Search
Monday 20 November 2017
  • :
  • :

Sihir

Sihir Termasuk Dosa Besar

Sihir termasuk dosa besar, karena seorang tukang sihir pasti kufur kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

…tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Setan yang terlaknat sama sekali tidak memiliki tujuan apapun dalam mengajarkan sihir kepada manusia melainkan agar manusia membuat sekutu untuk Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengabarkan tentang Harut dan Marut,

“Keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sehingga mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.’ Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu sesuai yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya…”

Sampai Allah berfirman,

Sungguh mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat…” (QS. Al-Baqarah: 102)

Kita menyaksikan banyak di antara orang-orang yang sesat masuk dalam ilmu sihir dan mengira bahwa itu hanya haram saja, dan tidak menyadari bahwa sihir itu adalah suatu kekufuran, Karena itu mereka masuk mempelajari as-Siniya dan bahkan melakukannya, padahal itu murni sihir. Yang mengikat (perasaan) antara seorang suami dari istrinya adalah sihir, begitu pula cinta dan benci kepadanya, dan hal-hal serupa yang berwujud kalimat-kalimat yang tidak dikenal maknanya, kebanyakan adalah syirik dan kesesatan.

Hukum had atas orang yang melakukan sihir adalah dibunuh, karena sihir itu adalah kufur kepada Allah, atau menyebabkan kekufuran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan” dan beliau menyebutkan salah satu di antaranya adalah sihir.

Maka hendaklah seorang hamba takut kepada Rabbnya, dan tidak masuk ke dalam sesuatu yang dapat merugikan dunia dan akhirat(nya). Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda,

Hukuman bagi seorang tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang.”

Akan tetapi yang benar bahwa hadis ini adalah dari perkataan Jundub (tidak marfu’ sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Dan Bajalah bin Abdah berkata,

“Surat Umar radhiallahu ‘anhu datang ekpada kamis etahun sebelum wafatnya; (yang isinya), ‘Hendaklah kalian membunuh setiap tukang sihir laki-laki dan tukang sihir perempuan’.”

Dan dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu, dia berkata, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tiga orang yang tidak akan masuk surga: Pecandu minuman keras (khamr), orang yang memutuskan tali silaturrahim, dan orang yang membenarkan sihir.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya)

Kemudian dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dengan sanad marfu’,

Jampi-jampi, tamimah, dan tiwalah itu adalah syirik.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud.

Dan ketahuilah bahwa banyak di antara dosa-dosa besar, bahkan mayoritasnya kecuali sedikit darinya, yang tidak diketahui oleh banyak orang dari umat ini bahwa ia haram, di mana peringatan keras dan ancaman tidak sampai kepada dirinya. Maka pada orang yang seperti ini terdapat rincian (hukum dan vonis); di mana ulama seharusnya tidak terburu-buru (memvonis) terahdap orang yang tidak mengerti, akan tetapi bersikap lemah lembut kepadanya dan mengajarkannya dari ilmu yang telah Allah ajarkan kepada dirinya.

Terlebih lagi apabila orang bersangkutan masih baru saja meninggalkan masa jahiliyah, di mana (sebelumnya) dia tumbuh di negeri kufur yang jauh, lalu dia tertawan dan dibawa ke negeri Islam, yang sebelumnya ia adalah orang Mongol atau orang Kurju yang musyrik yang tidak mengenal Arab, yang dibeli oleh seorang amir dari Mongol, yang tidak memiliki ilmu dan pemahaman. Maka dengan usaha yang keras; jika orang tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat, dan dia sendiri paham bahasa Arab sehingga dia bisa memahamkannya makna dua kalimat syahadat setelah beberapa hari dan malam, maka itu suatu yang bagus.

Kemudian, mungkin dia shalat dan boleh jadi tidak. Kadang pula dia mengajarkannya al-Fatihah dalam waktu yang cukup panjang padahal yang mengajarkannya itu memiliki agama dalam batas tertentu. Jika gurunya tersebut adalah salah satu kopian dari dirinya (maksudnya, sama-sama bodoh, ed.), maka dari mana orang yang miskin (ilmu) ini akan mengetahui syariat-syariat Islam dan dosa-dosa besar untuk bisa menjauhinya, lalu kewajiban-kewajiban untuk dilaksanakannya? Jika dia diperkenalkan bahwa ini adalah dosa-dosa besar yang membinasakan dan diberi peringatan terahdapnya, lalu diajarkan segala yang wajib dan dia pun meyakininnya, maka dia adalah seorang yang berbahagia, dan itu adalah langka.

Maka seyogyanya bagi seorang hamba untuk memanjatkan puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala anugerah keafiatan (pada dirinya).

Jika ada yang berkata, “Orang tersebut telah lalai karena tidak bertanya tentang apa yang wajib atas dirinya.”

Dapat dijawab, “Bahwa inilah yang ada di dalam benak kepalanya, dan orang bersangkutan tidak merasakan bahwa bertanya kepada orang yang bisa mengajarkannya adalah suatu kewajiban atas dirinya. Dan orang yang menginginkan agar Allah tidak menjadikan cahaya untuk dirinya, maka dia tidak mendapatkan cahaya. Tidaklah seseorang berdosa kecuali setelah dia mengetahui terlebih dahulu, dan setelah hujjah tegak atas dirinya, dan Allah Maha Lembut atas hamba-hamba-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Dan Kami tidak akan mengazab (seseorang) sehingga Kami mengutus seorang Rasul.” (QS. Al-Isra: 15).

Dan (sebagai contoh) sejumlah pembesar sahabat berada di negeri Ethiopia, lalu kewajiban dan keharaman (untuk sesuatu) turun kepada Nabi, namun keharaman tersebut tidak sampai kepada mereka kecuali setelah beberapa bulan, maka dalam bulan-bulan tersebut mereka dianggap memiliki alasan syar’i, karena tidak mengetahui hingga dalil sampai kepada mereka. Maka setiap orang yang tidak mengetahui maka dia dianggap memiliki alasan (udzur) hingga dia mendengar dalil. Wallahu a’lam.

Sumber: 76 Dosa Besar yang Dianggap Biasa, Al-Imam Al-Hafizh adz-Dzahabi, Tahqiq Muhyiddin Misti, Darul Haq Cetakan 3 2011/1432 H

Artikel www.Yufidia.com




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *