السخرية والاستهزاء بالآخرين

Oleh:

Dr. Abdurrahman bin Said Al-Hazimi

د. عبدالرحمن بن سعيد الحازمي
يشاع في بعض المجتمعات الإسلامية السخرية ببعض الأفراد أو القبائل أو الجنسيات أو المهن الحرفية، عن طريق إطلاق النكات الساخرة أو العبارات القبيحة التي تقدح وتقلل من فكرهم ومكانتهم الاجتماعية، والأدهى من ذلك أنه يتم تداولها عبر بعض وسائل الإعلام الحديثة، ولا شك أن هذه السخرية والاستهزاء من وسائل تصدع أركان المجتمع المسلم؛ لما تبثه في نفس المستهزئ به من حقد وكراهية وعداوة على الآخرين، وتنعكس بالتالي على رقي المجتمع وتقدمه.

Banyak tersebar di sebagian masyarakat Muslim kebiasaan menghina personal, suku, kewarganegaraan, atau pekerjaan tertentu. Baik itu dengan cara melempar sindiran atau ungkapan-ungkapan kotor yang dapat menyakiti dan merendahkan pikiran dan kedudukan sosial mereka. Lebih buruknya lagi, perbuatan tersebut juga disebarkan melalui beberapa platform media sosial. Tidak diragukan bahwa hinaan dan celaan merupakan salah satu faktor yang dapat meruntuhkan pondasi persatuan kaum Muslimin, karena dapat memicu dalam diri orang yang dihina kebencian, kedengkian, dan permusuhan terhadap orang lain yang menghinanya, sehingga menjadi sangat kontraproduktif terhadap kemajuan kehidupan bermasyarakat.

ولقد حرمت الشريعة الإسلامية السمحة السخرية بالآخرين في كثير من التوجيهات في القرآن الكريم والسنة المطهرة، فمن ذلك:
أولاً: قول الله تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴾

Syariat Islam yang penuh rahmat telah mengharamkan perbuatan menghina orang lain dalam banyak tuntunannya, baik itu yang ada dalam Al-Qur’an Al-Karim atau As-Sunnah Al-Muthahharah, di antaranya adalah:

Pertama:

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11).

ثانياً: عَنْ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: لَقِيتُ أَبَا ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ وَعَلَى غُلَامِهِ حُلَّةٌ، فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ: إِنِّي سَابَبْتُ رَجُلًا فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ، فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ؟! إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَـا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُـمْ فَأَعِينُوهُمْ “[البخاري، صحيح البخاري، كتاب: العتق، باب: المعاصي من أمر الجاهلية ولا يكفر صاحبها بارتكابها إلا بالشرك لقول النبي صلى الله عليه وسلم: إنك امرؤ فيك جاهلية، حديث رقم: 29.].

Kedua:

Diriwayatkan dari Al-Ma’rur bin Suwaid Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan, “Aku pernah berjumpa dengan Abu Dzar di Rabadzah (nama tempat yang terletak di antara Makkah dan Madinah). Ketika itu Abu Dzar memakai pakaian indah, begitu juga dengan budaknya. Akupun bertanya tentang hal itu, dan dia berkata, ‘Dulu aku pernah mencela seorang lelaki dan menghina ibunya, sehingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda kepadaku:

يا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ؟! إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَـا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُـمْ فَأَعِينُوهُمْ

“Wahai Abu Dzar, apakah kamu menghina ibunya? Sungguh kamu adalah orang yang dalam dirinya masih ada sifat jahiliyah! Mereka para pembantu kalian adalah saudara-saudara kalian, Allah menjadikan mereka berada di bawah kuasa kalian. Maka barang siapa yang ada saudaranya berada di bawah kuasanya, hendaklah ia memberinya makan dengan makanan yang ia makan, memberinya pakaian dengan pakaian yang ia makan, dan janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak mereka mampu, serta jika kalian membebani mereka pekerjaan, bantulah mereka.” (HR. Al-Bukhari No. 29).

ثالثاً: عَن جَابِر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَال: غَزَوْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدْ ثَابَ مَعَهُ نَاسٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ حَتَّى كَثُرُوا، وَكَانَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلٌ لَعَّابٌ فَكَسَعَ[4] أَنْصَارِيًّا فَغَضِبَ الْأَنْصَارِيُّ غَضَبًا شَدِيـدًا حَـتَّى تَدَاعَـوْا، وَقَـالَ الْأَنْصَارِيُّ: يَـا لَلْأَنْصَارِ، وَقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ: يَا لَلْمُهَاجِرِينَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ، ثُمَّ قَالَ: مَا شَأْنُهُمْ، فَأُخْبِرَ بِكَسْعَةِ الْمُهَاجِرِيِّ الْأَنْصَارِيَّ، قَالَ: فَقَالَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم -: دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ[البخاري، صحيح البخاري،كتاب: المناقب، باب: ما ينهى من دعوة الجاهلية، حديث رقم: 3257.].

Ketiga:

Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan, “Kami pernah berperang bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Banyak kaum Muhajirin yang berada di sekeliling beliau. Dulu di antara kaum Muhajirin itu ada seorang lelaki yang suka bercanda, lalu dia memukul pantat salah seorang dari kaum Anshar, sehingga orang itu marah besar, sampai-sampai mereka saling memanggil kaumnya.

Orang dari kaum Anshar itu berseru, ‘Wahai kaum Anshar!’ Dan orang dari Muhajirin itu juga berseru, ‘Wahai kaum Muhajirin!’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai keluar dan bersabda, ‘Seruan kaum Jahiliyah macam apa ini?!’ Kemudian beliau bertanya, Apa yang terjadi pada mereka? Lalu diceritakan kepada beliau bahwa ada lelaki dari Muhajirin yang memukul pantat seorang lelaki dari Anshar. Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu bersabda, ‘Tinggalkanlah perbuatan itu, karena itu amat jelek!’” (HR. Al-Bukhari No. 3257).

إن التوجيهات في هذا الباب كثيرة جداً، والمؤمن الذي يرجو الله واليوم الآخر يجب عليه أن يبتعد عن هذه المثبطات التي اعتبرها النبي صلى الله عليه وسلم من بقايا الجاهلية، حتى يعيش المجتمع المسلم مجتمعاً متراحماً متعاوناً، يضع الجميع يدهم في يد بعض، فتذوب الفوارق المزيفة والدعاوى المنحرفة، ويبقى شعار المجتمع المسلم، قول الله تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴾

Tuntunan dalam perkara ini sangat banyak. Oleh sebab itu, seorang mukmin yang mengharap keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan balasan pahala pada Hari Kiamat harus menjauhi perkara yang disebut Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam sebagai sisa-sisa perbuatan jahiliyah ini, agar masyarakat Muslim dapat hidup bersatu, saling menyayangi, dan tolong menolong. Setiap orang harus saling bersatu berpegangan tangan, agar perbedaan-perbedaan semu dan fanatisme-fanatisme menyimpang dapat luntur, dan yang tersisa hanyalah slogan persatuan kaum Muslimin – yaitu firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11).

 

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/0/120248/السخرية-والاستهزاء-بالآخرين/

Sumber artikel PDF

Flashdisk Video Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28