Search
Tuesday 21 November 2017
  • :
  • :

Keutamaan Dzikir

Keutamaan Dzikir

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على من لانبي بعده اما بعد:

Saudaraku, sesungguhnya mengingat Allah dapat menghidupkan hati, membersihkan karatnya, menghilangkan kekerasannya dan dapat mengalahkan hawa nafsu yang sebelumnya menguasainya serta dapat menghubungkannya kepada Allah Azza wa Jalla.

Kita diperintahkan Allah banyak mengingat-Nya, firman-Nya:

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepadaKu, serta jangan ingkar (kepada nikmat-Ku)”. (QS. Al Baqarah:152)

… laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzaab: 35)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata tentang ayat di atas, “Maksudnya adalah mereka mengingat Allah setelah shalat, pada waktu pagi dan petang, ketika berada di tempat tidur, ketika bangun tidur, ketika pergi atau pulang ke rumah mereka mengingat Allah.”

Mujahid berkata, “Seseorang tidak termasuk laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah sampai ia mengingat Allah ketika berdiri, duduk, dan berbaring.”

Beberapa Faedah Tentang Dzikir

Imam Nawawi berkata, “Para ulama sepakat bolehnya berdzikir dengan hati dan lisan bagi orang yang berhadats, junub, wanita haidh dan nifas. Dan hal ini pada tasbih, tahlil (ucapan Laailaahaillallah), tahmid, takbir, bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdoa dan lain-lain. Akan tetapi, membaca Alquran, maka tidak boleh bagi orang yang junub, haidh dan nifas, baik membaca sedikit maupun banyak atau separuh ayat, namun boleh bagi mereka melantunkan Alquran dengan hati tanpa dilafazkan, demikian pula melihat ke mushaf, serta membacanya dalam hati.”[1]

Imam Nawawi berkata, “Dzikir itu bisa dengan hati dan lisan, dan yang paling utama adalah dengan hati dan lisan secara bersamaan. Jika hanya salah satunya, maka dengan hati lebih utama. Kemudian tidak patut dzikir dengan lisan bersama hati ditinggalkan karena takut dikira riya’, bahkan ia tetap berdzikir dengan keduanya dan mengharap keridhaan Allah dengannya. Telah kami sebutkan perkataan dari Fudhail rahimahullah, bahwa meninggalkan amal karena karena manusia adalah riya’. Dan sekiranya dibukakan bagi manusia pintu perhatian manusia serta menjaga diri dari persangkaan mereka yang batil, tentu banyak pintu-pintu kebaikan yang tertutup baginya, dan ia menyia-nyiakan sesuatu yang besar dari perkara agama yang penting bagi dirinya dan ini bukanlah jalan orang-orang yang ‘arif.”

Beliau juga berkata, “Ketahuilah keutamaan dzikir tidak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir, dsb. Bahkan semua yang mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka berarti dia berdzikir kepada Allah. Demikianlah yang dikatakan Sa’id bin Jubair radhiallahu ‘anhu dan para ulama yang lain. ‘Atha’ rahimahullah berkata, “Majlis dzikir adalah majlis halal dan haram, majlis tentang bagaimana engkau membeli dan menjual, shalat, puasa, menikah, mentalak, berhajji dan semisalnya.”

Beliau juga berkata, “Sepatutnya orang yang berdzikir dalam keadaan yang paling sempurna. Jika ia duduk di suatu tempat sambil menghadap kiblat dan duduk dalam keadaan tunduk, khusyu’, tenang dan sopan sambil menundukkan kepala (tentu lebih utama), namun kalau ia berdzikir dalam keadaan selain ini, maka boleh dan tidak makruh baginya, namun jika tidak ada uzur, maka ia telah meninggalkan yang utama. Dalil bahwa yang demikian tidak makruh adalah firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,— (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi .” (Terj. Ali Imran: 190-191)

Beliau juga berkata, “Ketahuilah, bahwa dzikir disukai dalam semua keadaan kecuali dalam keadaan yang syara’ mengecualikannya. Kami akan sebutkan sedikit daripadanya untuk mengisyaratkan selainnya yang akan diterangkan di babnya insya Allah Ta’ala. Di antaranya adalah dimakruhkan berdzikir ketika duduk buang air besar, ketika berjima’, ketika berlangsung khutbah bagi orang yang mendengar suara khatib, ketika berdiri dalam shalat, bahkan ia sibukkan dengan membaca Alquran, dan ketika mengantuk. Dan tidak makruh ketika berada di jalan dan di kamar mandi. Wallahu a’lam.

Beliau juga berkata, “Maksud dari dzikir adalah hadirnya hati. Oleh karena itu, sepatutnya hal itu menjadi maksud orang yang berdzikir, sehingga ia berusaha untuk mewujudkannya, memikirkan apa yang ia sebut dan mengerti maknanya.”

Beliau juga berkata, “Disukai memutuskan dzikir karena sebabnya, lalu ia kembali lagi setelah sebab itu hilang. Di antaranya adalah apabila ada orang yang memberi salam kepadanya, maka ia jawab salamnya, lalu ia kembali berdzikir. Demikian pula apabila ada orang yang bersin di dekatnya, lalu ia mendoakannya kemudian melanjutkan dzikir. Demikian juga ketika mendengar khatib, mendengar muazin, maka ia menjawab dalam kalimat azan dan iqamat, lalu kembali berdzikir. Demikian pula ketika dia melihat kemungkaran, maka ia menyingkirkannya, atau ada hal ma’ruf yang perlu ia tunjukkan atau orang yang meminta petunjuk yang perlu ia jawab, lalu ia kembali berdzikir. Demikian pula ketika rasa kantuk menguasainya atau semisalnya dan hal lain yang serupa ini.”

Beliau juga berkata, “Ketahuilah, bahwa dzikir-dzikir yang disyariatkan baik dalam shalat maupun di luarnya, yang wajib maupun yang sunat tidaklah dianggap dan dipandang sampai ia mengucapkannya, dimana ia dapat memperdengarkan dirinya jika sehat pendengarannya; tidak ada yang menghalanginya.”

Keutamaan Dzikir

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ.

Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhari dalam Fathul Bari 11/208.

Imam Muslim meriwayatkan dengan lafazh sebagai berikut:
“Perumpamaan rumah yang digunakan untuk dzikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan untuk dzikir, seperti orang hidup dengan yang mati”. (Shahih Muslim, 1:539).

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِيْ دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ))؟ قَالُوْا بَلَى. قَالَ: ((ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى.

Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi Rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu, lalu kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?” Para sahabat yang hadir berkata, “Mau (wahai Rasulullah)!” Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi”. (HR. Tirmidzi 5:459, Ibnu Majah 2:1245. Lihat pula Shahih Tirmidzi 3:139 dan Shahih Ibnu Majah 2:316.)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

 يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.

Allah Ta’ala berfirman, Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat) jika dia ingat Aku.  Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. al-Bukhari 8:171 dan Muslim 4:2061. Lafazh hadits ini riwayat Bukhari.)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ اْلإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِيْ بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. قَالَ: ((لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ.

Dari Abdullah bin Busr radhiallahu ’anhu, dia berkata: Ada seorang lelaki berkata, “Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya syariat Islam telah banyak bagiku, oleh karena itu, beritahulah aku sesuatu sebagai pegangan.” Beliau bersabda, “Tidak hentinya lidahmu basah karena dzikir kepada Allah (lidahmu selalu mengucapkannya).” (HR. At Tirmidzi 5:458, Ibnu Majah 2:1246, lihat pula dalam Shahih at-Tirmidzi 3:139 dan Shahih Ibnu Majah 2:317.)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ: {الـم} حَرْفٌ؛ وَلَـكِنْ: أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ حَرْفٌ، وَمِيْمٌ حَرْفٌ.

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Alquran, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan akan dilipatkan sepuluh semisalnya. Aku tidak berkata: Alif laam miim, satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi 5:175. Lihat pula Shahih At-Tirmidzi 3:9 dan Shahih Jaami’ush Shaghiir 5:340.)

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ فَقَالَ: ((أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيْقِ فَيَأْتِيْ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِيْ غَيْرِ اِثْمٍ وَلاَ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ؟ )) فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ. قَالَ: ((أَفَلاَ يَغْدُوْ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ، أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ اْلإِبِلِ.

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam keluar, sedang kami di serambi masjid (Madinah). Lalu beliau bersabda, “Siapakah di antara kamu yang senang berangkat pagi pada setiap hari ke Buthhan atau Al-Aqiq, lalu kembali dengan membawa dua onta yang besar punuknya, tanpa mengerjakan dosa atau memutus silaturrahim?” Kami (yang hadir) berkata: “Ya kami senang, wahai Rasulullah!” Lalu beliau bersabda, “Daripada memperoleh empat (onta), dan jika lebih maka lebih baik pula dari sejumlah onta.” (HR. Muslim 1/553) Apakah seseorang di antara kamu tidak berangkat pagi ke masjid, lalu memahami atau membaca dua ayat Alquran, hal itu lebih baik baginya daripada dua onta.  Jika (memahami atau membaca) tiga (ayat) akan lebih baik daripada memperoleh tiga (onta). Jika (memahami atau membaca) empat ayat akan lebih baik baginya

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ، وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ.

Barangsiapa yang duduk di suatu tempat, lalu tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, pastilah dia mendapatkan penyesalan dari Allah dan barangsiapa yang berbaring dalam suatu tempat lalu tidak berdzikir kepada Allah, pastilah mendapatkan penyesalan dari Allah.” (HR. Abu Dawud 4/264; Shahihul Jaami’ 5/342)

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيْهِ، وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ.

Apabila suatu kaum duduk di majlis, lalu tidak berdzikir kepada Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabinya, pastilah ia mendapat penyesalan, maka jika Allah menghendaki bisa menyiksa mereka dan jika menghendaki mengampuni mereka.” (Shahih at-Tirmidzi 3:140.)

 مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً.

Setiap kaum yang berdiri dari suatu majelis, yang mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka mereka seperti berdiri dari bangkai keledai dan hal itu menjadi penyesalan mereka (di hari Kiamat).” (HR. Abu Dawud 4/264, Ahmad 2/389 dan Shahihul Jami’ 5/176)

Manfaat Dzikir

Dzikir memiliki banyak manfaat, di antaranya:

  1. Mengusir setan.
  2. Membuat ridha Allah Ar Rahman.
  3. Menghilangkan kesedihan dan kegundahan.
  4. Menguatkan hati dan badan.
  5. Menyinari wajah.
  6. Mendatangkan rezeki.
  7. Mewariskan sikap kembali kepada Allah.
  8. Memberikan kewibawaan.
  9. Menjadikan hati hidup.
  10. Makanan bagi hati.
  11. Menggugurkan dosa-dosa.
  12. Menghilangkan kerisauan antara hamba dengan Tuhannya.
  13. Sebab turunnya malaikat.
  14. Sebab jauhnya lisan dari ghibah (membicarakan orang lain).
  15. Majlis dzikir adalah majlis para malaikat.
  16. Sebagai ibadah yang paling mudah.
  17. Menjadi tanaman surga.
  18. Memberikan cahaya bagi orang yang berdzikir di dunia.
  19. Dzikir merupakan puncak segala urusan.
  20. Dzikir membangunkan hati dari tidurnya (lihat al Waabilush Shayyib).

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘ala Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Oleh: Marwan bin Musa

Artikel www.Yufidia.com

Maraji’: Dzikirullah (Syaikh Thariq Asy Syaikh), Hishnul Muslim (Dr. Sa’id Al Qahthani), Al Adzkaar (Imam Nawawi), Risalah fid dima’ith thabii’iyyah (Syaikh Ibnu ’Utsaimin) dll.


[1]Namun menurut Imam Bukhari, Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir, hal itu adalah boleh. Bahkan Imam Bukhari menyebutkan secara mu’allaq (tanpa sanad) dari Ibrahim An Nakha’iy bahwa tidak mengapa bagi wanita haidh membaca Alquran.Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin, sebaiknya wanita yang haidh tidak membaca Alquran kecuali jika dibutuhkan, misalnya ia sebagai pendidik untuk mengajarkan Alquran kepada wanita lain atau ia sedang ujian, di mana ia butuh untuk membaca Alquran.


Description: hr muslim 1553, ketahuilah 11 keutamaan dzikir, pembagian dzikir



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *