Oleh:
Amir Al-Khamisi
Di antara bait yang kami hafal dari salah satu guru kami adalah:
Ada enam hal yang akan mengiringi kita di masa tua: Berjalan dengan tertatih-tatih layaknya bayi belajar melangkah,
Menurunnya pendengaran dan penglihatan. Rendahnya nafsu makan ketika hidangan telah disajikan.
Tertidur di tengah orang banyak bukan karena begadang. Serta sering lupa, dan ini ujian terberat dan terpahit yang menghadang.
Bait-bait ini merangkum dengan begitu mengena keadaan manusia ketika telah berusia senja dan mencapai usia renta. Panca indera mulai melemah, badan kembali ke kondisi seperti di awal hidupnya saat masih bayi, lemah tak berdaya, membutuhkan orang yang dapat melayaninya dan mengurusi urusannya. Al-Qur’an Al-karim telah mengisyaratkan kenyataan ini dalam firman-Nya:
“Siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia pada kejadiannya (menjadi lemah kembali).” (QS. Yasin: 68).
Yakni barang siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala panjangkan umurnya niscaya akan melalui fase penurunan dan kelemahan setelah fase kuat, fase jompo setelah fase muda, sehingga ia teringat bahwa kondisi yang tetap adalah sesuatu yang mustahil, kesehatan dan masa muda tidak berlangsung selamanya, dan ujung yang pasti adalah menuju kelemahan dan ketergantungan kepada rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Apabila kita melihat kondisi orang yang telah sepuh, kita akan menemukan bahwa hal pertama yang tampak padanya adalah kelemahan gerakan dan tertatih saat berjalan. Ia tidak mampu lagi berjalan dengan leluasa seperti saat masih muda, bahkan sekarang membutuhkan tongkat atau tuntunan orang lain. Seakan-akan siklus kehidupan kembali ke permulaan saat ia masih bayi, berjalan mengayunkan langkah-langkah pertamanya.
Kemudian mulai timbul penurunan pendengaran, tidak mampu lagi mendengarkan suara dengan jelas, harus mengeraskan suara atau meminta orang lain mengulangi ucapannya. Ia merasa asing dari orang lain, tapi di saat yang sama ia mulai menemukan pelipur lara dan hiburan dalam menyimak zikir dan bacaan Aal-Qur’an, seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang mengarahkannya kepada hal yang lebih penting daripada hingar-bingar dunia.
Bersamaan dengan penurunan pendengaran, menurun juga kemampuan penglihatan, sehingga ia tidak dapat melihat segala sesuatu seperti halnya dulu ia melihatnya. Sering kali ia membutuhkan kacamata, atau tidak mampu lagi membaca dan menulis. Ia akhirnya menyadari bahwa pandangan nurani lebih penting daripada pandangan mata, dan cahaya hati dari keimanan sudah cukup menggantikan cahaya mata apabila telah sirna.
Seiring dengan bertambahnya usia, nafsu makan seseorang akan berkurang, tidak mampu lagi makan dengan lahap dan banyak seperti pada masa mudanya dulu. Hal ini menurunkan keterkaitannya dengan dunia, membuatnya lebih condong kepada sikap zuhud dan puas dengan yang sedikit. Ia menjadi sadar bahwa nutrisi jiwa dengan keimanan dan amal saleh itu jauh lebih penting.
Orang yang sudah berusia senja juga lebih mudah tertidur, sehingga ia tidak mampu begadang lama. Ia sering mengantuk di majelis-majelis. Kondisi ini merupakan efek dari kebutuhan tubuhnya untuk beristirahat. Ini mengingatkannya bahwa tidur merupakan gambaran kecil dari kematian yang semakin dekat, sehingga keyakinannya semakin kuat tentang singkatnya dunia dan cepatnya sirna.
Kemudian muncul juga masalah sering lupa. Ini adalah masalah paling berat yang dihadapi lansia, ia mulai lupa nama-nama dan peristiwa. Bahkan mungkin ia lupa orang terdekatnya. Lupa ini sangat menyakitkan hati, tapi di sisi lain juga merupakan rahmat, karena dapat meringankan hatinya dari beratnya kenangan-kenangan, membuatnya lebih siap untuk berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan lebih ringan dalam memikirkan keresahan-keresahan dunia.
Meskipun manusia kehilangan fungsi panca indera dan kekuatan pada fase ini, ia tetap membawa sisi keindahan tertentu, ia lebih mendekatkannya kepada Tuhannya dengan penuh ketenteraman dan ketenangan, membuatnya lebih memahami nilai waktu, lebih bersemangat untuk beribadah, karena ia sadar bahwa umurnya yang tersisa tidak lagi banyak. Di sinilah tampak makna hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, dan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu.”
Masa muda dan sehat tidak akan langgeng seterusnya, tapi amal saleh yang akan kekal hasilnya, terus menjadi saksi bagi orang yang mengamalkannya hingga setelah kepergiannya. Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa berdoa:
“Ya Allah, berilah kenikmatan kepada kami dengan pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami, dan jadikanlah itu sebagai warisan dari kami (tetap ada pada kami sampai kami wafat).”
Doa ini mencerminkan kesadaran beliau terhadap pentingnya nikmat-nikmat tersebut, permintaan beliau kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar itu semua dapat terus terjaga hingga akhir usia, dan menjadikannya tetap ada setelah kepergiannya.
Dengan demikian, masa tua bukan sekedar kelemahan, tapi juga fase ujian dan kesabaran. Di dalamnya tersingkap makna tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ridha dengan ketetapan-Nya. Ia juga mengingatkan manusia tentang hakikat dunia yang merupakan tempat singgah, bukan tempat menetap, dan akhir yang sebenarnya adalah saat berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kehilangan panca indera bukan suatu kerugian mutlak, tapi perpindahan dari kebergantungan terhadap dunia menuju keterpautan dengan akhirat. Itu merupakan pengingat setia bahwa manusia sebesar apapun kekuatan dan kesehatannya, ujungnya tetaplah menuju kelemahan, dan yang benar-benar tersisa baginya adalah amal salehnya dan peninggalan-peninggalan baiknya.
Fase jompo merupakan pemberhentian terakhir dalam perjalanan hidup manusia. Ketika itu ia akan kehilangan banyak indera dan kekuatannya, tapi juga akan mendatangkan kedekatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ketenangan jiwa. Fase ini adalah seruan untuk menghayati nikmat masa muda dan kondisi sehat, serta pentingnya memanfaatkan nikmat ini sebelum lenyap. Bergembiralah orang yang memahami hakikat ini dan menyiapkan diri menjalani fase tersebut dengan amal saleh, agar masa tuanya menjadi cahaya alih-alih kegelapan, menjadi ketenangan alih-alih ketakutan, dan agar akhir usianya menjadi saksi atas ketulusannya dalam berjalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika ia berjumpa dengan Tuhannya dan catatan amalannya telah digulung dengan amal saleh, nama yang terpuji, dan peninggalan yang kekal di dunia setelah kepulangannya.
Sumber:
