Oleh: Adnan bin Salman ad-Duraiwisy
Kebutuhan para pemuda terhadap keseimbangan mental pada zaman ini semakin terasa, karena masa remaja termasuk masa yang paling banyak terjadinya gejolak mental. Di lingkungan mereka terdapat hiruk-pikuk kehidupan, percepatan berbagai peristiwa, dan tumpang tindih berbagai harapan serta tuntutan. Pada akhirnya, banyak dari mereka yang hidup dengan penuh kesibukan, tapi hati mereka kosong dari ketenangan.
Yang dimaksud dengan keseimbangan mental adalah pemuda hendaknya hidup dalam harmoni antara apa yang diyakini dan apa yang dilakukan, apa yang dirasakan dan apa yang diterapkan, serta apa yang diinginkan dan apa yang mampu ditanggung, juga dalam harmoni antara tuntutan jiwa, kebutuhan raga, dan tuntunan akal. Apabila keharmonian ini mengalami gangguan, maka timbullah kecemasan, pikiran semakin kacau, fokus menjadi hilang, seorang pemuda akan kacau akal dan hatinya tanpa tahu kapan itu akan berakhir, di titik mana itu akan berakhir, dan bagaimana bisa sampai ke titik akhir. Oleh karena itu, hadirlah arahan Al-Qur’an dengan begitu jelas yang tertuang dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); itulah fitrah Allah yang telah Dia ciptakan manusia di atasnya.” (QS. Ar-Rum: 30).
Lurus di atas jalan yang benar bukan hanya keteguhan dari penampilannya saja, tapi berupa kelurusan batin yang mengembalikan jiwa menuju fitrahnya dan memberikan hati keseimbangannya.
Wahai saudaraku! Banyak pemuda hari ini yang menderita penyakit kekurangan ambisi dan cita-cita, juga mengalami banyak tekanan, khawatir masa depan, sikap membanding-bandingkan diri dengan orang lain, ekspektasi keluarga dan masyarakat yang terlalu tinggi, pertentangan antara keinginan dan kewajiban, dan kontradiksi antara nilai-nilai dan kenyataan. Semua itu menimbulkan kecemasan mental, kecuali jika pemuda itu mempunyai pedoman yang ia pakai sebagai rujukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan berzikir mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Zikir di sini bukanlah sekedar ucapan, tapi harus selalu dengan menghadirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam sikap, perilaku, dan niat. Apabila hati telah dipenuhi makna ini, maka gejolak batin akan mereda, kegelisahan akan berkurang, dan keseimbangan berangsur tercipta.
Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah menjadi contoh paling agung dalam keseimbangan jiwa dan mental, beliau mengemban tugas dakwah, tapi tidak lupa tersenyum, menghadapi banyak gangguan, tapi tidak kehilangan rasa kasih sayangnya, beliau merupakan pemimpin umat, tapi tetap duduk bersama anak-anak kecil, menangis dalam salat, dan beramah-tamah dengan keluarga.
Ketika ada seorang sahabat yang datang kepada beliau mengeluhkan kegelisahan hatinya, beliau bersabda kepadanya:
“Sesungguhnya agama ini mudah. Tidaklah seseorang mempersulit diri dalam beragama kecuali agama itu akan mengalahkannya. Maka bersikaplah lurus dan tepat, atau setidaknya dekatilah ketepatan, bergembiralah, dan mintalah pertolongan (untuk beramal) dengan memanfaatkan waktu pagi, petang, dan sebagian waktu malam.” (HR. Al-Bukhari).
Yakni janganlah kalian membebani diri kalian dengan sesuatu yang tidak kalian mampu, karena konsistensi lebih penting daripada amalan berlebihan di satu waktu.
Dalam hadis berkaitan dengan Salman Al-Farisi dengan Abu Ad-Darda Radhiyallahu ‘anhuma, disebutkan juga bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
“Sesungguhnya dirimu memiliki hak yang harus kamu penuhi, Tuhanmu memiliki hak yang harus kamu tunaikan, tamumu memiliki hak yang harus kamu penuhi, dan keluargamu pun memiliki hak yang harus kamu tunaikan. Maka berikanlah kepada setiap pemilik hak akan haknya.” (HR. At-Tirmidzi).
Ini merupakan pondasi yang agung dalam membangun keseimbangan mental, karena apabila jiwa dilalaikan maka ia akan mengalami gangguan, dan raga yang terlalu lelah maka kelelahan itu akan berpengaruh terhadap jiwa.
Wahai pemuda yang diberkahi! Agar seorang pemuda dapat membangun keseimbangan mental, maka ia harus melakukan hal-hal berikut:
- Jujur terhadap diri sendiri, yaitu seorang pemuda harus mengakui kondisi lelahnya, alih-alih menepisnya, karena mengingkari kondisi ini merupakan awal dari keruntuhan mental.
- Berpegang teguh pada pedoman, apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah menjadi pedoman tertinggi, maka carut-marut dari banyaknya pilihan yang ada dalam hidup juga akan tertata.
- Mengatur program-program harian, tanpa berlebihan dalam bekerja dan melalaikan istirahat.
- Mengelola perasaan, alih-alih menekannya, karena agama Islam tidak menggugurkan perasaan, tapi meluruskan dan mengarahkannya.
- Bergaul dengan teman yang baik, karena hati akan lebih seimbang jika dikelilingi dengan hati yang punya kesadaran.
Wahai para pemuda dan pemudi! Keseimbangan mental bukanlah dengan lenyapnya rasa sakit sepenuhnya, tapi berwujud kemampuan untuk menanggung rasa sakit tersebut tanpa menumbangkan kita, tidak juga dengan kehilangan rasa takut, tapi ketakutan kita terkendali dengan iman, tidak juga dengan kehidupan kita terbebas dari gejolak, tapi hati kita selalu dalam rasa aman. Sebab, siapa yang seimbang mentalnya, akan lurus tampilan luarnya, siapa yang hatinya terjaga maka akan damai anggota badannya, siapa yang mengetahui jalan ketenangan maka penuh sesaknya jalan tidak akan menyesatkannya. Oleh sebab itu, jadikanlah hati kalian termakmurkan, jiwa kalian terdamaikan, dan langkah kalian penuh keyakinan, karena dengan keseimbangan mental, kehidupan yang nyata akan dimulai.
Akhir kata, tanyakanlah kepada diri kalian, hal apa yang paling menimbulkan kecemasan bagimu pada hari-hari ini? Apa sikap yang kamu ketahui banyak mengganggumu tapi justru sering kamu ulangi? Dan hal apa yang seandainya kamu benahi saat ini, maka kehidupanmu akan segera membaik?
Wahai saudaraku! Bantulah dirimu untuk melihat masalah-masalahmu dengan jelas, agar terbuka pintu menuju perubahan mental yang nyata.
Sumber:
https://www.alukah.net/social/0/182025/الشباب-والتوازن-الداخلي/1/شباب/
