Oleh: Syaikh Abdullah Muhammad Ath-Thiwalah
“Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah. Dia akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda (kekuasaan)-Nya, maka kalian akan mengenalnya. Dan Tuhanmu tidaklah lengah terhadap apa yang kalian kerjakan.” (QS. An-Naml: 93).
Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu. “Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki menuju jalan yang lurus.” (QS. An-Nur: 46).
Salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada figur manusia yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus sebagai pemberi hidayah, kabar gembira, dan peringatan, penyeru kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan izin-Nya serta pelita yang terang benderang. Beliau telah menyampaikan risalah, menjalankan amanah, menasihati umat, dan berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya jihad. Semoga salawat, salam, dan keberkahan selalu terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga, para sahabat beliau, dan seluruh pengikut mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat.
Amma ba’du:
Di dunia yang laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu cepat, pola pikir dan akal banyak berseberangan ke dua kutub yang berbeda, kebenaran bercampur dengan kebatilan dengan begitu samar, serta bukti-bukti dan kenyataan saling bercampur dengan sangat membingungkan, menjadi hal yang tidak mengherankan jika ada beberapa orang yang menganut ideologi pemikiran yang menyimpang dan pandangan-pandangan yang berseberangan. Di antara fenomena ini yang paling menonjol adalah atheisme, yang mungkin ada sebagian orang yang bertanya-tanya, mengapa atheisme bisa menyebar dengan masif seperti ini, terlebih lagi di kalangan anak muda?
Jawabannya adalah terdapat banyak sebab penyebarannya, dan berikut ini kami akan sebutkan beberapa sebab yang paling menonjol. Semoga ini dapat memberi kontribusi dalam memahami faktor-faktornya, menganalisis sebab-sebabnya, dan menuntun kepada solusi dan penangannya secara benar, sebagaimana yang disebutkan dalam ungkapan, “Mengetahui sebab adalah bagian dari penanganan.”
Sebab pertama: Lemahnya proteksi keilmuan dan keimanan. Apabila ini dibarengi dengan sikap gemar memikirkan hal-hal yang tidak perlu dan keberanian untuk membahas hal-hal yang di luar kemampuan akalnya yang tidak terproteksi itu, maka bisa jadi orang tersebut akan terjerumus ke dalam kebingungan dan kesesatan. Kami tidak mengatakan bahwa membahas hal-hal itu terlarang sepenuhnya, tapi sebelum itu harus ada perlindungan dan persiapan keilmuan yang kuat, dan di bawah bimbingan orang yang berpengalaman, seperti orang yang ingin menyelam ke dasar lautan, harus menyiapkan alat-alat khusus, berlatih dengan baik, dan melakukannya secara bertahap dengan bimbingan pelatih yang berpengalaman. Jika tidak, ia akan mudah sekali tenggelam dan binasa.
Sebab kedua: Kecondongan sebagian orang untuk terlepas dari “belenggu-belenggu” agama dan kesiapan untuk mengorbankan nilai-nilai agamanya agar dapat memuaskan syahwat-syahwatnya secara haram tanpa terikat aturan atau penyesalan diri. Itu berarti ia sedang menyuntik mati nuraninya dan nilai-nilai batinnya, agar tidak tersisa dalam dirinya sesuatu yang menyangkalnya dalam berbuat maksiat. Dengan itu, ia mengira menjadi merdeka. Padahal hakikatnya ia sedang menjadi budak syahwat-syahwatnya dan tersandera hawa nafsunya, sebagaimana kesaksian jujur salah satu dari mereka: “Aku ingin hidup tanpa Tuhan, bukan karena aku menerima doktrin bahwa Tuhan itu tidak ada, tapi karena aku ingin agar tidak ada yang menghakimi diriku lagi.”
Sebab ketiga: Terbuka terhadap buku-buku filsafat dan atheisme yang penuh dengan syubhat-syubhat memukau dan ungkapan-ungkapan yang dikemas indah, sehingga mudah merasuk pada orang-orang yang lemah imannya dan terbatas wawasan keislamannya. Kami juga berpandangan bahwa membaca buku-buku filsafat tidak terlarang sepenuhnya, tapi jika itu dilakukan tanpa proteksi pemikiran yang kokoh, akan menimbulkan efek-efek negatif yang sulit ditangani dan susah untuk terlepas dari pengaruhnya.
Sebab keempat: Adanya usaha dari saluran-saluran televisi dan sejenisnya — seperti media-media sosial dan informasi— untuk menyebarkan paham-paham seperti ini, memberi tempat bagi para pengusungnya, memberi kesempatan mereka untuk menebar syubhat-syubhatnya, menimbulkan keraguan kepada masyarakat terhadap keyakinan dan dasar-dasar agama mereka. Mereka bagaikan penyebar penyakit menular yang berlenggang bebas di antara banyak orang yang tidak terlindungi.
