Oleh: Salim Muhammad Ahmad

Ilmu syar’i merupakan cahaya yang mengeluarkan para penempuh jalannya dari gelap gulitanya kebodohan. Ia adalah pelita yang menjadi petunjuk orang-orang yang hilang arah menuju jalan yang benar. Ia adalah warisan agung yang ditinggalkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat besar.” (HR. Abu Dawud no. 3641).

Allah menjadikan ilmu sebagai landasan derajat seseorang dan tolak ukur untuk membedakan kedudukannya di antara makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“…Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Dengan iman, seorang hamba meraih derajat yang tinggi di sisi Tuhannya. Dengan ilmu yang diiringi dengan amal, kedudukan kaum mukminin berbeda-beda, baik di dunia maupun di akhirat. Suatu umat tidak akan mampu bangkit dan seorang individu tidak akan mampu menegakkan urusan agama dan dunianya, melainkan dengan ilmu. Lantas, bagaimana lagi jika ilmu itu adalah ilmu syar’i yang menuntun manusia kepada Allah, mengenalkannya pada hakikat kehidupan, menyingkap tujuan penciptaan baginya, dan dengannya Allah menunjukkan jalan yang lurus kepadanya?!

Ilmu Syar’i dan Tujuan Terbesar

Muslim sejati memahami bahwa kehidupannya bukanlah main-main dan senda gurau, tetapi ibadah kepada Allah dan perjuangan menuju keridaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). 

Ilmu syar’i merupakan sarana yang menunjukkan kepadanya bagaimana seharusnya menapaki jalan ini. Tanpa ilmu yang bermanfaat, manusia akan terombang-ambing dalam gelap gulita kebodohan yang dapat menyebabkannya terjerumus ke dalam bid’ah yang mungkar atau keyakinan yang menyimpang, sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“siapa yang melakukan amalan yang tidak ada landasannya dalam urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Siapa yang dikehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan membuatnya memahami agama.”

Nabi menegaskan bahwa pemahaman agama merupakan tanda kebaikan dan jalan untuk meraihnya.

Ilmu syar’i membuka pintu-pintu keyakinan dalam hati seorang muslim. Ilmu tersebut menjadikan hatinya tenteram karena keimanannya, mengokohkan akidahnya, membuatnya mengetahui dengan pasti bahwa Allah adalah Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabinya. Ia tidak tergoyahkan oleh syubhat dan tidak tersesatkan oleh fitnah.

 

Antara Ilmu Syar’i dan Ibadah

Tujuan terbesar penciptaan manusia adalah agar manusia beribadah kepada Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Namun, bagaimana seseorang dapat beribadah kepada Allah jika ia tidak mengetahui apa yang dicintai dan tidak dicintai oleh Allah? Bagaimana seseorang dapat menunaikan salat, puasa, haji, dan zakat jika ia tidak mengetahui hukum-hukum agamanya?

Oleh karena itu, melalui ilmu, seorang muslim dapat mengetahui cara menunaikan ibadah dengan apa yang diridai Allah. Ilmu juga akan menjaga ibadahnya dari noda bid’ah dan penyimpangan yang dapat merasuk ke dalamnya akibat kebodohan. Sebagaimana Imam al-Bukhari memberi judul bab dalam kitabnya, “Ilmu harus ada sebelum ucapan dan perbuatan.”

Ilmu itu ibarat pelita yang menerangi jalan. Janganlah seseorang melangkah sedikit pun dalam urusan agamanya tanpa bekal ilmu dan pemahaman yang jelas. Jika tidak, ia akan seperti musafir yang berbekal sekarung pasir yang hanya akan memberatkan dan tidak bermanfaat baginya.

 

Ilmu syar’i merupakan Benteng dari Fitnah dengan Dua Bentuknya (Syubhat dan Syahwat)

Di zaman kita ini, ketika syubhat kian bertebaran, fitnah dan syahwat kian merajalela, ilmu syar’i menjadi perkara darurat dan urgen bagi setiap muslim. Sebab, ilmu dapat menyingkap busuknya kebatilan, menjelaskan kebenaran, dan melindungi hati dari keraguan. Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ

“Dan demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu agar menjadi jelas jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am: 55).

