Oleh: Muhammad Ilyas Muhammad Yunus Sakandari Yamani
Hati punya tabiat mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya, sehingga engkau dapat menyaksikan hati mencintai setiap orang yang berakhlak baik. Dalam hal ini, cinta terbagi menjadi beberapa tingkatan, dan cinta yang paling indah adalah cinta seseorang kepada keluarga dan anak-anaknya. Ada juga cinta yang lebih tinggi tingkatannya daripada itu, yaitu cinta seseorang kepada kedua orang tua dan berkhidmat kepada mereka berdua untuk meraih keridaan mereka, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridainya.
Kemudian ada cinta yang lebih tinggi dan mulia daripada dua cinta tersebut. Apakah engkau mengetahui cinta ini? Ia adalah cinta seseorang kepada Sang Pencipta Subhanahu wa ta’ala, karena tidak diragukan lagi bahwa Dia adalah Zat yang paling baik, Maha Mulia, dan Maha Agung bagi hamba-Nya. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan seluruh karunia dan kebaikan berasal dari-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Tidak ada karunia, kebaikan, dan kenikmatan kecuali berasal dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi karunia, sebagaimana yang Dia firmankan,
“Dan segala nikmat yang ada padamu, maka semuanya dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Oleh sebab itu, wajib bagi setiap muslim untuk mencintai Penciptanya dengan cinta tertinggi, karena Dia telah melimpahkan kenikmatan kepadanya, dan Dialah Yang Maha Esa.
Wahai saudaraku yang mulia, ketahuilah bahwa ada cinta yang lebih mulia dan agung lagi! Mungkin engkau bertanya-tanya, “Apakah masuk akal ada cinta yang lebih mulia dan tinggi daripada cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla?”
Benar, ada cinta yang lebih mulia dan agung daripada itu, yaitu cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya, karena cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah cinta yang paling agung di seluruh alam semesta. Tidak ada cinta yang menyamainya, baik itu sebelum atau sesudahnya. Itulah cinta Allah ‘Azza wa Jalla kepada hamba-Nya. Ia adalah tujuan langka dari hati yang beriman dan suci, harapan yang mengalahkan seluruh harapan, puncak cita-cita yang mengalahkan segala cita-cita.
Sering kali seorang hamba mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, tapi Dia tidak mencintainya. Na’udzubillah. Oleh karena itu, cinta Allah kepada hamba-Nya adalah cinta yang paling agung secara mutlak.
Apabila Allah telah mencintai hamba-Nya, maka Dia akan memberinya kemudahan dalam setiap urusan dunia dan akhiratnya, memasukkannya ke dalam surga-Nya, dan menyelamatkannya dari panasnya api neraka. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa pernah ada seorang anak kecil berada di tengah jalan.
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati tempat itu bersama beberapa orang sahabatnya. Ketika ibu anak tersebut melihat rombongan itu, ia khawatir anaknya akan terinjak, sehingga ia segera berlari dan menggendong anaknya secara berseru,
“Anakku! Anakku!”
Para sahabat kemudian berkata,
“Wahai Rasulullah, ibu ini tidak akan melempar anaknya itu ke dalam api.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi,
“Tidak. Dan Allah tidak akan melempar kekasih-Nya ke dalam neraka.” (Musnad Imam Ahmad no. 13467)
Wahai saudaraku yang mulia! Benar engkau mengatakan bahwa engkau mencintai Allah ‘Azza wa Jalla, dan kita semua juga mengklaim hal itu. Dan tidak ada seorang pun yang berani berkata bahwa ia tidak mencintai Allah Ta’ala, bahkan orang kafir sekalipun.
Namun, poin terpentingnya adalah apakah Sang Pencipta dan Pemilik dirimu yang merupakan Tuhanmu itu mencintaimu? Lalu bagaimana seorang hamba dapat mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintainya? Apa saja tanda cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya? Mari kita baca dan cermati, agar kita mengetahui beberapa tanda cinta Allah kepada hamba-Nya:
Pertama: Taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-Nya untuk beriman kepada-Nya, sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,
“Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada siapa saja yang Dia cintai atau tidak, tapi Dia tidak memberikan keimanan kecuali kepada siapa yang Dia cintai; maka apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memberinya keimanan.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 34545)
Kedua: Salah satu tanda cinta Allah kepada hamba-Nya adalah hamba itu mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang telah difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Katakanlah (hai Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu…’” (QS. Ali Imran: 31)
Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufik bagi hamba-Nya untuk mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah bahwa Allah mencintainya.
Ketiga: Di antara tanda cinta Allah kepada hamba-Nya adalah perlindungan dari syahwat dan fitnah dunia, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menjauhkannya dari dunia, sebagaimana salah seorang di antara kalian menjauhkan orang yang sakit dari air.” (Sunan at-Tirmidzi no. 2036)
Namun ini bukan berarti bahwa siapa yang dicintai Allah maka akan dijadikan miskin, dan yang dibenci akan dijadikan kaya, tapi maksudnya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi orang yang Dia cintai dari keterpautan kepada syahwat duniawi, mengalihkan hatinya dari cinta terhadap dunia dan sibuk dengannya agar tidak condong kepadanya.
