Pernah berdoa seperti ini?
“Ya Allah, beri aku rumah yang bentuknya begini.”
“Ya Allah, beri aku istri yang tingginya sekian, rambutnya begini.”
Terdengar sungguh-sungguh, tetapi para ulama menyebutnya al-i’tida’ fid-du’a, melampaui batas dalam berdoa.
Allah Ta’ala berfirman:
ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ
“Berdoalah kepada Rabbmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-A’raf: 55)
Ayat ini umum: Allah tidak menyukai yang melampaui batas dalam doa. Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa melampaui batas dalam doa itu bermacam-macam, dan di bawah ayat inilah beliau mengutip kisah ‘Abdullah bin Mughaffal di bawah ini.
Adapun Syaikh As-Sa’di menulis: “Di antara bentuk melampaui batas adalah seorang hamba meminta kepada Allah perkara yang tidak pantas baginya, atau berlebih-lebihan dalam meminta.” (Tafsir As-Sa’di, QS Al-A’raf: 55)
Contohnya ada pada kisah seorang sahabat dan anaknya:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُغَفَّلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَهُ يَقُوْلُ: اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الْأَبْيَضَ عَنْ يَمِيْنِ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا. فَقَالَ: أَيْ بُنَيَّ، سَلِ اللهَ الْجَنَّةَ، وَعُذْ بِهِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: سَيَكُوْنُ قَوْمٌ يَعْتَدُوْنَ فِي الدُّعَاءِ
Dari ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar anaknya berkata, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu istana putih di sebelah kanan surga apabila aku memasukinya.” Maka ia berkata, “Wahai anakku, mintalah surga kepada Allah, dan berlindunglah kepada-Nya dari neraka. Sungguh aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Akan ada kaum yang melampaui batas dalam doa.’”
(HR. Ibnu Majah no. 3864, lafal ini miliknya; Abu Daud no. 96 dan Ahmad no. 16801 dengan sedikit perbedaan lafal. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 3130)
Perhatikan: yang diminta anak itu adalah surga, permintaan yang baik. Tetapi karena ia merincinya sampai letak dan warnanya, ayahnya tetap menegur. Lalu ia diajari gantinya: mintalah surga, dan berlindunglah dari neraka. Umum, tetapi mencakup segalanya.
Mengapa harus begitu? Kata Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir: karena Allah lebih mengetahui dirimu daripada engkau sendiri. Andai seluruh pilihan diserahkan kepadamu, niscaya engkau memilih yang lebih buruk daripada yang Allah tetapkan. Sebagian salaf berkata, “Andai takdir disingkapkan, niscaya apa yang ditakdirkan akan dipuji.” Dan demi Allah, Allah lebih sayang kepada seorang hamba daripada hamba itu kepada dirinya sendiri.
Maka mintalah yang umum: istri yang salihah, bukan istri yang tingginya sekian. Rezeki yang baik dan luas, bukan harta sebanyak sekian. Surga Firdaus yang tertinggi, bukan istana di sudut tertentu. Dan hafalkan doa yang Syaikh sebut sebagai salah satu doa paling agung karena ada dalam Al-Qur’an:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan: 74)
Catatan penting: yang dilarang adalah mendikte rincian yang berlebihan dan tidak ada tuntunannya. Adapun menyebut hajat tertentu, seperti memohon kesembuhan, kelapangan rezeki, atau lunasnya utang, itu diajarkan dalam doa-doa Nabi ﷺ sendiri, dan bukan termasuk larangan ini.
***
Faedah ceramah Syaikh ‘Abdussalam Asy-Syuwai’ir hafizhahullah, program Nasehat Ulama, YouTube Yufid.TV.
Video lengkapnya di kanal YouTube Yufid.TV.
