Oleh: Dr. Manal Muhammad Abu al-Azaim
Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga tercurah selalu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Amma ba’du:
Kegalauan adalah salah satu perasaan yang biasanya banyak menimpa seseorang ketika sedang mengkhawatirkan sesuatu yang ia sukai, ia pedulikan, atau yang ia takutkan. Kegalauan telah banyak melanda manusia pada zaman ini sehingga menjadi penyakit yang paling banyak menjangkiti masyarakat dunia.
Hal ini disebabkan oleh semakin beratnya tekanan dan tanggung jawab hidup. Kehidupan manusia pun semakin cepat seiring dengan kesibukan bekerja, mengejar materi, dan mengumpulkan harta..
Kegalauan jenis ini adalah kegalauan yang mayoritas terjadi di negeri Barat. Adapun di negeri Islam, kegalauan jenis ini bercampur dengan kegalauan terhadap berbagai aspek kehidupan sosial yang beraneka ragam dan hal-hal penting yang menyertainya.
Dengan demikian, kegalauan mereka biasanya tidak hanya terbatas pada urusan materi saja. Hal ini karena kaum Muslimin memiliki akhlak yang tinggi sehingga aspek materi tidak menjadi fokus utama bagi mayoritas mereka.
Selain itu, mereka juga masih memiliki perhatian besar terhadap keluarga dan anak-anak mereka. Bahkan, hingga kini, mereka masih cukup kuat dalam mempertahankan keutuhan dan keharmonisan keluarga.
Kenikmatan ini tidak lagi dimiliki oleh orang-orang Barat. Keluarga mereka menjadi berantakan. Setiap anggota keluarga hanya peduli dengan diri sendiri dan harta yang ia kumpulkan sehingga mereka tidak lagi saling menanyakan urusan orang tua dan anak mereka.
Segala puji bagi Allah atas kenikmatan Islam dan atas keberadaan kaum Muslimin.
Galau atas Urusan Dunia dan Rezeki
Adapun kegalauan atas urusan dunia, maka hampir tidak akan terlepas dari hati manusia, baik itu seorang Muslim maupun non-Muslim. Bagi seorang Muslim, sudah menjadi tabiatnya merasa galau terhadap urusan kehidupannya yang dianggap penting, seperti pernikahan, anak-anak, dan harta. Ia juga galau terhadap pekerjaannya dan segala hal yang berkaitan dengannya.
Demikian juga, ia galau tentang membeli rumah untuk keluarganya, pengaturan biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya, serta pencapaian akademik anak-anaknya di sekolah maupun universitas.
Ia juga galau terhadap kesehatan kedua orang tuanya, anak-anaknya, urusan pengobatan mereka, serta hal-hal lain yang menjadi tanggung jawabnya, termasuk berbagai masalah keluarga, keuangan, dan sosial lainnya.
Namun, jangan sampai kegalauan ini menguasai dirinya, melalaikannya dari ketaatan kepada Allah, dan kegiatannya sehari-hari. Sebab, rezeki telah ditetapkan, ajal juga telah ditentukan, dan seluruh urusan adalah milik Allah.
Jangan sampai ia galau atas rezekinya hingga pada batas menguasai dirinya dan merusak kehidupannya karena rezekinya telah ditetapkan baginya sejak sebelum ia lahir. Rezeki akan mengejarnya dan telah dijamin oleh Tuhan seluruh makhluk.
Oleh sebab itu, hendaklah ia berusaha meraih rezeki dengan cara yang memungkinkan baginya, lalu bertawakal kepada Allah dan meminta kepada-Nya agar diberi keluasan dan kemudahan rezeki. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Hud: 6).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam wujud nutfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqah (gumpalan darah) selama itu juga, kemudian menjadi mudghah (gumpalan daging) selama itu juga.
Kemudian diutus satu malaikat, dan meniupkan ruh kepadanya, dan malaikat itu diperintah untuk menulis empat kalimat (perkara): dia menulis tentang rezekinya, ajalnya, amalannya, dan (apakah) ia termasuk orang yang sengsara atau bahagia.”
