Oleh:
Dr. Fatimah Said al-Wadi’i
Tidak ada hal yang lebih memenangkan dan menyingkirkan kegelisahan seseorang daripada hidup dengan hati yang bersih, karena nilai seorang mukmin terletak di hatinya dan kesucian yang dibawa oleh hati tersebut. Ini merupakan salah satu nikmat terbesar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya, yaitu ketika dadanya menyimpan hati yang bersih dari kebencian dan permusuhan, jernih dari kedengkian dan hasad, suci dari penipuan dan pengkhianatan, terbebas dari dendam dan kebencian yang dipendam, hatinya hanya diisi dengan belas kasih dan rasa cinta kepada kaum Muslimin. Apabila ada kenikmatan yang mengalir kepada seseorang, ia merasa ridha, memahami karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya, dan mengerti kebergantungan para hamba-Nya terhadap nikmat itu. Apabila ia melihat keburukan menimpa salah satu makhluk-Nya, ia merasa iba dengan keadaannya, dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menyingkap kesulitannya. Hal ini karena pada dasarnya hati harus penuh dengan rasa cinta dan keinginan agar orang lain mendapat kebaikan.
Mungkin seorang mukmin akan mendapat gangguan dari saudaranya, dan ia menjadi tidak menyukainya karena itu, atau bahkan berbalik menyakitinya untuk membela diri. Namun, kondisi seperti ini tidak boleh berlangsung lama dalam hati dan tidak berubah menjadi kedengkian dan kebencian. Sebaliknya, ia hendaknya menampakkan sikap lapang dada dan pemberian maaf dari jiwanya yang bersih. (Lihat: Kitab Khuluq Al-Muslim karya Muhammad Al-Ghazali hlm. 92, Fi Al-Bina Ad-Da’wi karya Ahmad Ash-Shuyan hlm. 95, Al-Akhlaq Al-Islamiyah Wa Ususuha karya Dr. Abdurrahman Al-Maidani jilid 1 hlm. 787, dan Ath-Thuhr Al-A’iliy karya Dr. Abdurrahman Az-Zunaidi hlm. 120).
Inilah sifat-sifat para penghuni surga – ketika mereka telah memasukinya, hati mereka bersih dari kedengkian dan kebencian, sebagaimana yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala firmakan:
“Dan Kami cabut segala rasa dengki yang ada di dalam dada mereka, mereka menjadi saudara-saudara yang duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47).
Akhlak yang luhur dan sifat yang agung ini merupakan salah satu akhlak penting yang hendaknya diamalkan dengan sungguh-sungguh oleh pendakwah ketika berinteraksi dengan objek dakwahnya, mendorong mereka untuk mengamalkannya, dan mengingatkan mereka dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan orang-orang yang telah menempati Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka, mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri meskipun mereka juga memerlukan. Barang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Dan orang-orang yang datang setelah mereka berkata: ‘Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman dari kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Hasyr: 9-10).
Dalam doa di ayat tersebut terdapat permohonan untuk dihilangkannya rasa dengki dari hati, baik itu yang sedikit atau banyak, karena apabila kedengkian itu hilang, maka sifat yang sebaliknya akan bertahan, yaitu kecintaan, kasih sayang, dan ketulusan. (Tafsir As-Sa’di hlm. 790).
Dengan memperhatikan bagaimana interaksi Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, kita mendapati selama berinteraksi dengan orang lain beliau selalu menanamkan sifat mulia ini. Beliau merasakan apa yang mungkin dialami oleh orang yang didakwahi berupa gangguan dan kesempitan dada dari orang-orang di sekitarnya, dan ini bisa menjadi sebab timbulnya kebencian dan sikap kasar, sehingga hatinya menjadi rusak dan lalai dari sifat-sifat yang luhur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ada seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah, saya memiliki kerabat yang selalu saya jaga hubungan dengan mereka, tapi mereka justru memutusnya, saya berbuat baik kepada mereka tapi mereka justru berbuat buruk terhadapku, dan saya tabah menghadapi mereka tapi mereka justru enggan mengerti diriku.” Beliau lalu bersabda: “Apabila engkau seperti yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau sedang menyuapi mereka abu panas, dan akan senantiasa ada penolong dari Allah bersamamu untuk menghadapi mereka selama engkau tetap bersikap seperti itu.” (HR. Muslim no. 2558).
