Oleh: Prof. Dr. Hilmi Abdul Hakim al-Fiqi

Kematian adalah musibah teragung dan petaka terbesar. Bahkan, ia merupakan puncak dari musibah dan petaka. Allah Yang Maha Benar juga telah menyebutnya sebagai musibah. Dia berfirman:

إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ

“Jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa musibah kematian.” (QS. Al-Maidah: 106).

Musibah ini adalah bencana terbesar dan malapetaka paling dahsyat. Kematian merupakan perkara yang sangat berat dan petaka yang luar biasa. Tidak ada yang benar-benar mengetahui hakikatnya kecuali orang yang telah mengalaminya. Apabila kematian dinilai sebagai musibah oleh Sang Pencipta, lalu bagaimana lagi menurut perhitungan makhluk?!

Pada hakikatnya, kematian merupakan madrasah yang penuh pelajaran, guru yang agung, dan pembimbing yang besar. Kematian adalah penasihat yang bijak, pelajaran yang penting, dan peringatan mendalam yang dapat kita saksikan dengan mata kepala kita siang dan malam, pagi dan sore. Ia berseru di seluruh penjuru semesta, menggema di cakrawala langit, dan berderit di berbagai penjuru bumi dengan seruan, “Bangunlah dari tidur panjang kalian! Sadarlah dari kelalaian kalian! Taatilah Tuhan kalian! Berhentilah dari kesesatan kalian!”

Allah Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).

Setiap saat di siang atau malam hari, kita melihat orang-orang yang pergi dari kehidupan ini, memasuki liang kubur, dan tidak pernah kembali lagi ke kehidupan ini selamanya. Seakan-akan kematian memanggil seluruh manusia. Kalimatnya dapat didengar oleh seluruh alam semesta,

“Aku akan terus kembali kepada kalian, menjemput arwah kalian satu persatu dan memutus umur kalian, baik itu yang muda maupun yang tua, yang sehat maupun yang sakit, hingga tidak tersisa lagi kecuali Tuhan alam semesta. Semua yang ada di atas muka bumi akan binasa dan tidak akan tersisa kecuali Tuhanmu Sang Pemilik keagungan dan kemuliaan.”

Oleh karena itu, kematian merupakan madrasah yang tidak ada tandingannya, universitas yang tidak ada yang serupa dengannya. Kematian mengajarkan orang beriman pelajaran yang sangat berharga dan hikmah yang mulia. Di antaranya:

  • Allahlah yang menghidupkan dan mematikan.

Dia Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, dan Dia tidak akan pernah mati. Hanya Allah yang mengatur seluruh alam semesta, baik perkara yang kecil maupun yang besar. Hanya Dialah yang mampu menghidupkan dan mematikan. Menghidupkan merupakan wujud karunia-Nya, sedangkan mematikan merupakan wujud keadilan-Nya.

Pada setiap detik kehidupan, terdapat jutaan makhluk hidup yang dimatikan dan jutaan makhluk mati yang dihidupkan. Pada saat yang sama, kita menyaksikan dimulainya kehidupan bagi sebagian makhluk. Dengan mata kepala sendiri, kita menjadi saksi ketika Tuhan semesta alam mematikan pemuda yang gagah perkasa dan membiarkan pria dan wanita jompo hidup lama hingga waktu yang telah ditentukan.

Hanya Dialah yang memiliki kuasa untuk menghidupkan dan mematikan. Inilah hakikat keimanan yang sama sekali tidak diragukan seorang mukmin. Inilah yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta Tabaraka wa Ta’ala sejak azali. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

“Dan sesungguhnya Dialah (Allah) yang mematikan dan menghidupkan.” (QS. An-Najm: 44).

  • Madrasah kematian merupakan pedang yang mematikan sifat tercela menunda-nunda.

Sifat ini telah menjerumuskan banyak manusia yang lalai dan lengah ke dalam lembah curam di neraka Jahim. Barang siapa yang memahami pelajaran agung dari penasihat senyap yang penuh hikmah di madrasah kematian yang menembus batas dimensi waktu dan tempat, maka hendaklah ia segera menepis debu kelalaian dari pundaknya serta mencabut akar kemalasan dari ruhnya yang telah mencengkeram dengan kuku-kuku kuatnya di sekujur jiwa, yang membuatnya terhalang untuk memperbaiki jiwanya dan menyucikan hatinya.

Madrasah kematian mendorong insan yang berakal untuk segera bertobat kepada Tuhannya, mengintrospeksi dan mengoreksi dirinya, serta mendisiplinkan dirinya atas kemalasan, kelemahan semangat, dan penundaan tobatnya, sebelum ditumbangkan oleh maut yang menghampirinya secara tiba-tiba tanpa peringatan dan tanpa pandang bulu, baik itu kepada anak muda maupun orang tua, orang sehat maupun sakit, menteri maupun rakyat jelata, pemimpin maupun yang dipimpin, kaya maupun miskin, orang penting maupun orang biasa.

  • Madrasah kematian menumbuhkan harapan akan rahmat Allah dan rasa takut terhadap azab-Nya dalam diri orang-orang yang menempuh jalan untuk meraih rida Rabb semesta alam.

Madrasah ini meruntuhkan keputusasaan dan menanamkan harapan dalam hati mereka. Betapa sering kita menyaksikan orang saleh yang meninggal dunia dalam kefasikan dan kemaksiatan. Betapa banyak pelaku kemaksiatan dan kefasikan yang akhirnya bertobat kepada Tuhannya, lalu kembali ke jalan yang benar sehingga meninggal dunia di atas jalan yang lurus, jalan orang-orang yang mendapat hidayah, dan  jalan orang-orang yang membawa kebaikan.

