Oleh:

Abdurrahim bin Adil al-Wadi’i

Seorang hamba diuji di dunia ini dengan orang yang merenggut haknya, baik itu pada kehormatannya, hartanya, dirinya, dan lain sebagainya. Namun, di antara hal yang menjadikan musibahnya itu terasa lebih mudah adalah kedatangannya pada hari kiamat untuk mengambil amal kebaikan orang yang telah berbuat buruk kepadanya sebagai qisas (pembalasan). Hanya saja, ada perkara yang sepatutnya diingat oleh setiap Muslim terhadap musuh dan orang-orang yang telah berbuat buruk terhadapnya – yang itu mengandung pahala lebih besar dan timbal balik yang lebih banyak – yaitu memberi ampun dan maaf bagi mereka, karena perkara ini dapat mendatangkan ampunan dan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-Nya.

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah menjelaskan hal ini dengan berkata: “Ketahuilah bahwa engkau memiliki dosa-dosa antara dirimu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan engkau takut mendapatkan akibat buruknya, serta berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memaafkan, mengampuni, dan memakluminya bagimu. Selain itu, kamu juga berharap tidak hanya berhenti pada pemberian maaf dan ampunan, tetapi juga agar Dia melimpahkan kenikmatan dan karunia kepadamu, mendatangkan kepadamu manfaat dan kebaikan yang melebihi apa yang engkau harapkan.

Oleh sebab itu, apabila engkau mengharapkan ini dari Tuhanmu, dan ingin agar Dia membalas keburukanmu dengan segala kebaikan itu, maka sudah sepantasnya engkau memperlakukan makhluk-Nya seperti itu juga, engkau balas keburukan mereka dengan kebaikan darimu, agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memperlakukan dirimu seperti itu, karena balasan itu sesuai dengan amalannya, sehingga sebagaimana engkau memperlakukan dengan baik orang yang berbuat buruk terhadapmu, demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memperlakukanmu terhadap dosa-dosa dan keburukannya, sebagai balasan yang setimpal.

Maka setelah ini, terserah engkau akan membalas dendam atau justru memberi maaf, membalas dengan kebaikan, atau tidak membalas, karena sebagaimana engkau berbuat, begitu pula engkau dibalas, sebagaimana engkau memperlakukan para hamba-Nya, demikianlah Dia memperlakukanmu. Siapa yang memperhatikan dan mencermati hal ini, niscaya akan mudah baginya untuk berbuat baik kepada orang yang telah berbuat buruk terhadapnya.” (Kitab Badai’ul Fawaid jilid 2 hlm. 774).

Lihatlah contoh luar biasa berikut ini: Imam Ahmad Rahimahullah berkata: “Setiap orang yang menyebut diriku dengan keburukan telah aku maafkan, kecuali pelaku bid’ah. Bahkan saya juga telah memaafkan Abu Ishaq Al-Mu’tashim, karena saya mendapati Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?(QS. An-Nur: 22).

Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam memerintahkan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu untuk memberi pemaafan pada kisah Misthah. Kemudian beliau bersabda: ‘Dan apa manfaat bagimu ketika Allah mengazab saudara muslimmu karena sebab dirimu? Maka maafkan dan ampunilah, sehingga Allah akan mengampunimu sebagaimana Dia telah menjanjikan itu bagimu.’” (Kitab Siyar A’lam an-Nubala jilid 11 hlm. 261).

Jadikanlah ungkapan ini selalu ada di depan matamu: “Dan apa manfaat bagimu ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengazab saudara muslimmu karena sebab dirimu?!” Jangan mengira ketika engkau memaafkan saudaramu, kebaikan-kebaikanmu akan lenyap begitu saja dan balasan atas kezaliman yang engkau terima itu sirna. Sama sekali tidak! Justru balasannya akan berkali-kali lipat, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatur balasan bagimu.

Sungguh indah riwayat yang diriwayatkan kepada kita ini! Apabila di hari kiamat, akan didatangkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala salah seorang hamba-Nya yang Dia beri keluasan harta. Allah Subhanahu wa Ta’ala l berfirman kepadanya: Apa yang telah engkau kerjakan di dunia? Hamba itu menjawab: “Wahai Tuhanku! Engkau telah mengaruniakan harta kepadaku, kemudian dulu aku berjual beli dengan orang-orang, dan di antara sifatku adalah memaafkan. Dulu aku memberi kemudahan bagi orang yang berkecukupan, dan memberi penundaan pembayaran bagi orang yang kekurangan.” Allah lalu berfirman: “Aku lebih layak dengan sifat ini daripada kamu, ampunilah hamba-Ku ini!” (HR. Muslim no. 1560).

Oleh sebab itu, berilah maaf, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih pantas untuk memberimu maaf. Ampunilah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih layak untuk memberi ampunan. Dan kasihilah, karena orang-orang pengasih akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih.

Dalam biografi Mas’ud Al-Hamadani yang ada dalam kitab Tarikh Al-Islam disebutkan bahwa beliau sering kali mengucapkan: “Masa lalu tidak perlu diingat lagi!” Lalu dikisahkan bahwa ada yang melihat beliau dalam mimpi, dan beliau ditanya: “Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala lakukan terhadapmu?” Beliau menjawab: “Dia memberhentikanku di hadapan-Nya, lalu Dia berfirman: Wahai Mas’ud! Masa lalu tidak perlu diingat lagi! (Wahai para malaikat) bawalah dia ke surga!’

Syaikhul Islam berkata – ketika menjelaskan sebab-sebab yang dapat membantu dalam bersabar atas gangguan orang lain –: “Seseorang harus bersaksi bahwa apabila ia memaafkan dan membalas dengan kebaikan, maka itu akan menumbuhkan kebersihan hati terhadap saudara-saudaranya, dan kesucian hati dari sifat khianat, kebencian, berusaha membalas dendam, dan keinginan buruk (terhadap orang yang menyakitinya).

Ia juga akan merasakan manisnya memberi maaf yang lebih nikmat dan lebih bermanfaat – dalam jangka pendek maupun panjang – berkali-kali lipat daripada manfaat yang diraih dari membalas dendam. Ia juga akan termasuk dalam cakupan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.’ (QS. Ali Imran: 134).

Sehingga ia menjadi orang yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan keadaannya seperti orang yang dirampas darinya satu dirham lalu diberi ganti rugi sebanyak ribuan dinar, sehingga ia sangat berbahagia luar biasa atas karunia yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepadanya.” (Kitab Jami Al-Masa’il jilid 1 hlm. 170).

سَامِحْ أَخَاكَ الدَّهْرَ مَهْمَا بَدَتْ مِنْهُ ذُنُوبٌ وَقْعُهَا يَعْظُمُ

Maafkanlah saudaramu sepanjang waktu, meskipun datang darinya, Dosa-dosa yang terasa sangat besar.

وَارْحَمْ لِتَلْقَى رَحْمَةً فِي غَدٍ فَرَبُّنَا يَرْحَمُ مَنْ يَرْحَمُ

Kasihilah, agar engkau mendapat belas kasih di hari esok, Karena Tuhan kita Maha Pengasih kepada orang yang mengasihi.

Maafkan dan maklumilah orang yang berbuat buruk terhadapmu! Dan ingatlah bahwa balasannya akan datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apalah arti pahala kebaikan yang engkau ambil dari orang yang menzalimimu jika dibandingkan dengan balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang Maha Pemurah?!

Betapa indah hari ketika engkau mengucapkan dengan lisanmu – dan ini tidak akan mampu dilakukan kecuali orang yang mendapat taufik dari Allah –: “Ya Allah, sungguh aku telah memaafkan semua orang yang telah berbuat buruk terhadapku, maka maafkan dan ampunilah aku, karena Engkau lebih layak dan lebih pantas memaafkan dan mengampuni!”

 

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/11874/180130/ماذا-لو-عفوت-عنهم؟/

Sumber artikel PDF

Flashdisk Video Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28