Oleh: Dr. Umar bin Muhammad bin Umar Abdurrahman
Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi pemimpin seluruh umat manusia, amma ba’du.
Salah satu kaidah penting yang dapat melindungi penuntut ilmu dari kesesatan adalah perhatian seorang insan dalam memperbaiki dirinya sebelum menuntut ilmu karena inilah jalan agar ia dapat memetik manfaat dari ilmunya setelah itu. Bahkan, ini merupakan sebab terpenting untuk meraih taufik dalam mencari ilmu pengetahuan.
Demikianlah dulu orang yang mencari ilmu memulai perjalanan belajarnya itu dengan ibadah dan perbaikan diri. Dulu para ulama sangat memperhatikan hal ini pada para murid mereka. Para ulama itu mulai membimbing mereka dengan hal-hal yang dapat memudahkan mereka dalam memperbaiki diri. Sufyan ats-Tsauri berkata,
“Dulu apabila ada orang yang ingin menuntut ilmu, ia fokus beribadah terlebih dahulu selama dua puluh tahun.” (Kitab al-Muhaddits al-Fashil hlm. 187. Di dalam kitab ini juga ada beberapa atsar lain tentang hal ini)
Hal ini karena mereka menyadari betapa penting dan gentingnya inisiasi untuk memimpin umat. Ilmu itu tidak lain adalah jalan untuk memimpin dan memegang kendali kepemimpinan umat, tetapi ilmu semata tidak dapat mewujudkan kebaikan dalam hal itu jika ia tidak disandingkan dengan takwa, warak, dan rasa takut kepada Allah. Betapa banyak dari mereka yang menjadikan ilmu mereka sebagai jembatan untuk meraih cita-cita dan menggapai keinginan, tetapi pada akhirnya umat ini yang memetik keburukan mendalam dan bahaya besar dari mereka. Apabila demikian, maka kebutuhan terhadap keikhlasan dan ketulusan dalam menuntut ilmu menjadi semakin mendesak karena keikhlasan adalah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya yang Dia titipkan dalam hati para hamba-Nya yang saleh. Sedangkan hati para hamba tidak dapat diungkap dan tidak dapat diketahui hakikatnya kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, wajib bagi penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat dalam mencari ilmu dan memaksudkannya untuk mencari keridaan Allah Ta’ala. Sufyan mengatakan,
“Tidak ada yang lebih menakutkan bagiku daripada hadis itu, dan tidak ada sesuatu pun yang menyamainya bagi orang yang Allah kehendaki kebaikan baginya.” (Kitab al-Jami Li-Akhlaq ar-Rawi Wa Adab as-Sami jilid 1 hlm. 124. Lihat juga ungkapan-ungkapan yang serupa dalam kitab Jami Bayan al-Ilm Wa Fadhlihi karya Ibnu Abdil Barr, jilid 2 hlm. 129-130)
Abdul Aziz bin Abi Ruzmah berkata,
“Siapa yang menuntut ilmu karena Allah Ta’ala maka ia akan mulia dan bahagia di dunia dan akhirat. Dan siapa yang menuntut ilmu bukan karena Allah maka ia akan merugi dunia dan akhirat.” (Kitab al-Jami Li-Akhlaq ar-Rawi Wa Adab as-Sami jilid 1 hlm. 124)
Oleh karena itu, jangan sampai penuntut ilmu menjadikan tujuannya dari menuntut ilmu adalah untuk meraih dunia dan meraup harta benda. Namun, ia harus meluruskan niatnya, dan menjadikan tujuan dari belajarnya adalah agar ia dapat memetik manfaat darinya, dan memberi manfaat bagi para penuntut ilmu dan peneliti, juga menyebarkannya kepada manusia secara umum agar bermanfaat bagi mereka dalam perkara agama dan dunia mereka.
Seandainya tidak ada penghalang dari niat yang buruk dalam menuntut ilmu kecuali ancaman yang berkaitan tentangnya, niscaya itu sudah cukup karena banyak sekali nas yang menyebutkan hal itu, dan semuanya mengandung ancaman bagi siapa saja yang menjadikan ilmu sebagai batu loncatan untuk meraih kepentingan duniawi, menempati jabatan tinggi, terlihat menonjol di majelis-majelis, dan sebagai jalan untuk memuaskan syahwat dan meraup kenikmatan serta keinginan-keinginan lainnya.
Dulu para penuntut ilmu berusaha untuk mencari guru yang punya kadar yang tinggi dalam keimanan, agama, dan ketakwaan. Mereka menjadikan hal itu sebagai indikator pertama yang membuat mereka rela duduk dan belajar dari mereka. Al-Baihaqi meriwayatkan dari an-Nakha’i bahwa dulu apabila orang-orang datang kepada seorang guru untuk belajar darinya, mereka melihat sikapnya, salatnya, dan keadaannya terlebih dahulu, baru mereka mengambil ilmu darinya. (Tadrib ar-Rawi, jilid 1 hlm. 301)
Salah satu hal terbesar yang dapat membersihkan ilmu dalam diri penuntut ilmu dan menjadikannya bermanfaat bagi orang lain adalah sikap rendah hati dan adil. Apabila penuntut ilmu punya sifat tersebut dalam kadar yang cukup besar, maka Allah akan menjadikannya diterima di kalangan manusia dan menjadikan hikmah keluar dari lisannya.
Salah satu tanda terbesar sikap rendah hati dan adil adalah mengakui kemuliaan orang yang mulia, terlebih lagi dari para ulama terdahulu, yang dengan mereka Allah menyinari umat ini sepanjang sejarah panjangnya, menjaga agama-Nya, mengamalkan sunah Nabi-Nya, dan menegakkan hujah terhadap seluruh makhluk-Nya melalui ilmu dan keteguhan hati mereka. Sejak dulu hingga sekarang mereka terus membentuk dalam benak kaum muslimin gambaran tentang masa gemilang dan fase kemajuan dalam penerapan agama secara benar, dan teladan ideal yang patut diikuti.
Kita tidak menafikan bahwa Allah juga memberi ilmu dan pemahaman kepada para ulama dan penuntut ilmu kontemporer, yang tidak diberi kepada ulama generasi sebelumnya. Ini adalah karunia dan hikmah Allah yang berlaku pada makhluk-Nya. Namun, ada sebagian orang yang berhasil mendapat karunia itu merasa sombong sehingga lupa dengan jasa para ulama terdahulu. Padahal, kalaulah bukan karena usaha para ulama terdahulu dalam menyusun kaidah dan metode ilmu-ilmu itu, lalu menyampaikan detail perselisihan pendapat di dalamnya dalam buku dan tulisan mereka, niscaya para ulama modern tidak akan mencapai apa yang mampu mereka capai itu—meskipun ilmu mereka luas dan pemahaman mereka mendalam.
Tidaklah ada ulama kontemporer melainkan ulama terdahulu punya jasa atasnya, baik itu ia merasa atau tidak. Hal yang dapat membuatnya mengakui itu adalah sikap rendah hati dan adil. Sikap adil akan membuat seseorang menilai orang lain secara objektif, tidak menutup mata dari hak mereka dan tidak membuatnya lupa terhadap keutamaan dan kedudukan mereka. Sedangkan sikap rendah hati akan membuatnya sadar terhadap nilai dirinya, menunjukkan betapa masih dangkal ilmunya sehingga ia tidak merasa sombong terhadap orang lain, dan tidak merasa bahwa keutamaan dan kemuliaan tidak mungkin dapat diraih dengan keangkuhan, kesombongan, dan rasa tinggi hati terhadap teman dan saudara-saudaranya.
Seseorang saat menyimak sebagian penuntut ilmu terkadang dapat merasakan kesombongan dan keangkuhan mereka keluar dari mulut mereka bersama dengan setiap kata yang mereka ucapkan atau masalah yang mereka uraikan; juga dalam gerak-gerik dan raut muka mereka menunjukkan tanda jelas kesombongan yang menimpa mereka hingga kesombongan itu mendorong mereka untuk bersikap suka membantah, menentang para ulama—baik yang masih hidup atau yang telah wafat—berusaha meremehkan jasa orang lain, merendahkan mereka, dan merasa lebih baik dari mereka.
Salah satu hal yang paling wajib bagi para ulama adalah berusaha mendidik murid-murid mereka agar mempunyai rasa hormat kepada para ulama. Mereka jangan sampai membuat perselisihan pendapat para ulama dalam suatu masalah ilmiah—sepenting apa pun itu dan selemah apa pun dalil pihak yang bertentangan—sebagai alasan untuk meremehkan dan menganggap sesat atau fasik pihak yang bertentangan.
Umat yang hidup adalah umat yang menghormati peninggalan, tokoh, dan sejarahnya, dan menjadikan biografi para ulama sebagai pelita penunjuk jalan bagi masa depannya dan mendidik generasinya dengan naungannya. Setiap kali suatu umat merendahkan masa lalunya dan meremehkan para tokohnya, ia akan mendapat kehinaan di masa kini dan masa depannya, kehilangan unsur kekuatan dalam hidupnya, generasinya akan sibuk dengan hal menambah kerusakan umat, menebar perpecahan dalam barisannya, dan berhenti mengambil perannya dalam mengemban peradabannya di hadapan umat-umat lainnya.
Wallahu A’lam. Semoga selawat, salam, dan keberkahan senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/1001/170592/الاهتمام-بالتزكية-قبل-العلم/