Lihatlah Abu Sufyan bin Harb yang mayoritas hidupnya menjadi musuh sengit dan merupakan pimpinan besar dalam memusuhi Islam dan kaum muslimin. Beliau memusuhi kebenaran dan membela kekafiran dalam jangka waktu yang lama. Namun, akhir hidupnya ditutup dengan kebaikan dan ketakwaan, jihad di jalan Allah, dan menghadapi musuh-musuh Allah.

Sebaliknya, Abu Thalib, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghabiskan seluruh umurnya untuk membela kebenaran dan para pengusungnya, mengorbankan segala hal yang berharga dan bertahun-tahun dari hidupnya untuk itu. Namun, hidupnya berakhir di atas kekafiran. Na’udzubillah.

Ini hanyalah satu dari banyak pelajaran mendalam yang diajarkan oleh madrasah kematian bagi segenap umat manusia, khususnya kaum muslimin. Janganlah kalian putus asa dari rahmat dan ampunan Pencipta kalian, Yang Maha Lembut, Maha Pemberi Karunia, Maha Pengampun, Maha Pengasih, Maha Baik, serta Maha Penerima tobat. Kalian telah menyaksikan kisah seorang lelaki dari Bani Israil yang membunuh seratus orang, lalu bertobat kepada Tuhannya, dan Allah pun mengampuninya.

Akan tetapi, pada waktu yang sama, waspadalah bahwa kematian akan menjemput kalian pada waktu yang tidak pernah kalian duga dan momen yang tidak pernah kalian perhitungkan. Bersegeralah bertobat kepada Tuhan kalian, bergegaslah kembali ke pangkuan-Nya, dan berlindung di sisi-Nya sebelum kematian datang menghampiri dengan tiba-tiba, sedangkan kehadirannya merupakan hal yang pasti terjadi.

  • Manusia berbeda-beda dalam menyikapi kematian.

Ada banyak orang yang menyikapi kematian dengan dingin dan lalai, seolah-olah mereka sudah merasa terjamin akan meraih surga dan keridaan Allah. Mereka tidak mengerahkan apa pun untuk mendapatkan surga, seakan-akan surga hanya barang murahan yang dapat ditebus dengan kemalasan dan bisa dibayar dengan kegagalan dalam memperbaiki diri dan menyeru orang lain menuju jalan kebenaran.

Mereka tidak memahami agama ini kecuali bahwa Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang dan rahmat-Nya meliputi segala hal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

جَعَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ، وَأَنْزَلَ فِي الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ، حَتَّى تَرْفَعَ الْفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا، خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ

“Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan rahmat-Nya 100 bagian. Dia menahan di sisi-Nya 99 bagian, dan menurunkan ke bumi satu bagian. Dari satu bagian itulah seluruh makhluk saling berkasih sayang, sampai-sampai seekor kuda mengangkat kakinya dari anaknya karena khawatir akan menginjaknya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Tidak diragukan lagi bahwa hadits ini sahih. Tetapi, faedah dari hadis ini adalah untuk menumbuhkan harapan dalam diri para pendosa untuk bertobat, menyesali dosanya yang telah terjadi, dan memperbaiki perbuatannya di masa depan dengan semangat yang tinggi dan tekad yang kuat. Hadis ini menyalakan tekad dalam hati orang yang pernah lalai, mendorongnya untuk terus memperbaiki amalannya, bersegera melakukan kebaikan, dan meninggalkan kemungkaran.

Adapun orang-orang malas dan lengah yang enggan beramal, namun di sisi lain mereka berharap dapat meraih kedudukan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam beramal, dengan dalil bahwa rahmat Allah mencakup segala hal, maka tentu ini merupakan pola pikir sesat, keburukan kronis, dan prasangka dangkal, serta dugaan keliru. Sebab, siapa yang berprasangka baik kepada Allah, pasti ia akan memperbaiki amalannya.

  • Orang yang paling bodoh adalah mereka yang justru menjadikan kematian sebagai pelajaran untuk bersegera menikmati berbagai kesenangan, menumpuk segala hal yang menyenangkan, dan mengumpulkan sebanyak mungkin kenikmatan dunia sebelum kematian datang secara tiba-tiba.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia; kami mati dan kami hidup, dan tidak ada yang membinasakan kami selain masa.’ Padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu; mereka hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah: 24).

Orang-orang itu tidak mengetahui bahwa seandainya mereka dapat merengkuh dunia dengan segala isinya yang berupa harta, kesehatan, kedudukan, dan kekuasaan, itu semua tidak akan bermanfaat sedikit pun bagi mereka. Kehidupan dengan segala isinya ini di sisi Allah tidak lebih dari sekedar seperti sayap nyamuk.

 

Penutup

Manusia yang cerdas adalah yang menjadikan madrasah kematian sebagai penyemangat yang menyulut keteguhan hati dan bahan bakar yang mengobarkan tekad mereka. Mereka bersegera untuk memperbaiki hati dan menyucikan jiwa, bergegas menuju amal-amal saleh dan meninggalkan amal-amal buruk, serta menyeru orang lain menuju jalan Rabb mereka dan menyambut tangan mereka menuju hidayah, petunjuk, taufik, dan jalan yang lurus.

 

***

Sumber: 

https://www.alukah.net/sharia/11875/180298/الموت-واعظ-بليغ-ومعلم-حكيم/ 

PDF Sumber Artikel

Flashdisk Video Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28