Search
Thursday 26 November 2020
  • :
  • :

Nikmat Hidayah – Syaikh Fahd bin Abdullah bin Ali Al-Hamd

Nikmat Hidayah – Syaikh Fahd bin Abdullah bin Ali Al-Hamd

Bismillahirrahmanirrahim Segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta alam.

Semoga shalawat, salam dan keberkahan-Nya senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada semua keluarga dan sahabat beliau, amma ba’du. Kita mohon kepada Allah agar diajarkan apa yang bermanfaat untuk kita dan memberikan manfaat atas apa yang Dia ajarkan kepada kita dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Mampu atas hal itu.

Para pemirsa yang mulia Saudaraku di jalan Allah Ini adalah pesan dari hati ke hati, yaitu hati yang berbahagia karena merasakan nikmat Allah dan mengingat karunia-Nya dan berbahagia dengan limpahan karunia-Nya yang diberikan padanya, dan juga hati yang ingin mengingatkan saudara sesama muslim akan karunia dan nikmat yang agung ini. Ketahuilah, itu adalah nikmat hidayah.

Sungguh Allah-lah yang telah memberi kita taufiq dan menjadikan kita hamba-Nya yang mendapat petunjuk yang meridhoi Islam sebagai agama mereka Allah Yang Maha Mulia berfirman tentang orang yang berkata (yang artinya):

Dan kami tidaklah mendapat petunjuk, jikalau bukan Allah yang memberi kami petunjuk.” (QS. Al A’raf: 43).

Hidayah ini semata-mata merupakan karunia dari Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi, Dia telah memilihmu dari sekian banyak manusia yang tidak mendapat petunjuk hidayah Islam, hidayah untuk memeluk agama yang agung ini, agama sempurna dan jalan yang lurus ini. Banyak manusia terhalangi dari mendapatkan nikmat hidayah ini, tapi yang mengherankan ada yang terhalang dari hidayah, padahal dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamMereka telah terhalang dari hidayah dan nikmat Islam, padahal mereka mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas kebenaran, tentu kalian tahu, Abu Thalib, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam orang yang mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Tuhan dengan membawa kebenaran, namun dia tidak sanggup beriman pada Allah yang Maha Agung, karena Allah tidak menghendaki padanya hidayah. 

Dan Allah berfirman pada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya),”Engkau takkan bisa memberi hidayah pada orang yang kau cintai.” (QS. Al Qashash: 56).

Jika kau tahu hal itu, kau akan menyadari nikmat Allah yang agung ini, demi Allah, jika bukan karena Allah, kita takkan mendapatkan petunjuk. Kita takkan beriman, takkan sholat, jika kau sudah tahu demikian, maka hatimu akan lebih dekat pada Allah dan kau akan lebih bersemangat dalam beribadah pada-Nya dan kerinduanmu untuk bertemu denganNya akan lebih besar. Dan kau akan tahu bahwa nikmat yang agung ini memerlukan perlindungan, perawatan dan penjagaan dari semua hal yang menguranginya, dari semua hal yang merusaknya dan Allah telah berfirman dalam surat Al Fatihah yang merupakan surat yang paling agung, dan yang terus-menerus kita ulang dalam setiap shalat, bahkan dalam setiap rakaat, Ia befirman (yang artinya): ”Tunjukkan kami jalan yang lurus.” (QS. Al Fatihah: 6).

Sesungguhnya ayat ini, merupakan pengingat akan nikmat hidayah, seorang muslim membacanya dan ingat bahwa Allah-lah yang memberikan hidayah tersebut dan Dia memilihnya dari sekian banyak manusia yang diharamkan atas nikmat ini  dan meminta Allah agar melanggengkan nikmat hidayah di atas agama Islam ini sepanjang hidupnya.

Saudaraku karena Allah, sesungguhnya nikmat Islam adalah nikmat yang agung lagi mulia dan nikmat hidayah kepada tauhid, mengikhlaskan amalan ibadah hanya kepada Allah semata adalah nikmat yang agung lagi mulia, yang tidak mengetahuinya kecuali orang yang pernah terhalang darinya kemudian dia mendapatkannya Allah yang Maha Mulia berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah kebanyakan manusia beriman kepada Allah kecuali mereka berbuat kesyirikan.” (QS. Yusuf: 106)

Seseorang beriman dan hanya mengingat Allah ketika mengucapkan kalimat laa ilaha illallah saja, namun kemudian terjatuh pada hal yang  membatalkan kalimat yang agung ini yang memiliki syarat-syarat, konsekuensi-konsekuensi dan juga memiliki pembatal-pembatal. Wajib bagimu wahai saudaraku muslim untuk kita bersama menjaga kalimat laa ilaha illallah dan makna kalimat ini adalah Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata tidak ada yang disembah kecuali Allah, tidaklah kita tujukan ibadah kita kecuali kepada Allahtidak berharap kecuali kepada Allah, tidak menggantungkan urusan kecuali kepada Allah saja.

