Oleh: Muhammad Abdur Rabb
Bismillahirrahmanirrahim
Aku memuji Allah di hadapanmu, serta berselawat dan mengucapkan salam kepada Rasulullah. Suratmu telah sampai kepadaku, wahai saudaraku. Di dalamnya engkau mengeluhkan suramnya hari-harimu, sedikitnya penghasilanmu, terputusnya sumber penghidupanmu, kematian para kekasihmu, ketusnya orang-orang di sekitarmu, gugurnya harapan dalam hatimu, dan munculnya keputusasaan dalam dadamu, sampai hampir-hampir huruf yang engkau tulis mengucurkan darah.
Wahai saudaraku! Ketahuilah bahwa sejak dunia ini diciptakan, ia punya sunnatullah yang tidak pernah meleset, siapa yang mengetahuinya dan hidup dengan menerimanya, niscaya akan beruntung. Sedangkan orang yang melakukan hal selain itu, niscaya akan sengsara. Jiwa manusia dan dunia ini telah diciptakan dengan tabiat bahwa segala kenyamanan akan didahului dengan keletihan, segala kelelahan akan diikuti dengan kebahagiaan. Sedangkan kebahagiaan yang terus-menerus tanpa didahului atau diselingi dengan keletihan, maka akan hilang rasa, aroma, dan keindahannya. Jiwa yang hidup tanpa kesengsaraan, maka itulah kesengsaraan yang lebih parah. Namun jika ia dilimpahi dengan kemewahan setelah berlelah-lelah, maka kemewahan itu semakin nikmat.
Hal ini pasti engkau temui telah digariskan dalam setiap sudut kehidupan dunia. Maha Suci Allah Sang Pencipta, yang telah menciptakan, mewujudkan, dan mengatur segala hal sesuai dengan tempatnya yang sesuai. Pohon-pohon ini butuh usaha besar dan keletihan hingga dapat berbuah dan tampak indah dengan berbagai warna yang mempesona. Begitu juga dengan bayi-bayi yang baru lahir dan segala susah payah yang menyertainya, yang mungkin mengancam hidup ibunya atau bayi itu sendiri. Kemudian ia bergelut dengan rasa sakit luar biasa yang silih berganti hingga mampu berdiri sendiri. Demikianlah segalanya di dunia butuh perjuangan dan kesabaran agar mencapai kebaikan.
Demikianlah yang akan engkau temui dalam setiap sendi kehidupan manusia. Kesehatan yang dinikmati dalam waktu lama tanpa pernah merasakan sakit atau gangguan kesehatan ringan dapat mematikan kepekaan jiwa terhadap nikmat kesehatan ini, ia menjadi bosan dan jenuh dengannya, karena setiap gangguan akan mengundang kebahagiaan, sedangkan kenikmatan yang tidak diselingi dengan itu semua akan berbalik menjadi kesengsaraan dan kegelisahan, meskipun tampilan luarnya membuatmu terpukau.
Pada hakikatnya, musibah yang menimpa jiwa itu justru melatihnya, mendidiknya, menyucikannya, memuliakan derajatnya, dan memberinya pelajaran, hikmah, dan pengalaman yang bermanfaat. Apalagi jika kita mengetahui bahwa itu adalah musibah yang tidak datang secara kebetulan, tetapi berasal dari Allah?!
Jiwa itu apabila dibiarkan sepenuhnya memilih segala hal yang ia inginkan, niscaya akan rusak. Jika demikian, adakah orang yang akan tetap bertahan mengurus istri, anak, perdagangan, atau belajar? Pasti engkau akan mendapatinya setiap hari mencoba hal yang baru, hingga mengerahkan seluruh waktunya padanya tanpa bisa menikmati apa pun atau bertahan dengan siapa pun.
Para ahli psikologi perkembangan telah menyadari hal ini dan berkata seandainya ada anak kecil punya banyak pilihan mainan atau permen, pasti kebahagiaannya akan berkurang. Namun seandainya engkau memberinya dua pilihan saja, pasti ia akan lebih bahagia.
Jiwa manusia punya tabiat untuk hidup dalam musibah. Bahkan ini adalah cara paling sempurna untuk hidup bahagia. Musibah akan berbeda-beda sesuai dengan personal, lingkungan, waktu, dan kekuatannya. Namun, Allah tidak akan menurunkan musibah kecuali disertakan bersamanya pertolongan yang membuat jiwa manusia mampu memikul dan hidup bersama musibah itu serta berjuang menyelesaikannya.
Di sisi lain, ini merupakan pilihan dari Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan pilihan-Nya pasti pilihan terbaik dari pilihan manapun. Allah tidak akan memilihkan kecuali yang paling baik dan paling bermaslahat. Lalu bagaimana engkau masih gelisah, sedangkan engkau telah mengetahui bahwa apa yang Allah timpakan —berupa perkara yang berada di luar kuasamu— adalah hal yang terbaik bagimu? Apakah engkau mengaku masih beriman, sedangkan ketika melihat sesuatu yang engkau benci, hatimu langsung memberontak dan kesabaranmu habis? Apakah engkau mengaku sabar, meskipun ketika melihat hal yang tidak engkau sukai, engkau segera menampakkan keluh kesah dan umpatan?
Padahal dasar keimanan adalah dengan beriman kepada hal-hal gaib ini. Engkau beriman kepada Tuhanmu meskipun engkau tidak melihat-Nya, beriman kepada hari Kiamat meski tidak melihatnya, beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga demikian, beriman bahwa seluruh syariat-Nya itu baik meskipun engkau belum melihat seluruh hikmah di baliknya. Inilah hakikat keimanan dan keyakinan, dan sesuai kadar keyakinanmu, sekadar itu pula keberuntunganmu. Oleh sebab itu, yakinlah dengan kebaikan takdir yang Allah tetapkan bagimu, karena itu adalah kebaikan entah akan terlihat dalam waktu dekat atau lambat, ia adalah pembersih dosa-dosa dan peninggi derajat, pengoreksi sikap-sikapmu, serta penghilang keburukan yang ada dalam dirimu dan orang di sekitarmu.
Betapa banyak orang yang punya kenikmatan berlimpah ruah yang dikelilingi banyak orang, seakan-akan mereka adalah burung merpati yang berkumpul berebut makanan. Namun, ketika datang musibah menimpanya, mereka kabur darinya dan terbongkarlah kedustaan dan keburukan mereka. Bukankah itu lebih baik daripada ia harus tertipu? Mereka menipu dan memanfaatkannya tanpa ia sadari. Demi Allah, seandainya engkau merenungkan hikmah-hikmah Allah, niscaya engkau tidak akan mengeluh sedikit pun atas takdir-Nya.
Solusi datang terlambat karena engkau butuh diperas lebih keras agar musibah itu dapat mengeluarkan hal terindah yang ada dalam dirimu, menghilangkan segala hal murahan yang menempel padamu. Ia bagaikan himpitan yang mampu engkau tahan, tetapi mengeluarkan segala kotoran darimu. Musibah ini datang menimpamu sesuai dengan kadar kekuatanmu, tidak akan datang musibah yang tidak mampu engkau pikul. Allah Ta’ala menurunkan pada manusia kekuatan yang cukup untuk menyikapi musibah ini. Bacalah firman-Nya jika engkau mau:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).
Bacalah juga:
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami dengan sesuatu yang tidak sanggup kami pikul.” (QS. Al-Baqarah: 286).
Dan disebutkan juga dalam hadis:
“Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kokoh, maka ujiannya akan semakin berat. Sebaliknya, jika agamanya masih lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kadar agamanya.”
Terkadang solusi terlambat datang karena engkau belum berdoa dengan cara yang benar, karena engkau belum mendekat kepada Allah Yang Maha Agung lebih intens, karena amalanmu belum punya kekuatan yang cukup, karena Allah ingin mendekatkamu dulu kepada-Nya sebelum mengabulkan doamu, ingin mengaruniakan kepadamu kedekatan itu dan menganugerahkan untukmu keutamaan dan rahmat-Nya. Andai tidak turun musibah kepadamu, mungkin engkau tidak berdoa kepada-Nya. Seandainya dirimu mengaku akan menjadi orang baik jika solusi segera datang, maka sampaikan kepada dirimu bahwa kenikmatan yang datang bukan pada waktunya hanya akan menjadi musibah bagi seorang hamba, menjauhkannya dari Tuhannya, mematikan penghambaan dalam dirinya, dan membinasakan kepekaannya terhadap nikmat-nikmat dan cara menikmatinya.
Insan kamil yang memahami hal ini akan merasa bahagia atas setiap musibah yang menimpanya. Ada seseorang dari mereka yang berkata: “Tidak ada kebahagiaan yang tersisa lagi bagiku selain pada menerima ketetapan Allah.” Sehingga apabila ia memperoleh kesehatan dan kebaikan, ia akan bersyukur kepada Allah dan menunaikan hak atas nikmat itu. Namun, apabila ia mendapat selain itu, ia akan bersabar dan tetap ridha. Inilah orang mukmin yang seluruh urusannya baik baginya, dalam keadaan apa pun ia hidup, ia ada dalam kebahagiaan.
Janganlah mengira bahwa semua isi dunia ini hanya gelap dalam gulita, atau engkau harus hidup selamanya dalam keadaan selalu siap menghadapi kegelapan. Namun, masa keselamatan justru lebih banyak daripada masa musibah, kesulitan hanya gangguan sedangkan kemudahan adalah kondisi asal.
Namun, banyak manusia yang menjadikan satu harinya yang pahit menjadi seperti berhari-hari, masa sulit yang sekejap menjadi begitu panjang. Saat ia tertimpa musibah, ia mengeluh, mengucap sumpah serapah, meraung-raung, dan mengungkit musibahnya yang ringan itu selama berhari-hari. Tidak ada seorang pun, baik itu yang ia kenal atau tidak, melainkan pasti akan ia luapkan keluh kesahnya kepadanya. Ia mengeluh, menampakkan rasa sakit dan rintihannya. Musibah kecilnya yang menimpanya menjadi besar, dan mungkin beberapa orang terkasihnya ikut merasakan sakitnya dan membuatnya turut gundah gulana. Padahal engkau tahu bahwa seandainya orang itu menyabarkan diri —meskipun ia bukan orang yang sabar— pasti kondisinya lebih baik daripada ia tidak menyabarkan diri sama sekali. Begitu juga orang yang memberanikan diri —meskipun ia orang yang penakut— pasti ia menjadi lebih pemberani daripada orang pengecut yang menampakkan ketakutannya. Telah ditegaskan juga dalam agama kita bahwa siapa yang menyabarkan diri, niscaya Allah akan menjadikannya mampu bersabar, dan siapa yang mencukupkan diri, niscaya Allah akan memberinya kecukupan.
Sumber:
