Oleh: Adnan bin Salman ad-Duraiwisy
Mayoritas peperangan yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah peperangan yang ada dalam akalnya, bukan di dunia luar, karena akal manusia melahirkan banyak pikiran, yang kemudian akan mulai timbul ketenangan atau kegelisahan, dan kedamaian atau kecemasan. Oleh sebab itu, apabila pikiran dibiarkan liar tanpa manajemen, akan berubah dari sekedar bersitan menjadi keyakinan, kemudian bertransformasi menjadi perilaku, lalu berkembang lagi menjadi pola hidup.
Yang dimaksud dengan pikiran negatif adalah pikiran-pikiran yang ada dalam otak yang condong kepada pesimisme, prasangka buruk, membesar-besarkan masalah, dan menilainya sangat mengkhawatirkan. Pikiran-pikiran itu menafsirkan realitas dengan penafsiran yang suram, sehingga menjadikan keyakinan kepada Allah dan kepercayaan diri menjadi lemah, dan menimbulkan kegelisahan, putus asa, dan rasa ketidakmampuan jika dibiarkan saja tanpa ditangani dan diatur.
Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12).
Ini merupakan nash yang jelas tentang peringatan terhadap prasangka-prasangka buruk, karena ia timbul dari pikiran-pikiran yang tidak nyata dan dapat merusak hati serta hubungan dengan diri sendiri dan orang lain.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Ini juga dalil gamblang yang menunjukkan bahwa banyak pikiran-pikiran negatif yang pada hakikatnya tidak sesuai kenyataan, tapi ia dapat memberi pengaruh yang nyata terhadap diri dan perilaku seseorang. Atas dasar itulah hadir perhatian Islam untuk menjaga pikiran, karena ia adalah pintu gerbang bagi hati dan mesin penggerak bagi amalan.
Agar kita dapat mengelola pikiran-pikiran negatif dengan benar, kita harus melakukan hal-hal berikut:
Pertama: Memahami pikiran-pikiran negatif
Semua pikiran bukanlah hal yang nyata hingga dipastikan kebenarannya, karena mayoritas pikiran negatif akan membesar-besarkan kesalahan, memprediksi kemungkinan terburuk, menggeneralisir kegagalan, dan membuat seseorang merasa tidak mampu. Padahal hakikatnya itu hanyalah penafsiran-penafsiran otak yang membutuhkan kesadaran dan penyaringan. Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12).
Prasangka buruk terhadap pemikiran, diri sendiri, atau orang lain merupakan pintu sangat luas yang dapat membuka luka batin.
Kedua: Menghentikan pikiran negatif dan tidak berlarut-larut bersamanya
Tidak semua yang terlintas di pikiranmu harus dibenarkan, karena berlarut-larut dalam pikiran negatif dapat menjadikannya terus berputar di dalam pikiran seseorang hingga akhirnya ia mempercayainya sebagai kebenaran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung, Dia memaafkan umatku atas apa yang terlintas dalam hati mereka, selama mereka belum mengamalkannya atau mengucapkannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Pikiran yang terlintas adalah hal yang masih diampuni, tapi wajib bagi kita untuk belajar bagaimana mengelolanya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa pernah ada beberapa sahabat yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, kami mendapati dalam diri kami sesuatu (bersitan pikiran yang tidak baik) yang sangat berat untuk diucapkan, kami lebih suka memiliki apa saja selain harus mengucapkannya.” Beliau lalu bertanya: “Apakah kalian benar-benar mengalaminya?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Itu adalah tanda nyata dari keimanan kalian.” (HR. Abu Dawud). Yakni karena mereka menolak pikiran itu dan tidak suka dengannya, sehingga perlawanan mereka terhadap bersitan pikiran itu menjadi bukti keimanan mereka kepada Allah.
Ketiga: Membangun ulang pikiran dan meluruskannya
Seorang insan harus mengubah pikiran negatifnya, tidak cukup dengan menghilangkannya, karena akal tidak akan bisa kosong. Apabila engkau mengeluarkan pikiran negatif tapi tidak memasukkan pikiran positif, maka pikiran negatif itu akan kembali dan justru lebih kuat. Sebagai contoh jika seseorang berpikir: “Aku gagal.” Sebaiknya ia menggantinya dengan pikiran: “Aku memang salah, tapi saya masih bisa mengubahnya, belajar lagi, dan menjadi lebih baik.”
Diceritakan dalam kisah hidup Imam Ahmad rahimahullah bahwa beliau dicambuk, dipenjara, dan disiksa, tapi beliau tidak menggiring pikirannya kepada keputusasaan, tapi beliau mengucapkan: “Perbedaan antara kita dan mereka akan tampak pada hari pemakaman!” Pikiran positifnya menjadi bahan bakar bagi kesabaran dan keteguhan hatinya.
Keempat: Memutus sumber pikiran negatif
Apa yang masuk ke dalam akal akan mempengaruhi suasana hati. Oleh sebab itu, seorang insan harus berhati-hati terhadap sumber-sumber pikiran negatif yang datang dari luar, seperti teman-teman di sekelilingnya, konten yang tidak baik, atau membanding-bandingkan diri dengan orang lain secara terus-menerus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seseorang akan mengikuti agama dan jalan hidup sahabat karibnya. Karena itu, hendaklah setiap orang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman akrab.” (HR. Abu Dawud).
Perhatikanlah kisah seorang lelaki yang telah membunuh seratus orang, taubatnya tidak diterima hingga ia diperintahkan untuk meninggalkan negeri yang ia tinggali dan penduduknya, karena lingkungan dapat melahirkan pikiran-pikiran sebelum akhirnya membentuk perilaku.
Kelima: Memberi nutrisi bagi akal dengan zikir dan Al-Qur’an
Pikiran akan menjadi tenang ketika terhubung dengan Penciptanya dan obat paling manjur untuk pikiran-pikiran negatif adalah zikir, karena ia dapat merapikan kembali suasana jiwa dan memberi ketenangan hati melampaui segala sebab lainnya. Allah Ta’ala berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Ketenteraman di sini mencakup pikiran dan hati sekaligus. Dulu Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika ujiannya semakin berat, beliau berkata: “Apa yang dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya penjara bagiku adalah menyendiri bersama Allah, hukuman mati bagiku adalah kesyahidan, dan pengasingan bagiku adalah wisata.” Inilah pola pikir yang terbingkai keimanan, mengubah ujian menjadi kenikmatan.
Keenam: Mengubah pikiran negatif menjadi amalan dan permohonan pertolongan kepada Allah
Apa yang tidak dapat engkau ubah dengan pikiran, ubahlah dengan perbuatan dan doa yang baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bersemangatlah dalam mengejar hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah atau putus asa.” (HR. Muslim).
Hadis ini menghimpun antara manajemen pikiran, aksi, dan doa memohon pertolongan kepada Allah.
Wahai pemuda yang diberkahi! Terkadang pikiran negatif akan mengetuk pintumu, maka janganlah engkau membukakan hati dan akalmu untuknya, karena ia tidak akan dapat masuk kecuali dengan izinmu. Oleh sebab itu, setiap pemuda yang mampu mengelola pikirannya dengan baik, maka hatinya akan selamat, imannya akan kuat, dan hidupnya akan selalu istiqamah.
Sumber:
https://www.alukah.net/social/0/180987/إدارة-الأفكار-السلبية/
