Oleh: Aminah Ahmad Zadah

Kesabaran adalah bekal perjalanan, perjalanan hidup yang penuh duri dengan hamparan rintangan dan cobaan. Kesabaran adalah obat mujarab dan pengobatan manjur untuk meringankan ujian dan musibah. Orang yang beriman kepada Allah Ta’ala akan melihat ujian sebagai karunia dan musibah sebagai hadiah, sehingga ia bersabar dan mengharap pahala di belakangnya, berserah diri kepada Allah, rida dengan ketetapan-Nya, pasrah dengan qadha-Nya, mampu mengalahkan rasa sakitnya, dan tidak mengadukan keluhannya kecuali kepada Sang Pencipta.

Ia bagaikan emas. Musibah dan ujian tidak menambah kecuali kesabaran dan keteguhan, kekuatan dan ketegaran, tidak goyah oleh kesulitan, dan tidak gentar oleh musibah. Ia mengetahui hakikat dunianya, sehingga ia meneguhkan dirinya untuk menghadapi segala kesulitan dan beban yang ada di dalamnya, penuh keyakinan kepada Allah dan optimisme bahwa kehidupan yang tenang pasti datang, kesulitan akan datang bersama kemudahan, dan dengan kesabaran akan hadir jalan keluar.

Kesabaran bagi keimanan itu bagaikan kepala bagi jasad, sehingga tidak ada keimanan bagi orang yang tidak punya kesabaran. Barang siapa yang berusaha bersabar, niscaya Allah akan menyabarkannya, dan tidak ada seorang pun yang diberi sesuatu yang lebih baik dan lapang daripada kesabaran.

Kesabaran itu sebagaimana yang didefinisikan Ibnu al-Qayyim rahimahullah,

هُوَ حَبْسُ النَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ، وَحَبْسُ اللِّسَانِ عَنِ التَّشَكِّي، وَحَبْسُ الْجَوَارِحِ عَنِ الْمَعَاصِي

“Menahan diri dari kemurkaan, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan dari kemaksiatan.”

Sedangkan al-Hasan rahimahullah berkata, 

الصَّبْرُ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْخَيْرِ، لَا يُعْطِيهِ اللَّهُ إِلَّا لِعَبْدٍ كَرِيمٍ عِنْدَهُ

“Kesabaran adalah salah satu simpanan kebaikan yang berharga. Allah tidak akan mengaruniakan kesabaran kecuali bagi hamba yang mulia di sisi-Nya.”

Kesabaran adalah salah satu sifat Allah ‘Azza wa jalla. Dia tidak buru-buru membalas dan menyiksa hamba-hamba-Nya yang berbuat maksiat. Kesabaran juga merupakan akhlak para nabi dan rasul dan penghias diri orang-orang terpilih yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman,

أُولٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوْا وَيُلَقَّوْنَ فِيْهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا

“Mereka itulah orang-orang yang diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka disambut dengan penghormatan dan salam.” (QS. Al-Furqan: 75)

Lihatlah Nabi Ayyub ‘alaihissalam, ia tertimpa penyakit di badannya dan kehilangan keluarganya. Kendati demikian, beliau tetap bersabar dan mengharap pahalanya. Allah Ta’ala memujinya dengan berfirman,

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat.” (QS. Shad: 44)

Lihatlah juga Nabi Ya’qub ‘alaihissalam, yang menjadi simbol keridaan kepada Tuhannya dan kesabaran atas apa yang menimpanya. Beliau diuji dengan kehilangan putranya, Yusuf, setelah itu kehilangan adiknya juga. Namun, beliau tetap bersabar dan optimis, tetap menjaga asa dan harapan, tidak ada putus asa yang menyelinap ke dalam hatinya, dan tidak ada putus harapan yang mengalir dalam nadinya. Beliau justru berkata,

فَصَبْرٌ جَمِيْلٌ ۖ عَسَى اللّٰهُ أَنْ يَّأْتِيَنِيْ بِهِمْ جَمِيْعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

“Maka kesabaran yang indah itulah (prinsipku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 83). Pada akhirnya, Allah mewujudkan harapannya, dan mengembalikan penglihatan dan anak-anaknya kepadanya.

