Oleh: Aryaf at-Tamimi
Semua akan berakhir!
Ya, semuanya akan berakhir. Engkau akan meninggalkan dunia ini sendirian, tanpa orang terkasih, tanpa teman, tanpa kerabat, tanpa harta. Bahkan, pakaian yang dahulu tidak pernah kamu tinggalkan pun akan engkau tinggalkan. Begitu pula dengan uang yang dahulu tidak terpikir untuk engkau belanjakan karena engkau memilih untuk menabungnya. Engkau akan meninggal dunia sendirian tanpa lembaran-lembaran kertas yang berisi impian dan cita-citamu di dunia yang fana ini. Semuanya akan berakhir, segalanya akan berakhir. Tidak ada yang tersisa bagimu kecuali amal salehmu dan mungkin juga anak saleh yang mendoakanmu.
Setiap menit yang engkau lalui saat ini bisa menjadi sebab kelapangan dan ketenangan di alam kuburmu, atau justru menjadi sebab kesempitan dan azab. Oleh karena itu, manfaatkanlah setiap waktumu dan awasilah dirimu.
Perhatikanlah lisanmu!
Apakah lisanmu mengucapkan ucapan keji? Apakah menggunakannya untuk gibah dan namimah? Apakah membicarakan hal yang tidak bermanfaat, sementara kamu meninggalkan zikir kepada Allah, selawat kepada Rasulullah, istighfar, tasbih, dan kalimat yang bermanfaat bagi dirimu, masyarakatmu, dan umatmu?
Bagaimana dengan perkataan yang baik yang engkau sampaikan kepada seorang mukmin yang dapat menghadirkan kebahagiaan dan ketenteraman di hatinya? Atau kalimat bermanfaat yang engkau tanamkan di hati anak kecil sebagai pelajaran yang berharga sepanjang hayatnya? Bagaimana pula dengan mengucapkan satu kalimat atau satu ayat dari Kitabullah?
Teruslah jaga lisanmu! Ingatkan ia bahwa ada alam kubur yang menantinya. Ingatkan ia bahwa cacing akan memakannya. Ingatkan ia agar bertakwa kepada Allah dan tidak menjerumuskan dirimu dan orang lain ke dalam jurang neraka. Sebaliknya, ia harus menuntun kalian berdua ke taman surga.
Perhatikan juga akalmu!
Ke mana engkau menggiring pikiranmu? Apakah menuju prasangka baik kepada orang-orang beriman? Mencari jalan-jalan kebaikan? Merenungkan nikmat-nikmat Allah? Mengawasi perbuatan dan perkataan yang berada di bawah kendalimu, berusaha mengendalikan semuanya dan mengarahkannya kepada kebaikan, keimanan, serta rasa takut kepada Allah?
Atau justru hanya sibuk merencanakan urusan dunia: bagaimana cara mendapatkannya, bagaimana cara menambahnya, dan bagaimana cara untuk terus menjaganya? Kesibukan itu justru membuatmu merasa tidak puas dengan nikmat yang telah Allah karuniakan kepadamu, menganggapnya terlalu sedikit dan cepat habis. Lalu, engkau tetap saja berkata, “Andai saja aku memiliki apa yang dimiliki si fulan!”
Jangan lupakan hatimu!
Bersihkanlah ia dari segala kedengkian, hasad, kebencian, dan kelalaian! Ingatkanlah ia dengan kesendirian yang sedang menantinya, kesendirian di alam kubur! Adakah kesendirian yang lebih mengerikan daripada itu?! Guncanglah hatimu dengan kedua tanganmu sambil terus mengatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah! Bertakwalah kepada Allah! Bertakwalah kepada Allah!”
Tidak masalah apakah umurmu baru dua puluhan atau sudah tujuh puluhan. Waktu pertemuanmu dengan akhirat bisa jadi sudah dekat. Oleh karena itu, siapkanlah dirimu untuk menghadapinya. Ia bisa datang kapan saja dan tidak akan lama lagi. Percayalah, waktunya tidak akan lama lagi! Bahkan, bisa jadi sudah benar-benar sangat dekat.
Tahukah engkau, mereka yang kelak akan menguburmu akan melupakanmu? Orang-orang, yang demi menyenangkan hati mereka engkau berani berbuat dosa, juga akan melupakanmu. Mereka tidak akan menanggung beban dosa yang kamu lakukan demi menyenangkan hati mereka. Engkaulahlah yang akan menanggungnya seorang diri.
Engkau akan berada dalam kesendirian. Tidak akan ada yang dapat menenangkan kesendirianmu kecuali ayat-ayat Al-Qur’an yang engkau baca di salah satu malam yang gelap gulita, lalu air matamu bercucuran deras, atau amal saleh yang dengannya engkau mengharapkan rida Allah dan menjalankan tujuan penciptaanmu, yakni beribadah kepada Allah.
