagai Nabi. Hal ini Allah sebutkan dalam surat Ali Imran ayat 39 yang berbunyi:

 

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ 

“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. [QS. Ali Imran: 39].

 

Semoga dengan doa ini Allah Ta’ala mengaruniakan kepada kita keturunan yang saleh yang menjadi penyejuk pandangan dan penghias kehidupan di dunia serta sebagai perantara bagi kita untuk mendapat ampunan dan rahmat dari Allah di akhirat. Amin.