Demikian juga dengan kesabaran Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang harus menghadapi rentetan ujian dan cobaan. Dulu, tidaklah beliau keluar dari satu ujian kecuali masuk ke dalam ujian lainnya. Saudara-saudaranya menyusun makar baginya dan membuangnya ke dalam gelapnya sumur, dijual di pasar budak dengan harga murah seakan-akan mereka orang yang tidak butuh harta.

Kemudian beliau diuji dengan istri penguasa dengan tipu dayanya yang besar, tapi beliau tetap menjaga kehormatan diri. Namun, meskipun beliau terbukti tidak bersalah, beliau tetap dipenjara selama beberapa tahun. Nabi Yusuf ‘alaihissalam tetap menjaga kekuatan imannya, kebersihan hatinya, dan keluasan kesabarannya hingga datang solusi dari Allah. Dan Allah melimpahkan karunia kepadanya dengan menjadikannya sebagai bendahara negara. 

إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90)

Sedangkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemimpin orang-orang yang sabar. Beliau di jalan dakwahnya mendapat banyak gangguan dari para penyembah berhala dan pengusung kesyirikan. Beliau tetap bersabar dan mengamalkan firman Allah Ta’ala,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللّٰهِ

“Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُوْ الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْ

“Maka bersabarlah engkau sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati (Ulul ‘Azmi), dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 35)

Dulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berusaha keras untuk memberi hidayah bagi kaumnya, meskipun mereka terus bersikap keras dan menyakiti. Beliau senantiasa berdoa kepada Tuhannya agar melapangkan hati mereka untuk menerima Islam, beliau bersabda,

أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Aku berharap agar Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” 

Dulu, beliau adalah teladan bagi para sahabatnya. Beliau mendidik mereka dengan kesabaran yang diiringi dengan optimisme dan harapan, bahkan dalam kondisi yang paling genting.

Inilah sahabat yang mulia, Khabbab bin al-Arats, datang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah kafir Quraisy meluapkan kemarahan, kekerasan, dan gangguan kepada orang-orang beriman. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meski kondisi yang berat dan mencekam, beliau tetap menguatkan keteguhan mereka dan menyemangati mereka untuk terus bersabar,

قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُجْعَلُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ فِرْقَتَيْنِ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ عَظْمِهِ مِنْ لَحْمٍ وَعَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ اللَّهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ وَحَضْرَمَوْتَ مَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ تَعَالَى وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَعْجَلُونَ

“Dahulu sebelum kalian, ada seseorang yang ditangkap lalu dibuatkan lubang di dalam tanah dan ia dimasukkan ke dalamnya. Kemudian didatangkan gergaji lalu diletakkan di atas kepalanya hingga tubuhnya terbelah menjadi dua bagian, namun hal tersebut tidak memalingkannya dari agamanya. Dan disisir pula daging serta uratnya di bawah tulang dengan sisir-sisir besi, namun hal itu pun tidak memalingkannya dari agamanya.

Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan urusan (agama) ini hingga seorang pengendara berjalan dari San’a ke Hadramaut tanpa merasa takut melainkan hanya kepada Allah, atau takut serigala atas kambing gembalaannya, akan tetapi kalian senantiasa tergesa-gesa.” (Sunan Abi Dawud)

Khabab dan sahabat lainnya pun pergi setelah mendengar peneguhan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang pemberi kabar gembira di tengah ketakutan dan pengembus harapan di tengah keputusasaan. Mereka pergi dengan harapan yang dihiasi dengan kepercayaan kepada Allah, dan keyakinan kuat terhadap janji dan pertolongan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi seluruh umatnya banyak pelajaran dalam kesabaran, menjelaskan kepada mereka bahwa semakin berat cobaan maka semakin besar pahalanya. Beliau bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ ، وَإِنَّ اللّٰهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya balasan (pahala) itu sesuai dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang rida (menerima ujian tersebut), maka baginya keridaan (dari Allah), dan barang siapa yang murka, maka baginya kemurkaan (dari Allah).” (HR. at-Tirmidzi)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِيْ نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللّٰهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Ujian akan senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminat pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. at-Tirmidzi)

Musibah itu sebesar atau sekecil apapun, Allah tetap menjadikannya sebagai pembersih orang beriman dan penggugur dosa-dosanya. Dalam Sahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang muslim, baik berupa keletihan, penyakit, kecemasan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan berupa duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab musibah tersebut.” 

