Search
Friday 18 August 2017
  • :
  • :

Dzikir Mutlak

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على من لانبي بعده اما بعد:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” (QS. Al ‘Ankabut: 45)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan), dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152)

“Maka kalau Sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,”– Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (QS.Ash Shaaffaat: 143-144)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari)

Dzikir terbagi dua: Dzikir Mutlak dan Dzikir Muqayyad. Dzikir Mutlak adalah dzikir yang tidak ditentukan oleh syara’ (Al Qur’an atau hadits) kapan dibacanya, maka boleh kapan saja Dzikir Mutlak dibaca selama tidak pada waktu yang seharusnya dibaca dzikir muqayyad[1]. Sedangkan Dzikir Muqayyad adalah dzikir yang ditentukan oleh syara’ kapan dibacanya seperti dzikir setelah shalat, dzikir ketika masuk masjid dan keluar masjid, dzikir memakai pakaian dan melepasnya dst.

Berikut ini kami sebutkan sebagian di antara dzikir mutlak, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufiq kepada kita untuk mengamalkannya. Allahumma aamin.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r  كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ, خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ, ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ, سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ

Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua kalimat yang dicintai Ar Rahman (Allah), ringan di lisan dan berat di timbangan yaituSubhaanallah wa bihamdih-subhaanalalahil ‘azhiim[2].” (HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سُئِلَ أَىُّ الْكَلاَمِ أَفْضَلُ قَالَ « مَا اصْطَفَى اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ » .

Dari Abu Dzar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang kalimat yang paling utama, Beliau menjawab, “Yaitu yang Allah pilih untuk para malaikat-Nya atau para hamba-Nya; Subhaanallahi wa bihamdih.” (HR. Muslim)

عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ

Dari Jabir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan Subhaanallahil ‘azhiim wabihamdih.” Maka akan ditanamkan sebuah pohon kurma di surga.” (HR. Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan.” Haitsami menyebutkan dalam Al Majma’ dan menyandarkannya kepada Al Bazzar dari hadits Abdullah bin ‘Amr, dan ia berkata, “Isnadnya jayyid.”)

>عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ . لاَ يَضُرُّكَ بَأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ .

Dari Samurah bin Jundab ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalimat yang paling dicintai Allah ada empat, yaitu: Subhaanallah, Al Hamdulillah, Laailaahaillallah, dan Allahu Akbar[3]. Tidak mengapa bagimu memulai dari yang mana saja.” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ » .

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku mengucapkan Subhaanallah, Al Hamdulillah, Laailaahaillallah, dan Allahu Akbar lebih aku sukai dari apa yang disinari oleh matahari terbit.” (HR. Muslim)

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Dari Ibnu Mas’ud ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra’kan, maka ia berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku untuk umatmu dan beritahukan kepada mereka, bahwa surga, tanahnya bagus, airnya segar, dan ia adalah lembah-lembah, dan bahwa tanamannya adalah Subhaanallah, wal hamdulillah, walaailaahaillallah wallahu akbar.” (HR. Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’)

عَنْ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ وَهِىَ فِى مَسْجِدِهَا ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى وَهِىَ جَالِسَةٌ فَقَالَ « مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِى فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا » . قَالَتْ نَعَمْ . قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم « لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ » .

Dari Juwairiyyah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sisinya pada pagi hari setelah shalat Subuh, sedangkan ia (Juwairiyyah) berada di tempat shalatnya. Setelah itu, Beliau pulang setelah tiba waktu Duha sedangkan ia (Juwairiyyah) masih dalam keadaan duduk. Lalu Beliau bertanya, “Apakah engkau tetap dalam keadaan ketika aku tinggalkan?” Ia menjawab, “Ya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku telah mengucapkan setelahmu 4 kalimat sebanyak tiga kali, yang jika ditimbang dengan yang engkau ucapkan sejak tadi tentu akan menyamai timbangannya, yaitu Subhaanallahi wabihamdih ‘adada khalqihi wa ridhaa nafsih wa zinata ‘arsyih[4].” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِيْ أَيُّوْبٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ « مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مِرَارٍ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ »

Dari Abu Ayyub dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: “Barangsiapa mengucapkan “Laailaahaillallah wahdahuu laa syariika lah lahul mulku walahul hamdu wa huwa alaa kulli syai’in qadiir.[5]10 x, maka ia seperti memerdekakan 4 orang keturunan Nabi Isma’il.” (HR. Bukhari-Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ « مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ . كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِىَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ . وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ » .

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan “Laailaahaillallah wahdahuu laa syariika lah lahul mulku walahul hamdu wa huwa alaa kulli syai’in qadiir,” dalam sehari seratus kali, maka hal itu sama seperti memerdekakan sepuluh orang budak, akan dicatat untuknya seratus kebaikan dan akan dihapuskan darinya seratus keburukan, dan ia akan dijaga dari setan pada hari itu sampai sore hari, dan tidak ada seorang pun yang datang  membawa sesuatu yang lebih baik daripada yang ia bawa kecuali seorang yang mengerjakan lebih dari itu. Dan barangsiapa mengucapkan Subhaanallah wabihamdih dalam sehari seratus kali, maka akan digugurkan kesalahannya meskipun sebanyak buih di laut.” (HR. Muslim)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah Laailaahaillallah dan doa yang paling utama adalah Al Hamdulillah.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi, lihat Ash Shahiihah (1497)).

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ عَلِّمْنِى كَلاَمًا أَقُولُهُ قَالَ « قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ » . قَالَ فَهَؤُلاَءِ لِرَبِّى فَمَا لِى قَالَ « قُلِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى » .

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata: Ada seorang Arab baduwi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Ajarilah aku suatu kalimat.” Beliau bersabda, “Ucapkanlah, ““Laailaahaillallah wahdahuu laa syariika lah, Allahu akbar, wal hamdulillahi katsiiraa, subhaanallahi Rabbil ‘aalamiin, laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aziizil hakiim[6].” Ia (orang Arab baduwi) itu berkata, “Itu untuk Tuhanku, lalu untuk aku apa?” Beliau bersabda, “Ucapkanlah, “Allahummagh firlii war hamnii wahdinii warzuqnii[7].” (HR. Muslim)

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ « أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ » . فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ قَالَ « يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ » .

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata: Kami pernah berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda, “Apakah salah seorang di antara kamu merasa kesulitan untuk mengerjakan 1000 kebaikan setiap hari?” Lalu di antara yang duduk ada yang bertanya, “Bagaimana salah seorang di antara kami dapat mengerjakan 1000 kebaikan?” Beliau bersabda, “Yaitu ia bertasbih (mengucapkan subhaanallah) seratus kali, maka akan dicatat 1000 kebaikan atau digugurkan 1000 kesalahan.” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِي مُوسَى اَلْأَشْعَرِيِّ t قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اَللَّهِ r  يَا عَبْدَ اَللَّهِ بْنَ قَيْسٍ! أَلَّا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ اَلْجَنَّةِ? لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ.

Dari Abu Musa Al Asy’ariy, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Wahai Abdullah bin Qais, maukah kamu aku tunjukkan salah satu dari sekian perbendaharaan surga? Yaitu Laa haula wa laa quwwata illaa billah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan, “Radhiitu billahi rabba wa bil Islaami diina wa bimuhammadir rasuulaa[8],” maka surga wajib baginya.” (HR. Abu Dawud, para perawinya tsiqah, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim)

Faedah:

عَنْ يُسَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُنَّ أَنْ يُرَاعِينَ بِالتَّكْبِيرِ وَالتَّقْدِيسِ وَالتَّهْلِيلِ وَأَنْ يَعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ

Dari Yusairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka memperhatikan takbir, taqdis (tasbih), dan tahlil (ucapan laailaahaillallah), serta memerintahkan mereka menghitungnya dengan jari, karena jari itu akan ditanya dan diminta berbicara.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ يَعْقِدُ التَّسْبِيْحَ بِيَمِيْنِهِ

Dari Abdullah bin Umar ia berkata: Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghitung tasbih dengan tangan kanannya.” (HR. Abu Dawud dengan lafaznya 2/81, Tirmidzi 5/521, dan lihat Shahihul Jami’ 4/271, no. 4865)

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘ala Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Artikel www.Yufidia.com

Maraji’: Al Adzkaar (Imam Nawawi), Maktabah Syamilah dll.


[1] Termasuk kekeliruan yang sering dilakukan orang adalah membaca dzikir mutlak pada waktu yang seharusnya dibaca adalah dzikir muqayyad. Misalnya setelah shalat, kita sering mendengar mereka membaca “Laailaaha illallah” 100 x, padahal dzikir setelah shalat termasuk dzikir muqaayyad yang sudah diajarkan bacaan khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[2] Artinya: Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung.
[3] Artinya: Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, Allah Mahabesar dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.
[4] Artinya: “Mahasuci Allah, aku memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, sejauh keidhaan-Nya, seberat timbangan arsy-Nya dan sebanyak tinta kalimat-Nya.”
[5] Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagiNya. Milik-Nyalah kerajaan dan milik-Nyalah pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
[6] Artinya: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Mahabesar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Mahasuci Allah Rabbul ‘aalamiin, dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
[7] Artinya: Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, tunjukilah aku dan berilah aku rezeki.”
[8] Artinya: Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai Rasulku.”



Description: dzikir mutlak, dzikir muqayyad, bacaan dzikir muthlaq, bacaan dzikir mutlak, dzikir muthlaq

Keywords: dzikir, mutlak, dan, muqayyad, cara, berdzikir, mutlaq, zikir, bacaan, muthlaq, sesuai, sunnah, rasul, contoh



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *