Oleh: Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr
Segala puji hanya bagi Allah, Yang Maha Mengaruniakan kepada hamba-Nya, segala nikmat-Nya yang lahir dan batin. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Semoga selawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada beliau, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat.
Amma ba’du:
Saya telah mendengar rekaman suara dari sambutan yang terhormat Amir Khalid al-Faishal, yang memuji Amir Sulthan bin Abdul Aziz, semoga Allah merahmatinya dan menempatkannya di surga-Nya. Amir Khalid berkata dalam sambutan itu, “Saya belum pernah mendengar, melihat, dan membaca dalam sejarah seluruh manusia yang lebih murah hati daripada Amir Sulthan bin Abdul Aziz.”
Kemudian, beliau menyebutkan ucapan yang sangat berlebihan dalam memuji kemurahan hati Amir Sulthan bin Abdul Aziz. Bahkan jauh melebihi Hatim ath-Tha’i, orang yang menjadi lambang kemurahan hati dan kedermawanan. Dia mengatakan bahwa perbandingan antara kedermawanan Hatim ath-Tha’i dengan kedermawanan Sulthan bin Abdul Aziz tidak sampai satu berbanding satu juta.
Tidak diragukan lagi bahwa Amir Sulthan bin Abdul Aziz rahimahullah memang terkenal dengan kedermawanannya pada zaman ini, juga kebaikan dan bantuannya dalam berbagai bentuk kebaikan, yang disertai dengan wajah yang ramah dan akhlak yang baik. Namun, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“… Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil, kendatipun kepada kerabat kalian sendiri …” (QS. Al-An’am: 152).
Ungkapan “sepanjang sejarah manusia” yang dipakai oleh Amir Khalid sangatlah berlebihan dan tidak seharusnya beliau menggunakan ungkapan seperti ini. Sebab, umat manusia dimulai sejak manusia pertama, Adam ‘alaihish shalatu wassalam, orang yang paling mulia dan paling dermawan adalah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tidak diragukan lagi bahwa penggunaan ungkapan oleh Amir Khalid ini adalah bentuk kekeliruan karena tidak terlintas dalam benaknya kedermawanan makhluk yang paling mulia dan dermawan, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya tidak demikian, niscaya beliau tidak akan mengucapkan ungkapan seperti itu. Banyak sekali hadis yang diriwayatkan hingga mencapai derajat mutawatir, yang menunjukkan tingkat kedermawanan dan kemurahan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Saya pernah menyampaikan seminar pada tahun 1383 Hijriyah—sekitar 50 tahun yang lalu—di Universitas Islam Madinah dengan judul, “Di antara Akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Murah Hati”. Materi seminar ini juga menjadi bagian dari kumpulan buku dan artikelku. Dalam materi itu disebutkan tentang kedermawanan dan kemurahan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sebagai berikut:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencapai derajat tertinggi dalam akhlak kedermawanan dan kemurahan hati, yang tidak dapat dicapai oleh manusia lainnya. Dalam hal ini, beliau telah mencapai tahap yang menjadi puncak dari kesempurnaan manusia.
Di antara bentuk taufik dari Allah bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dia menjadikan kedermawanan beliau berlipat ganda pada waktu-waktu yang memiliki keutamaan. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dalam hadis sahih:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling murah hati, terutama pada bulan Ramadan, ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam menemuinya. Jibril ‘alaihissalam datang kepada beliau setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih cepat dalam berbuat baik daripada angin yang berembus.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Beliau bermurah hati dengan dirinya sendiri untuk berjuang di jalan Allah hingga gigi beliau patah, kulit kepala beliau sobek, dan darah bercucuran dari tubuh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bermurah hati dengan mengerahkan diri sendiri adalah tingkat tertinggi dari kemurahan hati.
Selain itu, beliau juga bermurah hati dengan mengerahkan kedudukan beliau. Sebagai contoh, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi syafaat bagi Mughits, suami Barirah radhiyallahu ‘anhuma (dahulu keduanya adalah budak). Ketika Barirah dimerdekakan oleh tuannya, ia memilih untuk bercerai dengan Mughits. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kepada Barirah agar tetap menjaga hubungan pernikahan dengan Mughits karena beliau merasa kasihan terhadap suaminya itu.
Contoh lain yang paling istimewa dalam hal ini adalah syafaat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikan kepada manusia ketika di padang Mahsyar, saat para rasul ulul ‘azmi (Ibrahim, Musa, dan Isa) berlepas diri dari pemberian syafaat. Lalu, manusia yang ada di padang Mahsyar itu akhirnya sampai kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda, “Akulah yang akan memberi syafaat.” Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap nabi punya doa yang mustajab, tetapi tiap-tiap mereka telah memakai doa itu dan telah dikabulkan. Namun, aku menjadikan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat.” (HR. Bukhari).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bermurah hati dengan harta yang telah Allah karuniakan kepada beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah dimintai harta dunia lalu menjawab, “Tidak!”
Pernah datang seorang wanita tua kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa baju yang ditenun. Wanita itu berkata, “Aku menenunnya sendiri dengan tanganku agar engkau dapat memakainya, wahai Rasulullah!”
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima baju itu karena membutuhkannya, kemudian beliau memakainya. Salah satu sahabat lalu berkata kepada beliau, “Berikanlah baju itu kepadaku, wahai Rasulullah!” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Baiklah.” Kemudian beliau memasuki rumah dan melipat baju itu, lalu menyuruh agar baju itu diberikan kepada sahabat tersebut.
Hal ini membuat seorang sahabat berkata kepada sahabat yang meminta itu, “Kamu tidak berbuat baik. Baju itu dipakai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau membutuhkannya. Lalu kamu memintanya, padahal kamu mengetahui bahwa beliau tidak akan menolak permintaan!”
Sahabat itu menjawab, “Demi Allah! Sungguh aku tidak meminta baju itu untuk aku pakai, tapi aku memintanya sebagai kain kafanku.” Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Dan benar, baju itu akhirnya dipakai untuk menjadi kain kafannya.”
Ini adalah salah satu contoh dari sifat murah hati yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah ada kemurahan hati yang lebih besar daripada itu dari seorang makhluk?! Apakah ada sikap mementingkan orang lain yang lebih besar daripada itu?!
Allah Ta’ala telah menyebutkan sifat kaum Anshar dalam Al-Qur’an al-Karim bahwa mereka memiliki sikap lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Dia berfirman:
“… dan mereka (kaum Anshar) lebih mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr: 9).
Sifat mulia yang mereka miliki ini, sebagaimana sifat-sifat mulia lainnya, mereka meneladaninya dari pemimpin umat manusia, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu …” (QS. Al-Ahzab: 21).
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dari perang Hunain, orang-orang Arab Badui (yang baru masuk Islam) berkerumun di sekitar beliau untuk meminta harta ganimah dari beliau. Hal ini sampai membuat beliau terpojok ke salah satu pohon Samurah (pohon berduri yang dahulu tumbuh di pedalaman) sehingga baju luar beliau tersangkut pohon itu. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, lalu bersabda:
“Berikanlah kepadaku baju luarku! Seandainya aku punya unta sejumlah pepohonan yang ada di sini, niscaya kalian mendapati aku bukan orang yang pelit, pendusta, dan pengecut.”
Kemurahan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memberi kepada sebagian orang adalah untuk meneguhkan mereka di atas agama Islam. Sering kali, beliau mengistimewakan orang-orang yang baru masuk Islam dengan pemberian yang banyak. Lain halnya terhadap orang-orang yang telah memiliki keimanan yang kokoh dalam hati mereka.
Pada perang Hunain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi para pembesar kaum Quraisy ratusan unta. Salah satunya adalah kepada Shafwan bin Umayyah. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab ash-Shahih bahwa Shafwan bin Umayyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberiku begitu banyak, padahal beliau adalah orang yang paling saya benci. Namun, beliau terus memberiku hingga menjadi orang yang paling saya cintai.”
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata, “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dimintai sesuatu atas dasar Islam, kecuali beliau pasti akan memberikannya. Sungguh, dahulu pernah ada seseorang yang datang kepada beliau, lalu beliau memberinya kambing sebanyak gerombolan kambing yang memenuhi tempat antara dua bukit. Kemudian orang itu pulang ke kaumnya dan berkata, ‘Wahai kaumku! Masuklah Islam, karena Muhammad memberi pemberian seperti orang yang tidak takut miskin.’”
Lalu Anas menambahkan, “Mungkin ada orang yang masuk Islam tetapi tidak mengharapkan sesuatu kecuali harta dunia. Namun, tidak lama setelah itu, agama Islam menjadi hal yang lebih dia cintai daripada dunia dan seisinya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi orang itu kambing-kambing yang begitu banyak hingga memenuhi hamparan tanah antara dua bukit. Lalu, apa hasil dari pemberian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini? Hasilnya adalah tercapainya tujuan dari pemberian beliau, yaitu akhirnya orang itu menjadi dai bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lelaki itu menjadi dai secara sukarela bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyeru kaumnya untuk masuk Islam, menjelaskan kepada mereka kemurahan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menyampaikan kepada mereka bahwa beliau telah memberinya pemberian seperti pemberian orang yang tidak takut miskin.
Demikianlah, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerahkan harta benda di jalan pembelaan terhadap Islam, dakwah, dan seruan kepadanya. Beliau menginfakkan harta yang telah Allah karuniakan kepada beliau di jalan Allah. Bahkan, hingga ketika beliau wafat, baju perang beliau masih tergadai sebagai jaminan utang yang beliau miliki.
Di antara hadis yang menunjukkan kemurahan hati dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aku tidak suka bila emas sebesar gunung Uhud ini menjadi milikku, dan bermalam di rumahku hingga tiga malam, kemudian aku masih menyimpannya satu dinar darinya, kecuali satu dinar tersebut akan gunakan untuk membayar utangku, atau kecuali aku akan memberikannya kepada hamba-hamba Allah begini, begini dan begini.” Beliau lantas mendemonstrasikan (dengan genggaman tangannya) ke kanan, kiri, dan belakangnya (yakni memberikannya untuk berbagai bentuk kebaikan).
Beliau juga bersabda:
“Sesungguhnya orang yang banyak mengumpulkan harta adalah orang-orang yang akan sedikit (bagiannya) di akhirat, kecuali orang yang menggunakan hartanya begini dan begitu (sambil mendemonstrasikan dengan tangannya ke kanan, kiri, dan belakang, yakni memberikannya untuk berbagai bentuk kebaikan); Namun betapa sedikitnya orang yang melakukan itu.” (HR. al-Bukhari no. 6444 dan Muslim no. 2304).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah panutan dan teladan bagi para sahabat dan lainnya dalam akhlak terpuji, di antaranya adalah akhlak murah hati dan dermawan. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma juga memiliki sifat mulia ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya dengan sanad yang hasan, dari Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari pernah memerintahkan kami untuk bersedekah; dan ketika itu kebetulan saya punya banyak harta, maka aku bergumam dalam hati, ‘Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar, jika aku memang dapat mengalahkannya’.
Lalu aku datang membawa setengah dari hartaku (untuk disedekahkan). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab, ‘Harta yang sebanyak ini juga.’
Lalu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu datang dengan seluruh hartanya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?’ Dia menjawab, ‘Aku sisakan bagi mereka Allah dan rasul-Nya!’ Maka aku katakan, ‘Aku tidak akan pernah mampu mengalahkanmu sekali pun.’”
Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar mengagungkan pahala dan balasan bagi yang terhormat Amir Sulthan atas harta yang beliau sedekahkan untuk berbagai bentuk kebaikan, dan mengampuni yang terhormat Amir Khalid, dan mengaruniakan kepada semuanya keteguhan di atas kebenaran dan kelurusan dalam berucap, dan keikhlasan dalam beramal. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan Doa.
Selawat, salam, dan keberkahan semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau.
***
Sumber:
