Siapa kamu? Katakan kepadaku, siapa kamu? Tidak ada yang mengenalmu sebenar-benarnya kecuali Allah, kemudian mungkin kamu. Sedangkan manusia di sekitarmu punya penilaian sendiri sesuai sudut pandang mereka, ada yang menilaimu pelit sekali, menilaimu boros, menilaimu ahli ibadah, menilaimu pelaku maksiat, menilaimu pemberani, menilaimu pengecut, menilaimu lembut dan rendah hati, menilaimu otoriter dan kejam. Ada yang meninggikanmu setinggi bintang, ada yang merendahkanmu ke bawah tanah.

Namun, suatu rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia tidak menghukummu sesuai sangkaan, penilaian, dan spekulasi mereka, tapi menghukummu berdasarkan apa yang Dia ketahui darimu. Bukankah Dia telah berfirman:

وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ * أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah dengan terang-terangan, sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah pantas Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Maha Lembut, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 13-14).

Juga berfirman:

هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Dia lebih mengetahui tentang kamu sejak Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu, maka janganlah kamu menganggap dirimu suci, Dia mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).

Hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang mengetahui siapa kamu? Jadi apa kamu? Seberapa kadarmu dan kemampuanmu? Lalu setelah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seharusnya engkau yang paling mengetahui dirimu, mengetahui dosa-dosa dan kekuranganmu, sebesar apapun orang lain menganggapmu baik. Engkau yang mengetahui kelebihan dan kemampuanmu, bagaimana pun orang lain meremehkanmu. Engkau yang mengetahui apa yang kamu bisa dan yang tidak, bagaimana pun orang lain menilaimu. Dan Allah merahmati orang yang mengetahui kadar dirinya.”

Namun, masalah terbesarnya adalah ketika engkau sendiri tidak mengetahui dirimu, siapa kamu! Engkau terbuai pujian dan sanjungan orang lain sehingga lupa aib-aib dan rahasia-rahasia tersembunyi yang engkau yakin ada pada dirimu. Engkau tidak mengetahui kadar, kedudukan, dan kemampuanmu, sehingga engkau meremehkan diri sendiri dan mencurangi hak-haknya. Abu Ali al-Warraq berkata: “Siapa yang tidak mengetahui kadar dirinya, ia akan menzalimi diri sendiri dan orang lain. Dan bencana besar manusia adalah karena kurangnya pengetahuan mereka terhadap diri mereka sendiri.” (Kitab Hilyah al-Auliya karya Abu Naim). Ya, benar! bencana besar manusia adalah karena kurangnya pengetahuan mereka terhadap diri mereka sendiri.

Demikian juga sebaliknya, mengetahui kadar diri punya banyak manfaat, di antaranya:

Pertama: Tidak meninggikannya di atas kedudukan seharusnya dan tidak menyombongkannya

Abdullah bin Al-Mubarak berkata: “Apabila seseorang mengetahui kadar dirinya, maka di hadapan dirinya ia merasa lebih rendah daripada anjing.” (Kitab Hilyah al-Auliya karya Abu Naim).

Al-Muhallab bin Abu Shafrah pernah berjalan dengan angkuh melalui Malik bin Dinar. Lalu Malik berkata kepadanya: “Tidakkah kamu tahu cara berjalan seperti itu dilarang kecuali saat di medan perang?” Al-Muhallab menjawab: “Tidakkah kamu mengenalku?” Malik berkata: “Saya mengenalmu dengan baik.” Ia berkata: “Apa yang kamu ketahui tentangku?” Malik menjawab: “Bukankah permulaanmu adalah air mani yang ditumpahkan, dan akhirmu adalah bangkai yang menjijikkan, sedangkan selama hidupmu engkau membawa kotoran (di perut)?” Al-Muhallab berkata: “Ya memang, engkau mengenalku dengan baik!” (Kitab Hilyah Al-Auliya karya Abu Naim).

Bisr bin Jahhasy Al-Qurasyi meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah meludah di tangan lalu meletakkan jari beliau padanya. Kemudian bersabda: Allah berfirman: ‘Wahai manusia, bagaimana mungkin kamu mengalahkan-Ku, sedangkan Aku menciptakanmu dari sesuatu yang serupa dengan ini, hingga saat Aku telah menyempurnakan dan menyeimbangkan penciptaanmu, kamu berjalan dengan dua helai kain dan bumi merasakan hentakan kakimu?’” (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani).