Ini merupakan sikap yang sangat mulia bagi orang yang mengetahuinya dan merasakan manisnya, yaitu tidak membiarkan hati dan batinnya berbuat buruk atas gangguan yang ia terima, serta tidak mencari cara untuk membalas dendamnya dan memuaskan nafsunya, tapi justru mengosongkan hatinya dari itu semua, memandang keselamatan, kedamaian, dan kebersihan hatinya dari itu semua lebih mendatangkan kebaikan baginya, lebih nikmat, lebih nyaman, dan lebih menguntungkan kemaslahatannya. Hati itu apabila telah sibuk dengan sesuatu, maka akan terlewat darinya sesuatu yang lebih penting dan lebih baik untuknya, sehingga ia menjadi merugi, sedangkan orang yang berakal tidak akan rela dengan hal itu dan memandang itu sebagai tindakan orang kurang akal. Bagaimana mungkin hati menjadi bersih jika diisi dengan kebencian dan bisikan-bisikan setan, serta terus mencari cara untuk membalas dendam?!” (Kitab Madarij as-Salikin karya Ibnu Al-Qayyim jilid 2 hlm. 320).
Betapa tinggi kedudukan seorang insan akan naik dan mulia derajatnya ketika ia sampai pada sifat yang agung ini yang telah dicapai oleh para sahabat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Kalaulah kita mencermati sabda beliau kepada mereka bahwa akan muncul kepada mereka seorang lelaki dari penghuni surga, dan beliau mengucapkan ini tiga kali, lalu Abdullah bin Amr bin Al-Ash pergi menemui lelaki itu dan menginap tiga malam di rumahnya, tapi ia tidak melihat lelaki itu melakukan amalan besar, sehingga Abdullah bin Amr merasa heran dengan keadaannya, dan ia pun bertanya: “Apa yang membuatmu dapat mencapai apa yang disabdakan Rasulullah (bahwa kamu akan masuk surga)?” Lelaki itu menjawab: “Amalanku tidak lain hanyalah seperti yang kamu lihat, hanya saja aku tidak pernah menyimpan dalam diriku sifat curang terhadap seorang pun dari kaum Muslimin, dan aku tidak merasa dengki dengan orang yang diberi kebaikan oleh Allah.” Abdullah lalu menanggapi: “Inilah amalan yang membuatmu mencapainya, dan inilah yang tidak kami mampu.” (HR. Ahmad no. 12720, Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata: “Sanadnya shahih sesuai syarat keshahihan Imam Al-Bukhari dan Muslim”).
Kebersihan hati merupakan keutamaan yang membuat orang yang didakwahi tidak mengaitkan antara rezekinya di dunia dengan perasaannya terhadap orang lain, karena bisa jadi ia gagal ketika orang lain sukses, bisa jadi ia justru mengalami kemunduran ketika orang lain maju. Suatu sikap buruk ketika seseorang bersikap egois, sehingga menjadikannya ingin agar semua orang merasa rugi, bukan karena alasan apa pun kecuali karena ia sendiri belum sukses, sehingga sikap ini menimbulkan kedengkian yang diiringi dengan ketamakan, sehingga orang yang dengki ini berharap nikmat orang lain berpindah kepada dirinya. Harapan buruk ini mengandung perasaan benci dan muak terhadap orang lain. Tentu ini menjadi bentuk penyimpangan akhlak berupa egoisme yang merusak hati, membutakan nurani, dan menjadikan pelakunya hilang arah yang melangkah tanpa petunjuk. (Lihat: Kitab Khuluq Al-Muslim karya Muhammad Al-Ghazali hlm. 100, Al-Akhlaq Al-Islamiyah wa Ususuha karya Dr. Abdurrahman Al-Maidani jilid 1 hlm. 796-797).
Pada zaman ini, sudah sepatutnya bagi dai untuk memperhitungkan tema hasad, kebencian, dan kedengkian sebagai tema-tema dakwahnya yang harus ditekankan, baik itu di khutbah-khutbah, kajian-kajian, atau nasihat-nasihatnya, bahwa hasad bertentangan dengan makna persaudaraan Islam yang terbangun di atas rasa cinta dan harapan agar saudara-saudara seiman mendapat kebaikan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengingatkan mereka tentang keharaman sifat-sifat tersebut, karena ia termasuk amalan-amalan hati yang diharamkan yang tidak disadari oleh sebagian besar orang, menunjukkan kepada mereka sebab-sebab terpenting yang dapat membantu mereka untuk menghiasi diri dengan hati yang bersih, seperti menjaga hubungan baik dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, berinteraksi baik dengan orang lain, berbaik sangka terhadap kaum Muslimin, memberi maaf dan pemakluman bagi orang lain, berdoa, selalu menjaga hati, dan menyembuhkan hati dari segala penyakit yang membinasakan. (Lihat: Artikel Salamah Ash-Shadr karya Dr. Sulaiman Al-Habs dalam Majalah Ad-Dirasat Ad-Da’wiyah Ilmiah Muhakkamah terbitan Universitas Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyah, edisi pertama hlm. 39-70).
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/0/23318/قيمة-المؤمن-تكمن-في-قلبه/