Ilmu yang diiringi dengan amal juga akan menyelamatkan seorang muslim agar tidak tenggelam dalam lautan syubhat atau terseret badai penyimpangan yang dahsyat.

 

Ilmu Syar’i merupakan Kehidupan bagi Hati

Sebagaimana jasad membutuhkan makanan dan minuman agar bisa hidup, hati juga tidak akan hidup kecuali dengan asupan ilmu syar’i. Ia merupakan cahaya yang menerangi jalan seorang hamba di dunia dan akhirat. Ilmu yang bermanfaat akan menanamkan dalam hati rasa takut kepada Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

 إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Al-Fatir: 28). 

Dengan adanya rasa takut kepada Allah, akan lahir ketakwaan. Dengan ketakwaan, seseorang akan mampu menguasai syahwat dan hawa nafsunya, berjalan di atas jalan yang lurus dengan penuh keyakinan akan janji Allah, penuh kesabaran atas ketetapan-Nya, dan penuh harapan terhadap pahala yang ada di sisi-Nya. Lalu ia akan sampai di surga-surga yang seluas langit dan bumi, kekal selama-lamanya di sana dengan izin Tuhannya.

 

Ilmu Syar’i adalah Jalan Dakwah

Berdakwah merupakan salah satu amalan paling agung yang Allah cintai. Namun, bagaimana orang yang tidak berilmu akan berdakwah, menyeru kepada sesuatu yang tidak ia ketahui? Bagaimana ia akan mengajak kepada kebaikan jika ia sendiri tidak mengetahuinya? Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah: Inilah jalanku; aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas (basirah), aku dan orang-orang yang mengikutiku…” (QS. Yusuf: 108).

Dakwah membutuhkan ilmu dan basirah agar dakwah sesuai dengan kebenaran, bukan atas dasar kebodohan dan hawa nafsu. Seorang dai yang membekali diri dengan ilmu akan menjadi pelita yang menerangi jalan bagi manusia, menuntun mereka menuju kebaikan, dan menjauhkan mereka dari sumber-sumber kebinasaan.

 

Mengamalkan Ilmu adalah Buah dari Belajar

Ilmu syar’i bukan hanya sekadar informasi yang dihafal atau perkataan yang diulang-ulang, melainkan sesuatu yang harus diamalkan. Ilmu tanpa diamalkan bagaikan pohon tanpa yang tidak diharapkan manfaatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّىٰ يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ…وَعَنْ عِلْمِهِ: مَاذَا عَمِلَ بِهِ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: (beliau menyebutkan salah satunya) … dan tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan darinya?”

Oleh karena itu, ilmu merupakan tanggung jawab. Siapa saja yang telah mempelajarinya, hendaknya ia mengamalkan dan menyampaikannya kepada orang lain.

Menuntut ilmu syar’i bukanlah sebuah pilihan, tapi sebuah kewajiban sesuai kadar kemampuan.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. al-Baihaqi no. 1667 dalam kitab Syu’ab al-Iman).

Ilmu syar’i merupakan jalan untuk mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya dengan benar. Ia adalah cahaya yang menyinari kehidupanmu. Ia bagaikan senjata yang melindungimu dari berbagai macam fitnah. Ia adalah warisan yang meninggalkan manfaat dan pengaruh bagi umat ini.

Jadikanlah ilmu syar’i sebagai tujuan terbesarmu, sumber kebahagiaan tertinggimu, serta jalanmu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Luangkanlah waktumu untuk menuntut ilmu. Jangan merasa bosan ataupun lelah dalam menjalaninya. Sebab, waktu dan tenaga yang engkau curahkan untuk menuntut ilmu akan mendatangkan pahala yang besar bagimu, baik di dunia maupun di akhirat.

 وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku!’” (QS. Thaha: 114).

Ilmu syar’i adalah salah satu ibadah teragung dan jalan menuju surga Allah.