Dikisahkan bahwa seorang budak ditawarkan kepada seorang amir seharga seribu dirham. Ketika uangnya dihadirkan, sang amir lalu merasa jumlahnya terlalu besar, sehingga ia batal membelinya dan mengembalikan uang itu ke kas. Lalu budak itu berkata: “Wahai tuanku, belilah aku karena pada diriku dari setiap satu dirham dari uang tersebut ada satu sifat yang bernilai lebih dari seribu dirham.” Sang amir bertanya: “Sifat apa saja itu?” Budak itu menjawab: “Yang paling kecilnya adalah jika engkau membeliku dan lebih memilihku daripada seluruh budakmu, maka aku tidak akan sombong dan tetap sadar bahwa aku hanyalah budak.” Sang amir pun membelinya. (Kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah).

Kedua: Hanya tampil dalam hal yang dikuasai

Ini membuatnya tumbuh dan berkembang dalam bidang itu, mendapat pahala, alih-alih mendapat dosa. Mari kita contohkan agar lebih jelas, orang yang tampil untuk menafsirkan Al-Qur’an atau menjelaskan hadis, apabila ia memang punya kompetensi melakukan itu dan baik dalam tafsir dan penjelasannya, maka ia mendapat pahala. Namun jika sebenarnya ia tidak berkompeten dan menempatkan dirinya di atas kadarnya, maka ia berdosa. Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganggapnya termasuk dosa terbesar:

وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33).

Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata: “Wajib bagi seorang insan mengetahui kadar dirinya, dan tidak berbicara kecuali apa yang ia ketahui dari Kitab Allah, Sunnah Rasulullah, dan pendapat para ulama.” (Kitab Syarh Riyadhus Shalihin).

Ketiga: Meraih ketenangan hati dan jiwa

Siapa yang mengerti kadar diri dan kemampuannya, tidak akan menjerumuskan diri ke dalam hal yang tidak dikuasai dan di luar kemampuannya, sehingga ia terbebas dari kesulitan, kerendahan, dan kehinaan. Demikian juga orang yang mengetahui kadar dirinya, ia akan menghindarkan dirinya dari kesibukan dengan hal-hal remeh dan tidak berguna, sehingga hatinya damai dari mencela dan mencerca diri sendiri. Oleh karenanya, Umar bin Abdul Aziz berkata: “Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kadar dirinya, sehingga ia merasa tenang.” (Kitab Faidh al-Qadir karya Al-Manawi).

Keempat: Melindungi diri dari kemaksiatan dan dosa

Siapa yang mengetahui bahwa Allah telah memberinya banyak karunia, Dia menciptakan leluhurnya, Adam dengan Tangan-Nya, menyuruh para malaikat bersujud kepada-Nya, menundukkan apa yang di langit dan bumi untuknya, menjadikannya layak disertai-Nya, dan Dia menciptakannya untuk berzikir, beribadah, dan mendekat kepada-Nya, siapa yang mengetahui ini semua, maka tidak akan mudah menjerumuskan diri ke dalam kehinaan dosa dan maksiat.

Kelima: Tidak menjadi fitnah bagi orang lain

Siapa yang mengetahui perannya di dunia, seperti menjadi ayah bagi keluarganya, direktur di tempat kerjanya, ulama dalam agamanya, atau salah satu figur lainnya, maka ia menjadi teladan bagi mereka, jika ia lurus, mereka juga lurus, jika ia bengkok, mereka juga bengkok. Siapa yang mengetahui kedudukannya, pasti melindungi dirinya dari kekanak-kanakan dan hal-hal yang mengandung syubhat serta tidak rela dirinya menjadi contoh buruk bagi orang-orang yang mencontohnya sehingga ikut memikul dosa mereka.

مَشَى الطَّاوُوسُ يَوْمًا بِاعْوِجَاجٍ فَقَلَّدَ شَكْلَ مِشْيَتِهِ بَنُوهُ

Suatu hari burung merak berjalan lenggak-lenggok,

Lalu anak-anaknya meniru gaya berjalannya.

فَقَالَ: عَلَامَ تَخْتَالُونَ؟ قَالُوا: بَدَأْتَ بِهِ وَنَحْنُ مُقَلِّدُوهُ

Merak itu bertanya: Mengapa kalian berjalan dengan angkuh begitu?

Anak-anaknya menjawab: Engkau yang memulainya, kami hanya mengikutimu.

فَخَالِفْ سَيْرَكَ الْمُعْوَجَّ وَاعْدِلْ فَإِنَّا إِنْ عَدَلْتَ مُعَدِّلُوهُ

Maka ubahlah jalanmu yang lenggak-lenggok itu, dan luruslah,

Jika engkau berjalan lurus, kami pun ikut lurus.

أَمَا تَدْرِي أَبَانَا كُلُّ فَرْعٍ يُجَارِي بِالْخُطَى مَنْ أَدَّبُوهُ

Tidakkah engkau tahu wahai ayah kami, bahwa setiap cabang itu,

Mengikuti jejak siapa yang membentuknya.

وَيَنْشَأُ نَاشِئُ الْفِتْيَانِ مِنَّا عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوهُ

Dan pemuda dari kita akan tumbuh, 

Sesuai dengan kebiasaan yang diajarkan ayahnya.

Keenam: Meninggalkan hal yang tidak berguna

Itu bukan untukku, dan aku tidak punya urusan dengannya, tidak sesuai dengan kadar dan kedudukanku, untuk apa aku sibuk dengannya?

Benarlah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak berguna baginya.” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani).

Ketujuh: Menjaga kehormatan diri

Siapa yang mengetahui kadar dirinya, tidak akan menghinakan diri dengan meminta-minta kepada orang lain, dan takut perbuatan itu menjadi titik hitam di wajahnya pada hari kiamat. Inilah perintah Nabi kepada para sahabatnya, diriwayatkan dari Hakim bin Hizam, ia berkata: “Aku pernah meminta Rasulullah dan beliau memberi, aku meminta lagi dan beliau memberi, lalu aku meminta lagi dan beliau memberiku, lalu bersabda: ‘Wahai Hakim, sungguh harta ini hijau dan manis, siapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati, ia diberkahi, dan siapa yang mengambilnya dengan tamak, ia tidak diberkahi, ibarat orang yang makan tapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.’ Lalu aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, aku tidak akan meminta apapun kepada siapapun setelahmu hingga aku meninggal dunia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kedelapan: Tidak menampakkan diri dengan hal yang tidak ada pada dirinya

Jika kaya, ia menampakkan pengaruh nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala padanya. Jika miskin, ia menempatkan dirinya pada tempat yang semestinya. Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz mendengar anaknya membeli cincin seribu dirham, maka beliau menulis surat kepadanya: “Aku mendengar kamu beli cincin seribu dirham. Juallah dan beri makan darinya seribu orang lapar, dan belilah cincin besi seharga satu dirham lalu tulis di cincin itu: ‘Allah merahmati orang yang mengetahui kadar dirinya’.” (Tafsir Al-Qurthubi).

Asma meriwayatkan bahwa seorang wanita berkata: “Wahai Rasulullah, suamiku punya istri lain, apakah berdosa bagiku jika aku berpura-pura kenyang dari suamiku dengan sesuatu yang tidak ia berikan kepadaku?” Rasulullah menjawab: “Orang yang merasa puas dengan apa yang tidak diberikan kepadanya (dengan berpura-pura), adalah seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kesembilan: Sopan terhadap ulama-ulama besar

Tidak memandang dirinya sederajat dengan mereka, tapi mengetahui kadar dirinya dibanding mereka, mengakui keunggulan mereka, dan para ulama zamannya yang belajar dari mereka, sehingga ia tidak merendahkan ulama yang bermanfaat bagi Islam hanya karena kekeliruan dan kealpaan kecil, atau ijtihad yang tidak tepat darinya, karena ia tetap mendapat pahala dari ijtihadnya. Juga tidak berani melangkahi kedudukan mereka. Memangnya ulama mana yang tidak pernah salah?!

Said bin Musayyab berkata: “Tidak ada orang mulia, ulama, atau pemimpin kecuali pasti punya kekurangan. Tapi ada orang yang kekurangannya tidak perlu disebut karena keutamaannya lebih banyak, kekurangannya dimaklumi karena keutamaannya.” (Kitab Kifayah Fi Ilmi ar-Riwayah karya Khatib Al-Baghdadi).

Adz-Dzahabi berkata dalam Mizan Al-I’tidal: “Tidak setiap orang yang punya bid’ah, khilaf, atau dosa lantas dicela dengan hal yang melemahkan kredibilitas riwayat hadisnya. Bukan syarat menjadi perawi yang terpercaya, harus terbebas dari dosa dan kesalahan.”

Sekarang, meskipun kita telah membahas beberapa sisi dan bentuk dari makna “pengetahuan seseorang terhadap dirinya”, tapi kita harus mengakui bahwa kita belum sepenuhnya membahas tema ini dengan seutuhnya. Kita baru membahas dua persen dari penjelasannya. Oleh karenanya, kami himpun di sini beberapa khutbah lain yang membahas poin-poin lain dari tema ini, semoga bisa menyempurnakan pembahasannya.

 

Sumber:

https://khutabaa.net/ar/article/رحم-الله-امرأ-عرف-قدر-نفسه-خطب-مختارة

Sumber artikel PDF

Flashdisk Video Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28