Hanya kepada Allah kita berserah diri, dan hanya kepada-Nya kita tunduk, hanya kepada-Nya kita bertawakkal Allah yang mencukupi kita dan Dialah sebaik-baik penolong, doa kita hanya kepada Allah, harap kita hanya kepada Allah, sholat kita untuk Allah, sembelihan kita hanya untuk Allah, hidup kita untuk Allah,dan mati kitapun untuk Allah.

Katakanlah, “Sesungguhnya sholatku, dan sembelihanku, dan hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagiNya, dan demikianlah aku diperintahkan, dan aku adalah yang pertama kali berislam.” (QS. An An’am: 162-163).

Apakah setelah Allah karuniakan kepada kita kenikmatan tauhid dan Islam ini, kemudian kita memalingkan ibadah kita kepada selain-Nya? Apakah demikian itu bentuk syukur kita terhadap nikmat dan karunia yang agung itu?  Dan nikmat dari Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Abu Hurairah, dia berkata:

Suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumahnya kemudian bertemu Abu Bakar dan Umar semoga Allah meridhoi mereka, kemudian bertanya, ‘apa yang membuat kalian berdua keluar hari ini atau saat ini?’ Mereka berkata, “Kami keluar karena lapar dan haus wahai Rasulullah.” Nabi berkata, “Akupun keluar karena hal yang sama dengan kalian, mari ikut bersamaku.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menuju rumah salah seorang dari kaum Anshar  namun tidak menjumpainya dan menjumpai istrinya saja. Kemudian berkata padanya, “Kemana sang pemilik rumah pergi?”  Dia menjawab, “Dia pergi untuk mengambilkan kami air.” Setibanya sahabat Anshar ini, kemudian menyambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga kedua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar , dia teramat senang gembira dan berseri-seri lantas berkata, “Selamat datang wahai utusan Allah, tak ada orang yang tamunya lebih istimewa selain aku hari ini.” Sahabat Anshar ini mengambil dan menyuguhkan setandan kurma  yang terdapat padanya kurma yang masih hijau, yang basah dan yang kering kemudian meletakkannya di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian dia mengambil pisau, maka berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Hati-hatilah kau dengan ‘halub’” maksudnya, janganlah kau menyembelih kambing yang diperah susunya dan itu menunjukkan kelemah-lembutan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kemudian dia pergi kemudian datang dengan daging yang sudah dimasak, kemudian Nabi memakan kurma-kurma dan daging tersebut dan ketika mereka selesai makan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Kalian keluar dari rumah kalian disebabkan karena rasa haus dan lapar, dan tidaklah kalian pulang kecuali kalian telah kenyang,” Demi Allah, kalian pasti akan ditanya tentang nikmat kalian ini.”

Wahai pemirsa yang diberkahi Allah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyadari nikmat ini, yaitu nikmat kenyang, makan, dan rizqi, kemudian berkata bahwa kita akan ditanya tentang nikmat tersebut Apalagi dengan nikmat Islam, tauhid dan agama yang merupakan sebab masuknya seseorang ke surga yang Allah tidak akan mengampuni orang yang tidak bertauhid  Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa orang yang mempersekutukan-Nya, dan dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS An Nisa: 48)

Kesyirikan adalah kesalahan fatal dan dosa besar, jika seseorang mati di atas kesyirikan Allah tidak akan mengampuninya. Adapun dosa selain kesyirikan, maka dosa tersebut di bawah kehendak Allah,  jikalau Allah berkehendak, Dia akan memberinya rahmat dan ampunan-Nya. Atau jika Dia berhendak, Dia akan mengadzab orang tersebut. Maka wajib bagi seseorang untuk memperhatikan hal-hal yang bisa merusak agamanya ataupun yang bisa mengurangi kualitasnya, atau membatalkanyadan juga merawatnya lebih dari dia merawat tubuhnya, dan juga bersemangat dalam mempelajari hukum-hukum agama yang agung, sempurna, dan jalan lurus ini, yang mana banyak orang terhalang untuk mendapatkannya.

Aku meminta pada Allah dengan karunia dan kemurahan-Nya agar menunjukkan kita pada kebenaran dan kebaikan dan agar diajarkan apa yang bermanfaat untuk kita, dan memberikan manfaat atas apa Dia ajarkan kepada kita. Agar pula menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk, bukan orang yang sesat lagi menyesatkan.

Ya Allah hidupkan kami di atas tauhid, dan matikan kami di atas tauhid.

Ya Allah jadikan ucapan terakhir kami di dunia ini adalah kalimat “laa ilaha illallaah“.

Ya Allah cabutlah nyawa kami dalam keadaan tidak terkena fitnah dan tidak mempersekutukanMu.

Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari kesyirikan yang kami ketahui, dan kami mohon ampun atas kesyirikan yang kami tak mengetahuinya.

Maha Suci Engkau wahai Allah, Aku memuji-Mu, Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau, dan aku memohon ampun padaMu dan aku bertaubat kepadaMu.

Semoga shalawat, salam dan keberkahan-Nya senantiasa terlimpahkan kepada nabi kita Muhammad, dan kepada semua keluarga dan sahabat beliau.