Search
Sunday 27 September 2020
  • :
  • :

Antara Wahyu dan Eksperimen

Antara Wahyu dan Eksperimen

Antara Wahyu dan Eksperimen

Perkembangan dunia kedokteran di abad ini mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Dibanding masa klasik, yang segala sesuatunya serba manual. Sehingga penanganan penyakit membutuhkan waktu yang cukup lama. Adapun sekarang, diagnosa bisa dilakukan dengan cepat dan akurasinya lumayan tinggi. Begitu pula pengobatannya.

Lompatan teknologi kedokteran ini merupakan karunia Allah yang wajib disyukuri.

Alhamdulillah, Islam bukan agama yang anti teknologi. Bahkan sangat mendukung pengembangannya. Terlebih bila bermanfaat untuk maslahat umat manusia.

Tidak Melulu Medis.

Dalam agama kita, penanganan sebuah permasalahan menggunakan dua pendekatan:

Pertama: Pendekatan syar’i

Kedua: Pendekatan materi

Terkait penanganan wabah Covid-19, contoh sarana syar’inya adalah: taubat, tawakal, doa, dzikir dan yang semisal. Dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa berbagai langkah tersebut bila dijalankan, akan mencegah dan mengakhiri bencana. Dengan izin Allah.

Sedangkan usaha materi lahiriahnya adalah: mencuci tangan menggunakan sabun, mengenakan masker, menciptakan vaksin dan yang serupa.

Tidak ada kontradiksi antara dua pendekatan itu. Justru bisa direalisasikan seiring sejalan.

Namun, dari dua pendekatan tersebut, yang efeknya lebih dahsyat adalah pendekatan syar’i.

Mengapa demikian?

Karena langkah-langkah syar’i itu bersumber dari wahyu Allah ta’ala. Al-Qur’an dan Hadits. Yang tidak mungkin dan tidak pernah keliru.

Allah Ta’ala menegaskan,

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Artinya: “Kebenaran itu dari Tuhanmu. Maka jangan sekali-kali engkau termasuk golongan yang meragukannya”. (QS. Al-Baqarah: 147)

Sedangkan upaya-upaya lahiriah, dasarnya adalah eksperimen manusia. ‘Ijtihad’ yang berpeluang untuk keliru. Hal ini diakui, bahkan oleh para ahli sekalipun. Walau prosentase kekeliruannya bisa besar atau kecil. Namun peluang salah itu tetap ada.

Jadi, prioritaskanlah pendekatan syar’i. Namun jangan tinggalkan langkah-langkah lahiriah.

Yakinlah, bahwa Allah akan segera mengakhiri masa-masa sulit ini!

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengingatkan,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak serius dan lalai”. (HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Albani)

Pesantren Tunas Ilmu, Kedungwuluh, Purbalingga, Ahad, 4 Sya’ban 1441 / 29 Maret 2020

Oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.