Oleh: Dr. Nayif Nashir al-Manshur

Syahwat merupakan insting yang tertanam dalam diri manusia dari Allah Ta’ala, seperti syahwat nikah, syahwat makan, syahwat harta, dan lainnya. Namun, tingkat besar kecilnya syahwat berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya.

Kata syahwat dan hal-hal yang menjadi tempat syahwat disebutkan dalam al-Qur’an, yaitu dalam firman Allah Ta’ala,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Katakanlah, ‘Maukah aku beritakan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Bagi orang-orang yang bertakwa tersedia di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang disucikan serta keridaan dari Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 14-15)

Dalam ayat tersebut, urutan penyebutan syahwat ini diawali dengan syahwat terhadap wanita, karena ia adalah fitnah yang paling berat daripada syahwat-syahwat setelahnya. Sebagaimana juga disebutkan dalam ash-Shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku meninggalkan setelahku suatu ujian/fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada (fitnah) wanita.”

Seluruh syahwat yang disebutkan dalam ayat adalah syahwat-syahwat yang mubah, tapi ia bisa menjadi kemaksiatan dan dosa apabila tujuannya dalam menikmatinya berubah.

Apabila tujuan dalam syahwat terhadap wanita adalah untuk menikah, menjaga kehormatan diri, dan memperbanyak keturunan, maka ini adalah hal yang dianjurkan. Sebagaimana banyak hadis yang menyebutkan dorongan untuk menikah dan memperbanyaknya, “Karena sebaik-baik umat ini adalah yang paling banyak istrinya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ؛ إِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِنْ غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ فِيْ نَفْسِهَا وَمَالِهِ

“Dunia adalah perhiasan/kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita yang salehah. Jika suaminya memandangnya ia menyenangkannya, jika suaminya memerintahkannya ia menaatinya, dan jika suaminya pergi meninggalkannya ia menjaga dirinya dan harta suaminya.”

Beliau juga bersabda dalam hadis yang lain,

حُبِّبَ إِلَيَّ النِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصَّلَاةِ

“Diberikan rasa cinta kepadaku terhadap wanita dan wewangian, dan dijadikan penyejuk mataku berada di dalam salat.” 

Namun, jika yang dituju adalah zina dan perbuatan keji, maka ini adalah syahwat yang haram dan dilarang oleh syariat serta diberi konsekuensi hukuman bagi orang yang melakukannya.

Demikian juga dengan harta, apabila dibelanjakan untuk ibadah, menyambung silaturahmi dan kekerabatan, serta untuk kebaikan dan ketaatan lainnya, maka itu menjadi hal yang terpuji secara syariat. Sedangkan jika untuk berbangga dan menyombongkan diri, serta berbuat semena-mena terhadap orang-orang fakir, maka ini menjadi hal yang terlarang.

Demikian juga dengan kuda, jika tujuannya untuk berjihad di jalan Allah dan menolong agama-Nya, maka itu hal yang dianjurkan dan pelakunya akan mendapat pahala. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (QS. Al-Anfal: 60) 

Adapun jika tujuannya sebagai hewan tunggangan agar dapat sampai tujuan dalam safar, atau memeliharanya untuk kebutuhan sehari-hari agar dapat menjaga kehormatan diri, maka itu menjadi hal yang mubah. Sedangkan jika memeliharanya hanya untuk senang-senang, maka itu termasuk hal yang mubazir, atau untuk merampas harta orang lain, maka itu diharamkan.

Di antara syahwat yang ada di zaman kita sekarang adalah syahwat untuk begadang, bepergian, mendengar musik, menonton sinetron, dan masih banyak lagi. Lalu, bagaimana kita menyikapinya? Allah Ta’ala menjadikan syahwat-syahwat itu sebagai ujian dan cobaan, apakah kita akan bersyukur, bersabar, atau merenunginya? Allah Ta’ala berfirman,

لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ

“Agar Dia menguji kalian terhadap apa yang telah diberikan-Nya kepada kalian.” (QS. Al-An’am: 165)

Allah Ta’ala juga berfirman,

الم أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang jujur dan Dia pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 1-3)

Allah Ta’ala juga berfirman,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah ujian (fitnah), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)

Sebab yang membuat seseorang terjerumus ke dalam syahwat yang haram atau terlalu berlebihan dalam syahwat yang mubah adalah menuruti hawa nafsu, lalai dari ketaatan, teman yang buruk, dan meremehkan perbuatan maksiat. Allah Ta’ala telah mencela orang-orang seperti ini dengan berfirman,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوْا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوْا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Kemudian, menggantikan mereka generasi penerus yang mengabaikan salat dan mengikuti hawa nafsu. Mereka kelak akan tersesat.” (QS. Maryam: 59)

اعْلَمُوْا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِيْنَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan, dan saling membanggakan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.” (QS. Al-Hadid: 20)

Anas radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Sungguh kalian mengerjakan amalan-amalan yang di mata kalian lebih remeh daripada sehelai rambut, padahal dulu kami pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap itu sebagai hal yang membinasakan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati dunia dengan bersabda,

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

“Tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti seseorang di antara kalian yang memasukkan jarinya ke dalam lautan, maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jarinya itu.” Dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk.

