Search
Friday 7 August 2020
  • :
  • :

Doa Berlindung Dari Memohon Sesuatu Yang Tidak Diketahui Hakikatnya

Doa Berlindung Dari Memohon Sesuatu Yang Tidak Diketahui Hakikatnya

Doa Berlindung Dari Memohon Sesuatu Yang Tidak Diketahui Hakikatnya

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhanku, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampunan serta tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” [QS. Hûd: 47].

Makna Doa

  • رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ (Ya Tuhanku, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya)
    Yakni, ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari meminta sesuatu yang sebenarnya tidak diperkenankan bagiku untuk aku minta, sebab aku tidak memiliki pengetahuan, sedangkan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.
  • وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي (Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampunan)
    Yakni ampunan atas perkataan dan perbuatanku yang salah akibat ketidaktahuanku, bukan akibat kesengajaan dariku.
  • وَتَرْحَمْنِي (serta tidak menaruh belas kasihan kepadaku)
    Yakni sekiranya pula Engkau tidak memberiku rahmat-Mu yang luasnya meliputi segala sesuatu.
  • أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (niscaya aku akan termasuk golongan orang-orang yang merugi).
    Yakni orang-orang yang merugi di dunia karena terhalang dari ilmu dan hikmah Allah, dan juga merugi di akhirat.

Penjelasan

Ini merupakan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh setelah Allah membinasakan anaknya bersama orang-orang kafir dengan banjir bandang. Ketika itu beliau mempertanyakan keadaan anaknya mengapa ia termasuk orang-orang yang ikut tenggelam padahal Allah telah berjanji untuk menyelamatkan keluarganya, beliau berkata:

رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”.

Nabi Nuh terbawa rasa kasih sayangnya, terlebih lagi Allah telah berjanji akan menyelamatkan keluarganya, sehingga Nabi Nuh mengira janji Allah itu untuk seluruh keluarganya, baik itu yang beriman maupun yang tidak. Maka Allah Ta’ala menjelaskan bahwa anaknya itu bukanlah termasuk keluarganya yang diselamatkan karena ia bukan termasuk orang-orang yang beriman kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”

Setelah Nabi Nuh mendengar firman Allah ini, beliau sangat menyesali doa yang beliau mohonkan sebelumnya, kemudian beliau meminta ampun dan rahmat dari Allah dengan berdoa:

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ

Manusia memiliki ilmu yang terbatas, tidak dapat menjangkau masa depan, dan sering kali tidak dapat mengetahui hakikat sebenarnya dari sebuah kejadian. Hal ini membuat manusia seringkali merasa sedih dengan apa yang telah terjadi dan merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi. Inilah yang membuat Nabi Nuh menuntut janji Allah yang diberikan kepadanya agar menyelamatkan keluarganya dari banjir bandang, namun setelah Allah menjelaskan hakikat dari janji tersebut maka ia segera memohon ampun kepada-Nya.

Dalam menjalani kehidupan ini, kita seringkali merasa sedih akibat kejadian yang menurut pandangan kita adalah hal yang buruk, pada keadaan seperti ini hendaklah kita membaca doa yang dibaca oleh Nabi Nuh ini dengan penuh penghayatan agar setan tidak menjerumuskan kita ke dalam prasangka buruk kepada Allah. Kemudian hendaklah kita kembali meyakinkan diri kita bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216).

dan kita harus menyadari bahwa segala takdir Allah baik itu yang baik maupun yang buruk akan menjadi baik bagi kita jika kita menyikapinya dengan semestinya, takdir yang baik kita sikapi dengan rasa syukur dan takdir yang buruk kita sikapi dengan rasa sabar. Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ.

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika diberi sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya, dan apabila ia ditimpa suatu keburukan (musibah) ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Jika kita telah berdoa dan meluruskan pandangan kita terhadap takdir yang telah Allah tetapkan niscaya kita akan dapat menerimanya dengan lapang dada dan tidak memohon kepada Allah sesuatu yang tidak kita ketahui hakikatnya.

Semoga Allah melapangkan dada kita untuk menerima segala ketetapan dan takdir-Nya, dan menjauhkan kita dari memohon kepada-Nya sesuatu yang tidak kita ketahui hakikatnya. Amin.

Referensi : 

  • https://kalemtayeb.com/safahat/item/3057