Orang-orang mungkin memancing amarahmu hingga engkau melakukan kesalahan karena emosi dan mengabaikan akal, kebijaksanaan, serta nurani. Kemudian, engkau mencela mereka dan mengira merekalah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatanmu itu. Saya sampaikan kepadamu bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi. Engkaulah yang akan memikul tanggung jawab atas perbuatan dan perkataanmu. Engkaulah yang akan menanggung dosa atas perbuatanmu.
Oleh sebab itu, sadarlah kembali. Jangan biarkan apa pun menyeretmu menuju perbuatan yang dapat membahayakan orang yang tidak bersalah atau membuatmu mengucapkan satu kata yang menjatuhkanmu ke dalam neraka sejauh tujuh puluh tahun. Apabila suatu ketika hal itu terjadi saat engkau lalai, bersegeralah kembali kepada Allah, mohonlah ampun, dan ambillah pelajaran darinya.
Jangan terlalu larut dalam kenikmatan dunia hingga engkau melupakan akhirat. Sebaliknya, lebih fokuslah terhadap akhirat. Ingatlah akhirat setiap kali engkau melakukan dosa, setiap kali engkau menyia-nyiakan waktu, setiap kali hatimu dengki terhadap seseorang atas karunia yang Allah berikan kepadanya. Ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan carilah pada apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77).
Perbaikilah niatmu!
Tahukah engkau bahwa dengan meluruskan niat, segala sesuatu dalam hidupmu bisa berubah? Setiap pagi engkau terbangun untuk pergi bekerja. Mengapa? Apakah karena hal itu merupakan kewajiban yang harus kamu lakukan? Apakah karena semua orang melakukannya sehingga engkau juga harus melakukannya? Ataukah karena engkau butuh uang?
Renungkanlah bagaimana agar semua yang engkau lakukan ini dapat bermanfaat bagimu setelah kehidupan dunia berakhir! Bangunlah bukan karena semua orang juga melakukannya, bukan pula semata-mata untuk mencari uang. Akan tetapi, bangunlah karena engkau akan pergi mencari nafkah yang halal dan menghindari yang haram, mendekatkan diri kepada Allah dengannya.
Ingatlah bahwa setiap suapan yang engkau hidangkan untuk istrimu merupakan sedekah yang dapat mendekatkanmu kepada Allah. Engkau mencari nafkah agar bisa memberi makan istri dan anak-anakmu sehingga yang engkau lakukan itu adalah ibadah yang mendekatkanmu kepada Allah, asalkan engkau ikhlas. Jika demikian, ikhlaskanlah niat! Betapa menyedihkannya jika engkau tidak memetik buah dari segala kerja kerasmu itu di akhirat kelak karena engkau lupa menetapkan niat yang benar.
Ingatlah juga, wahai saudariku! Ketika engkau pergi menuntut ilmu, ingatlah bahwa “siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” Maka, ikhlaskanlah niatmu hanya karena Allah.
Periksa kembali pola pikirmu, amalanmu, niatmu, ucapanmu, dan besitan hatimu. Apakah semua itu membantumu mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat? Ataukah justru melalaikanmu dari persiapan menyambut akhirat dan semakin menjauhkanmu darinya?
Ingatlah ucapan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu,
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah), karena ini dapat meringankan hisab kalian kelak. Timbanglah diri kalian sebelum (amalan) kalian ditimbang, dan perbaikilah diri untuk hari ditampakkan kembali seluruh amalanmu.
‘Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah); tidak ada sesuatu pun dari dirimu yang tersembunyi.’ (QS. Al-Haqqah: 18).” (Atsar dari Umar bin Khattab dengan sanad yang lemah).
Mintalah pertolongan kepada Allah, bertawakallah kepada-Nya, dan jangan lemah! Ingatlah bahwa kamu masih berada di dunia ini, sehingga masih ada kesempatan untuk berubah. Pintu tobat masih terbuka.
Kembalilah kepada Allah sebelum terlambat. Kembalilah kepada-Nya dan Dia akan menyambutmu bagaimana pun keadaanmu! Kembalilah kepada-Nya dan Dia akan mengampunimu! Setiap kali kamu mendekatkan diri kepada-Nya, Dia akan lebih mendekat kepadamu. Dialah Allah yang telah berfirman sebagaimana yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis qudsi:
“Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari kecil.”
Engkau akan wafat, aku akan wafat, dan kita semua akan wafat. Segala sesuatu yang ada di dunia ini fana. Jangan sampai hari-hari yang berlalu membuatmu lupa terhadap kenyataan ini. Sebaliknya, jadikanlah kematian selalu di hadapan matamu. Kembalilah kepada Allah dan ikhlaskanlah niat hanya untuk Allah. Berdoalah selalu kepada Allah agar menjadikan kuburmu sebagai salah satu taman surga, bukan sebagai salah satu lubang neraka.
***
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/0/140348/تذكر-أن-هذه-الدنيا-فانية/