Salah satu sebabnya juga adalah ketidaktahuan tentang kadar dunia, bahwa ia di sisi Allah sama sekali tidak sebanding dengan sayap nyamuk. Sebagaimana disebutkan dalam hadis,

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَزِنُ عِنْدَ اللّٰهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، مَا سَقٰى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia itu berharga di sisi Allah seberat sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi minum orang kafir walau seteguk air.” Juga dalam sabda beliau,

مَا لِيْ وَلِلدُّنْيَا؟ إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ قَالَ فِيْ ظِلِّ شَجَرَةٍ فِيْ يَوْمٍ صَائِفٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa urusanku dengan dunia? Tidaklah perumpamaanku dan perumpamaan dunia melainkan seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah naungan pohon pada hari yang panas, kemudian ia berangkat dan meninggalkannya.”

خَلِّ الذُّنُوْبَ صَغِيْرَهَا * وَكَبِيْرَهَا ذَاكَ التُّقٰى

“Tinggalkanlah dosa-dosa, baik yang kecil maupun yang besar, itulah ketakwaan.”

 وَاصْنَعْ كَمَاشٍ فَوْقَ أَرْضِ * الشَّوْكِ يَحْذَرُ مَا يَرٰى

“Dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di atas tanah berduri yang selalu berhati-hati terhadap apa yang dilihatnya.”

 لَا تَحْقِرَنَّ صَغِيْرَةً * إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصٰى

“Janganlah sekali-kali engkau meremehkan dosa kecil. Sesungguhnya gunung-gunung itu terbentuk dari kerikil-kerikil kecil.”

Salah satu sebab lainnya adalah kebodohan manusia dan ketidaktahuannya terhadap akibat atas kemaksiatan yang dia perbuat serta ketidakpahaman tujuan akhir di akhirat antara ke surga atau neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Neraka itu dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang disukai hawa nafsu), dan surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai.”

Saat seseorang berbuat maksiat, ia tidak mengetahui apa pun kecuali kenikmatan saat melakukannya. Hanya saja itu hanya sekejap saja, lalu habis, dan yang tersisa hanyalah kerugian dan penyesalan. Juga tersisa akibat-akibatnya seperti yang disebutkan Ibnu al-Qayyim dalam kitab al-Jawab al-Kafi. 

Kemaksiatan dapat memasukkan seorang hamba ke dalam laknat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau melaknat banyak kemaksiatan. Beliau melaknat orang yang menato dan yang ditato, orang yang menyambung rambut dan yang disambung, orang yang mencukur bulu alis dan yang meminta dicukur, orang yang mengikir giginya dan yang meminta dikikir. Beliau juga melaknat pemakan riba, orang yang mewakilkan transaksi riba, orang yang mencatat dan menjadi saksi transaksi riba.

Kemaksiatan akan menimbulkan kehinaan bagi pelakunya. Abdullah bin al-Mubarak berkata,

رَأَيْتُ الذُّنُوْبَ تُمِيْتُ الْقُلُوْبَ * وَقَدْ يُؤْرِثُ الذُّلَّ إِدْمَانُهَا

“Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati. Dan terus-menerus melakukannya dapat mewariskan kehinaan”

Kemaksiatan juga menjadi sebab lenyapnya kenikmatan. Sebagaimana perkataan yang disampaikan Ali bin Abi Thalib, “Tidaklah musibah itu turun melainkan karena dosa, dan tidaklah ia diangkat kecuali dengan tobat.”

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْ عَنْ كَثِيْرٍ

“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) 

Allah Ta’ala juga berfirman,

ذٰلِكَ بِأَنَّ اللّٰهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلٰى قَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 53)

Kita memohon keselamatan kepada Allah. Apabila kemaksiatan terus terjadi dari setiap orang di masyarakat, maka akan turun azab yang menyeluruh. Sebagaimana dalam hadis dari Zainab bin Jahsy radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang menemuinya dengan ketakutan seraya bersabda,

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ مِثْلُ هٰذِهِ، وَحَلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِيْ تَلِيْهَا، فَقَالَتْ زَيْنَبُ: فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَنَهْلِكُ وَفِيْنَا الصَّالِحُوْنَ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

“Lailahaillallah! Celakalah bagi bangsa Arab dari keburukan yang telah dekat, hari ini telah dibuka dinding penghalang Yakjuj dan Makjuj sebesar ini,” dan beliau melingkarkan ibu jari dengan jari telunjuknya, maka Zainab berkata, “Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita ada orang-orang yang saleh?’ Beliau bersabda, ‘Ya, apabila kejelekan/kemaksiatan telah merajalela.’”

Kemaksiatan juga telah menimbulkan berbagai kerusakan di muka bumi, baik itu di tanah, udara, pertanian, perkebunan, dan pemukiman. Allah Ta’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Dia membuat mereka merasakan sebagian dari (dampak) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Inilah yang terjadi di zaman kita sekarang. Diriwayatkan juga hadis dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda,

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِيْنَ، خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيْتُمْ بِهِنَّ – وَأَعُوْذُ بِاللهِ أَنْ تُدْرِكُوْهُنَّ -: لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِيْ قَوْمٍ قَطُّ حَتّٰى يُعْلِنُوْا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيْهِمُ الطَّاعُوْنُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِيْ أَسْلَافِهِمْ

“Wahai kaum Muhajirin, ada lima hal yang apabila kalian diuji dengannya—dan aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak mendapatinya—tidaklah perbuatan keji tampak pada suatu kaum sama sekali hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, melainkan akan merajalela di antara mereka penyakit taun dan kelaparan/kesakitan yang belum pernah terjadi pada pendahulu mereka.”

Saya memohon kepada Allah agar melindungi masyarakat Islam kita dari kemaksiatan, dan tidak menghukum kita akibat perbuatan orang-orang bodoh di antara kita.

 

Sumber: 

https://www.alukah.net/sharia/11874/6594/فتنة-الشهوات/ 

PDF Sumber Artikel

 

Flashdisk Video Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28