Hal ini sebagaimana yang dikatakan al-Mulla Ali al-Qari saat menjelaskan hadis tersebut, “Yakni Allah melindunginya dari harta dan kedudukan duniawi serta hal-hal yang mendatangkan kemudaratan bagi agamanya dan melemahkan agamanya.” Sedangkan al-Asyraf menjelaskan, “Yakni mencegah dari dunia dan melindunginya dari mengotori diri dengan berhias dengan dunia, agar hatinya tidak terjangkit penyakit cinta dunia.” (Kitab Mirqah al-Mafatih karya al-Mulla Ali al-Qari 8/3286)
Keempat: Di antara tanda lainnya dari cinta Allah kepada hamba-Nya adalah taufik yang Allah berikan bagi hamba-Nya untuk bersikap lemah lembut, alih-alih bersikap kasar, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala perkara.” (Shahih al-Bukhari no. 6024)
Kelima: Di antara tanda cinta Allah adalah ujian dalam urusan agama dan duniawi yang diberikan kepada seorang hamba. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah. Dan barang siapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah.” (Sunan at-Tirmidzi no. 2396)
Maka apabila seorang hamba tertimpa musibah pada diri, harta, atau anaknya, maka hendaklah ia rida dan bersabar atas takdir dan ketetapan Allah, agar ia layak menjadi golongan yang dicintai Allah Ta’ala.
Wahai para pembaca yang budiman! Apabila seseorang telah mengetahui kecintaan Allah Ta’ala kepadanya, maka ia telah merasakan nikmat keimanan dan mencicipi rasa manisnya. Manisnya keimanan dan nikmatnya ketaatan adalah kenikmatan yang tidak diketahui nilainya kecuali oleh orang yang telah merasakannya dan hidup dengannya. Itu adalah nikmat yang pengaruhnya tidak akan dirasakan kecuali orang yang telah mencicipi rasanya dan merasakan wujudnya. Manisnya keimanan diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hati para hamba-Nya yang Dia pilih. Dan siapa yang telah merasakan nikmat keimanan, maka ia tidak lagi takut terhadap dunia dan siksanya.
Berikut ini beberapa kisah dari orang-orang yang telah merasakan manisnya keimanan, di antaranya adalah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu. Ketika ia masuk Islam dan merasakan manisnya iman, ia disiksa oleh kafir Quraisy di tengah gurun dan terik kota Makkah. Namun, lisannya tidak mengucapkan apapun kecuali kalimat tauhid. Ia berkata, “Ahad! Ahad! (Allah Yang Maha Esa).”
Ia tetap teguh hingga itu menjadi kalimat terakhirnya setelah melalui bertahun-tahun bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada akhir hidupnya ia berkata, “Besok aku akan bertemu kembali dengan orang-orang yang aku cintai, Muhammad dan para sahabatnya!”
Begitu juga kisah wanita penyisir rambut putri Fir’aun, wanita beriman yang telah merasakan manisnya keimanan, sehingga dunia dan siksaannya terasa ringan dan kecil baginya. Ia mampu menghadapi siksaan dan pembunuhan dengan hati yang rida demi meraih keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Juga Khalid bin al-Walid, sang pedang Allah yang terhunus, pejuang Islam radhiyallahu ‘anhu. Ketika keimanan telah merasuk ke dalam hatinya dan merasakan manisnya iman, ia berkata, “Malam yang dibawakan ke rumahku pengantin yang aku cintai atau kabar gembira atas kelahiran anakku, tidak lebih aku sukai daripada malam yang sangat dingin dalam sebuah pasukan dingin dari kaum Muhajirin untuk menyerang musuh pada waktu pagi.” (Kitab Majma az-Zawaid karya al-Haitsami, 9/350). Dan masih banyak kisah-kisah lainnya.
Wahai pembaca yang budiman! Apabila kita mencintai orang di sekitar kita, dan terpaut dengan dunia yang fana dan kenikmatannya, lalu kita lupa dengan cinta Allah ‘Azza wa Jalla kepada kita, apakah ada dari kita yang bertanya kepada diri sendiri, “Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintaiku? Atau kita saja yang mengaku mencintai Allah?”
Janganlah seperti itu! Apabila engkau mencintai Allah, maka hendaklah kamu mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang telah Allah firmankan,
“Katakanlah (hai Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
Kita banyak menyaksikan para pegawai dan pekerja di suatu perusahaan yang berusaha keras dalam pekerjaan demi mengambil hati para pimpinan mereka, dengan harapan dapat naik jabatan atau gaji. Namun, apakah ada dari kita yang bertanya pada dirinya, “Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintaiku?”
Ketika kita lalai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita telah lalai dalam menunaikan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal Dia yang telah melimpahkan banyak kebaikan kepada kita, tapi kita justru berani menentang-Nya dan bermaksiat kepada-Nya. Lalu di mana posisi kita dalam mencintai Allah dan menghayati keagungan-Nya? Apa yang telah menyibukkan kita? Dan betapa banyak kita telah lalai?
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan kepada kita cinta-Nya dan cinta Nabi-Nya, serta memberikan kepada kita manisnya keimanan. Kita memohon kepada Allah ampunan dan afiat dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/0/154199/حلاوة-حب-الله-تعالى-للعبد/