Sebab kelima: Fanatisme buta, merasa inferior, dan terlalu takjub dengan orang yang lebih hebat. Sering kali beberapa pemikiran yang keliru dapat tersebar —terlebih lagi di kalangan generasi muda— bukan karena setuju dengan pemikiran tersebut, tapi hanya karena mengikuti salah seorang pesohor atau terpengaruh tren tertentu.
Sebab keenam: Keyakinan sebagian orang bahwa sebab utama kemajuan Orang Barat adalah karena mengesampingkan agama mereka, sehingga jika kita ingin mencapai apa yang telah mereka capai, maka kita harus berlepas diri dari agama seperti mereka. Tentu pemahaman seperti ini bertentangan dengan akal sehat dan logika. Orang berakal pasti akan berbuat baik ketika manusia berbuat baik, dan apabila mereka berbuat buruk, ia menjauhi keburukan mereka.
Sebab ketujuh: Banyaknya peperangan dan musibah, tersebarnya kezaliman, dan ketidakmampuan orang-orang lemah dalam memperoleh hak-hak mereka. Kondisi ini dapat menggoyahkan keyakinan sebagian orang tentang konsep keadilan dan keimanan mereka terhadap qadha dan qadar, sehingga ia bertanya-tanya dalam dirinya: “Mengapa harus saya yang mengalami ini semua?!”, “Mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki ini semua?” Apabila ia tidak mendapatkan orang yang memberi jawaban dengan logika yang benar dan metode yang memuaskan, maka pertanyaan-pertanyaan itu akan berubah menjadi pintu keraguan dan atheisme.
Sebab kedelapan: Penderitaan sebagian orang yang mengalami gangguan psikologis dan saraf yang ditimbulkan karena kondisi-kondisi keluarga dan sosial yang keras dan rumit. Ini menjadikan mereka kehilangan kemampuan untuk berpikir dengan benar, dan membuat mereka mengira bahwa rasa sakit yang mereka alami adalah bukti tidak adanya Tuhan Yang Maha Bijaksana, sehingga mereka terjerumus ke dalam atheisme, bukan karena akal mereka mengakui hal itu, tapi karena ingin kabur dari kesakitan atau ungkapan kemarahan. Sebagaimana yang dikatakan salah seorang dari mereka: “Aku tidak membenci Allah Subhanahu wa Ta’ala, hanya saja saya marah kepada-Nya.”
Sebab kesembilan: Teman yang buruk. Teman pasti memberi pengaruh, dan seseorang akan mengikuti agama/jalan hidup sahabat dekatnya. Jangan tanya seseorang itu jati dirinya seperti apa, tapi lihat saja temannya siapa, karena setiap orang akan mengikuti langkah orang yang selalu membersamainya.
Sebab kesepuluh: Tidak ada langkah penanggulangan dari para ulama terhadap fenomena-fenomena baru yang terus terjadi begitu cepat, terlambat memberi bantahan atas syubhat-syubhat dan membiarkan generasi muda menjadi mangsanya. Terlebih lagi disertai dengan banyaknya anak muda yang menolak mendiskusikan pemikiran-pemikiran menyimpang ini, karena khawatir akan dipermalukan, dicap sesat, atau dihukum.
Demikianlah beberapa sebab terbesar yang banyak berpengaruh dalam penyebaran atheisme, menggoyahkan keimanan banyak orang, dan mencoreng wajah agama dalam diri mereka.
Tidak diragukan bahwa perkara keberadaan Sang Pencipta dan kebenaran Rasul-Nya Shalallahu Alaihi Wassalam menjadi perkara terpenting yang menjadi dasar nasib manusia dan masa depan mereka di akhirat, antara menuju kebahagiaan abadi atau kesengsaraan kekal. Dan dengan karunia dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukti-bukti yang menunjukkan keberadaan Sang Pencipta sangat banyak dan beraneka ragam, seperti bukti dari sisi logika, ilmiah, fitrah, moral, histori, estetika, bahasa, dan lainnya. Dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala juga, kami telah menulis artikel khusus dalam setiap tema tersebut, dan telah kami publikasikan di website ini (alukah.net), Alhamdulillah.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar melapangkan hati kita semua untuk menerima kebenaran dan memberi kita petunjuk menuju jalan yang lurus.
Akhir kata kami ucapkan, Alhamdulillahi Robbil ‘alamin.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/1001/178720/لماذا-ينتشر-الإلحاد؟؟../