Betapa indah kabar gembira ini! Allah memberikannya kepada orang-orang yang sabar, yang tidak diberikan kepada selain mereka dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Orang-orang yang sabar akan berada dalam pembersamaan Allah ‘Azza wa Jalla, dan betapa indah pembersamaan ini! Pembersamaan yang berupa penjagaan dan perlindungan. Juga pembersamaan kasih sayang, keberkahan, dan rahmat. Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرُوْا ۚ إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ

“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Orang-orang yang sabar dicintai Allah Ta’ala,

إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Orang-orang yang sabar adalah orang-orang mulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Dia memerintahkan para malaikat untuk menemui mereka di dalam surga, mengucapkan salam, dan menyampaikan selamat atas pemuliaan Allah bagi mereka. Allah Ta’ala berfirman,

 وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ  سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“…sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), ‘Selamat sejahtera bagimu karena kesabaranmu.’ Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d: 23-24)

Orang-orang yang bersabar akan mendapat pahala mereka secara penuh dari Allah tanpa perhitungan.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Setelah semua ini, apakah masih ada orang yang berkeluh kesah, tidak sabar, dan tidak mengharapkan pahala-Nya, setelah melihat nikmat-nikmat yang besar dan karunia yang mulia dari Zat yang tidak pernah habis perbendaharaannya di bumi dan langit?

Selamat bagi kalian, wahai orang-orang sabar atas kesabaran kalian, dan selamat bagi kalian atas kabar gembira dari Tuhan kalian!

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Saudara muslimku, marilah kita jadikan kesabaran sebagai bekal di seluruh urusan dan kondisi kita, sebagai pelita yang menyinari jalan hidup kita, cahaya yang menyingkap kegelapan dalam musibah kita, serta teman penghibur di keterasingan zaman kita. 

Marilah kita bersabar atas kesulitan dan musibah, bertakwa kepada Tuhan langit dan bumi, agar kita menjadi orang-orang bahagia di negeri kekekalan. Marilah kita berbaik sangka kepada Allah, karena Dialah yang menyingkap kesulitan, menjadikan kemudahan setelah kesulitan, dan kelapangan setelah kesempitan, serta kebahagiaan setelah kesedihan.

Semoga Allah merahmati orang yang mengatakan,

يَا صَاحِبَ الْهَمِّ إِنَّ الْهَمَّ مُنْفَرِجٌ *  أَبْشِرْ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْفَارِجَ اللّٰهُ 

“Wahai pemilik kegundahan, sesungguhnya kegundahan pasti akan sirna. Bergembiralah dengan kebaikan, karena Allahlah yang menghadirkan solusi.”

 وَإِذَا بُلِيْتَ فَثِقْ بِاللّٰهِ وَارْضَ بِهِ * إِنَّ الَّذِيْ يَكْشِفُ الْبَلْوٰى هُوَ اللّٰهُ

“Jika engkau ditimpa musibah, maka percaya dan ridalah kepada Allah. Karena yang menghilangkan mara bahaya hanyalah Allah.”

وَاللّٰهِ مَا لَكَ غَيْرُ اللّٰهِ مِنْ أَحَدٍ * فَحَسْبُكَ اللّٰهُ فِيْ كُلٍّ لَكَ اللّٰهُ

“Demi Allah! Tidak ada penolong bagimu selain Allah. Maka cukuplah Allah bagimu, karena hanya Allah dalam segala urusanmu.”

 

Sumber: 

https://www.alukah.net/sharia/0/64155/وبشر-الصابرين/ 

PDF Sumber Artikel

Flashdisk Video Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28