 

Wahai penuntut ilmu!
Sesungguhnya engkau hidup di zaman yang penuh kemudahan untuk mengakses ilmu pengetahuan. Begitu dekat jarak antara dirimu dengan sumber-sumber ilmu. Engkau tidak perlu mengendarai kuda ataupun mengarungi lautan. Kini lembaran halaman sudah tersedia di hadapanmu, rekaman suara bisa engkau dengarkan, serta internet dan ensiklopedia yang menghimpun ilmu dari generasi terdahulu maupun generasi akhir. Inilah zaman di mana ilmu pengetahuan sudah terhimpun di balik tombol-tombol yang tinggal dipencet sehingga mudah dijangkau oleh siapa pun yang punya niat tulus dan semangat tinggi dalam menuntut ilmu.

Lantas, di mana posisi kita hari ini dibandingkan dengan kafilah-kafilah penuntut ilmu yang dulu harus menempuh perjalanan berhari-hari, bahkan berbulan-bulan demi mendapatkan satu hadis? Di mana posisi kita dibandingkan dengan orang-orang yang harus menanggung beratnya safar dan pahitnya menahan lapar demi mempelajari satu masalah fikih atau tafsir satu ayat?

Dulu mereka harus merasakan kerasnya kehidupan. Mereka menulis ilmu dengan air mata atau bahkan darah di atas lembaran-lembaran kehidupan mereka. Akan tetapi, mereka tetap mampu mencapai puncak keilmuan karena mereka tulus dalam menuntut ilmu karena Allah.

Adapun engkau, apabila pintu-pintu ditutup di hadapanmu, engkau masih punya teknologi. Jika antara dirimu dan ulama terhampar jarak begitu jauh, teknologi modern dapat menghadirkan mereka ke hadapanmu. Sungguh! Teknologi-teknologi ini hanya menjadi kenikmatan bagi orang yang menyambutnya dengan penuh tekad dan semangat. Sebaliknya, ia menjadi musibah bagi orang yang lalai dan lebih memilih yang buruk daripada yang baik.

 

Wahai penuntut ilmu!
Jadikanlah hatimu seperti tanah subur yang menampung air hujan lalu menumbuhkan tanaman. Janganlah engkau menjadikannya seperti batu keras yang tidak tertembus air. Ilmu syar’i merupakan siraman air hujan bagi hati, yaitu rahmat yang Allah turunkan untuk menghidupkan hati yang gersang dan menyegarkan jiwa yang dahaga.

Apabila engkau mendapati semangatmu melemah, ingatlah keutamaan ilmu dan pahalanya. Katakanlah pada dirimu, “Bagaimana mungkin aku akan melewatkan cahaya yang dapat menuntunku di dunia dan menunjukkan kepadaku jalan menuju surga?”

Engkau sedang berada di zaman di mana ilmu berseru kepadamu, “Inilah aku, begitu dekat denganmu, maka mendekatlah dan jangan bermalas-malasan.” Oleh karena itu, tidak ada alasan bagimu jika engkau menyia-nyiakannya. Tidak ada uzur bagimu jika engkau melalaikannya. Bangkit dan bergeraklah! Jadilah bagian dari orang-orang berilmu yang menjadi cahaya bagi pelita umat dan yang meninggikan syiar-syiar agama. Siapa yang menempuh jalan yang benar, pasti akan sampai ke tujuan. Siapa yang ikhlas kepada Allah pasti akan diberi sesuatu melebihi yang ia harapkan dari-Nya.

Sebagai penutup, jadikanlah firman Allah ini selalu di depan matamu:

 وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku!’” (QS. Thahah: 114)

Inilah doa yang meninggikan derajat para nabi. Doa orang yang memahami bahwa bekal teragung untuk menyusuri jalan akhirat adalah ilmu yang membuahkan amal. Oleh sebab itu, peganglah erat-erat cahaya ini dan jangan biarkan gelapnya kebodohan merampas jalanmu menuju kebahagiaan.

 

***

Sumber: 

https://www.alukah.net/sharia/0/173576/العلم-الشرعي-منارة-للطريق-ونور-للقلوب/#_ftnref2 

PDF Sumber Artikel

Flashdisk Video Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28