(HR. al-Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643 dalam hadis panjang, dan dengan sedikit perbedaan redaksi).
Solusi Masalah Kegalauan
Solusi bagi masalah galau adalah bertawakal kepada Allah setelah berusaha. Selain merupakan perkara yang berhubungan dengan Allah, tawakal juga menjadi kalimat kunci untuk mengurai keruwetan akibat kegalauan.
Dengan bertawakal, seseorang telah melepaskan beban kegalauan dan kerisauannya, dan membiarkannya diatur oleh Allah yang telah ia mintai pertolongan untuk menghilangkan kesusahannya, memenuhi kebutuhannya, dan mengaruniakan pertolongan kepadanya.
Hal ini harus dilakukan setelah mengerahkan usaha maksimal dan memanjatkan doa. Allah Ta’ala berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu.” (QS. At-Talaq: 2–3).
Allah Ta’ala telah menjamin semua hal ini untukmu. Jadi, janganlah kamu galau. Sebaliknya, lakukanlah segala usaha yang kamu mampu, lalu bertawakallah kepada Allah Yang Mahahidup dan Maha Mengurus segala hal.
Berdoalah kepada-Nya agar mendapatkan rezeki yang luas dan penuh berkah. Lupakanlah kegalauanmu dan tenangkanlah pikiranmu.
Kita semua hanyalah hamba Allah dan salah satu makhluk-Nya di antara jutaan makhluk yang Dia ciptakan. Kita tidak dapat mengatur sedikit pun urusan kita. Jika kamu dapat meraih apa yang kamu inginkan, bersyukurlah kepada Allah.
Namun, jika Allah tidak memberi apa yang kamu inginkan, bersabarlah dan harapkanlah pahala dari ujian itu. Dengan demikian, teruslah berusaha, berdoa, dan bertawakal.
Janganlah kamu mencela diri sendiri jika terjadi hal-hal yang tidak kamu sukai, seperti hartamu terkuras, kamu kehilangan pekerjaan, anakmu sakit, atau kamu tidak dapat meraih apa yang kamu inginkan.
Sebab, hal yang tidak kamu sukai itu terjadi bukan karena kehendakmu atau penolakanmu terhadap urusan dunia, melainkan karena kehendak Allah Ta’ala.
Bersabarlah atas kehilangan yang kamu alami dan percayalah bahwa Allah akan menggantinya untukmu, baik pada masa mendatang maupun kelak di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Saya takjub dengan urusan orang yang beriman, sungguh seluruh urusannya itu baik; apabila dia mendapat apa yang dia inginkan, maka dia memuji Allah, dan itu baik baginya;
Apabila dia tertimpa hal yang tidak dia sukai, maka dia bersabar, dan itu juga baik baginya. Tidak semua orang seluruh urusannya baik, kecuali orang beriman.”
(HR. Imam Ahmad no. 23920 dalam hadis yang panjang dengan sedikit perbedaan redaksi. Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim no. 2999 dengan redaksi yang serupa).
Oleh sebab itu, pujilah Allah atas pemberian dan penghalangan-Nya, atas kebaikan dan keburukan, atas kekayaan dan kemiskinan, atas kemuliaan dan kehinaan, atas kekuatan dan kelemahan, atas kesehatan dan penyakit, serta atas segala hal dan kebalikannya. Bagi Allah segala puji di dunia dan di akhirat.
Dunia ini hanyalah beberapa saat dan segera berlalu. Kita di sini hanyalah tamu atau musafir saja. Namun, selayaknya kita tidak membiarkan perjalanan ini berlalu begitu saja tanpa memanfaatkannya dengan baik.
Oleh sebab itu, janganlah seseorang hanya duduk dan mengira bahwa rezeki akan datang menghampirinya. Janganlah ia mengira dengan melalaikan ibadah-ibadahnya, ia bisa masuk surga, atau hanya tidur, lalu mengharapkan kesuksesan, dan seterusnya.
Ia harus tetap berusaha keras dan bertawakal kepada Allah. Inilah sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para nabi lain sebelum beliau.
Kegalauan yang Terpuji
Hendaknya yang menjadi kegalauan terbesar orang beriman adalah ketakutannya terhadap azab Allah di akhirat. Kegalauan seperti ini merupakan sesuatu yang terpuji dan dianjurkan karena rasa aman dari azab Allah bukan termasuk sifat orang-orang beriman.
Orang beriman akan terus merasa khawatir hingga berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman:
“Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 99).
Rasa takut adalah bagian dari keimanan. Bahkan, keimanan itu berdiri di atas dua kaki, yaitu ketakutan dan harapan. Dua hal ini akan mendorong seorang mukmin untuk beramal saleh.
Seorang mukmin akan bersedih atas kemaksiatan-kemaksiatannya, dan akan takut dan galau terhadap akibat-akibatnya. Inilah di antara hal yang dapat membantunya untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila kebaikanmu membuatmu bahagia dan kejelekanmu membuatmu sedih, maka kamu adalah seorang mukmin. Lalu, orang yang bertanya itu bertanya lagi, ‘Apa itu dosa?’ Beliau menjawab, ‘Apabila ada gejolak dalam dirimu (saat hendak melakukan sesuatu) maka tinggalkanlah itu.’”
(Disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Hidayah ar-Ruwah, hlm. 42. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad, jilid 5, hlm. 252, dan lafaz tersebut berasal dari riwayatnya. Diriwayatkan juga oleh Imam ath-Thabrani dalam kitab al-Kabir, jilid 8, hlm. 138, serta Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, jilid 2, hlm. 16, dengan sedikit perbedaan redaksi).
Kegalauan seorang mukmin tidak akan mereda kecuali dengan menaati Allah dan memperbanyak ketaatan kepada-Nya. Sebagai contoh, ketika seseorang berdiri untuk salat, ia merasa tenang dan tenteram.
Setelah puasa sunah atau mengeluarkan sedekah, ia merasakan kebahagiaan karena telah mengalahkan kebakhilan, kemalasan, dan pembangkangan dirinya. Ia juga merasa bahagia atas taufik yang Allah berikan kepadanya untuk menyelesaikan ketaatan yang dapat menambah pahalanya di akhirat.
Di antara hal-hal lain yang dapat meringankan kegalauan seorang mukmin adalah:
- membaca ayat-ayat Al-Qur’an tentang kabar gembira dan janji Allah bagi orang-orang beriman;
- tidur dan beristirahat;
- menghindari begadang dan larut dalam permainan dan kenikmatan dunia;
- memperbanyak zikir kepada Allah, tobat, dan istigfar;
- fokus pada amalan-amalan hati dan perbaikannya;
- menautkan hati dan kecintaan kepada Allah;
- membaca Al-Qur’an dan banyak berinteraksi dengannya dengan menghafal dan murajaah;
- mengurangi interaksi dengan orang lain sehingga ia dapat menikmati waktu-waktu terbaiknya untuk bermunajat kepada Allah dan berdiri di hadapan-Nya dengan penuh ketundukan, tangisan, dan penyesalan atas dosa-dosanya, amal saleh yang banyak dilewatkan, serta kelalaian dan sedikitnya amal baiknya.
Allah Ta’ala berfirman:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Dengan semua hal tersebut dan disertai tawakal, seorang mukmin dapat terbebas dari kegalauannya. Jiwanya menjadi tenteram karena mengingat Allah dan senantiasa merindukan-Nya.
Keadaan ini juga akan memberinya harapan untuk dapat selamat, meskipun diliputi rasa takut kepada Allah sampai kelak ia berjumpa dengan-Nya. Kemudian, ketika ajal tiba, malaikat akan mencabut jiwanya yang tenteram, yang menanti kabar gembira dari janji Allah. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30).
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala keamanan dan ketenteraman pada hari kiamat serta memohon agar Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang keadaannya pada hari itu sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
“Kejutan yang dahsyat tidak membuat mereka merasa sedih, dan para malaikat akan menyambut mereka (dengan ucapan), ‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu!’” (QS. Al-Anbiya: 103).
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, serta keluarga dan seluruh sahabat beliau.
Sumber:
